Jadi Tawanan Preman Galak

Jadi Tawanan Preman Galak
54. Sudah Mati


__ADS_3

"Lo kemarin cerita soal kakak lo ke gue. Maksudnya ngilang gimana?"


Kata kakak membuat ekspresi Suri jadi semakin murung. Dari kemarin, sejak bertemu Dayan, Suri pelan-pelan semakin merasa akan ditinggalkan.


Rasanya seperti Tanjung juga akan pergi persis dengan Arul yang pergi darinya.


Kalau saja hidup sendiri itu susahnya cuma soal uang, Suri rasa ia dari dulu tidak menunggu Arul. Tapi yang paling berat ditinggalkan itu justru sakit hatinya, kan?


Sesak dan sesak setiap hari. Suri sangat benci perasaan sepi itu.


"Dia tiba-tiba enggak pulang," jawab Suri lemah.


"Maksud gue, sebelum dia pergi, menurut lo ada yang aneh?"


".... Enggak. sih." Suri juga bingung. "Tapi, waktu itu Arul jadi sering ngasih gue uang."


"Uang hasil kerja?"


"Hm." Suri mencengkram selimut di dadanya, merasa emosional. "Jujur, gue mikir dia kerja enggak bener. Soalnya Arul enggak sekolah. Kebanyakan dia kerja cuma jadi kuli, ngebengkel segala macem."


Bahkan kalau Arul juga kerja seperti Suri, dari pagi ke menjelang pagi, masih mustahil rasanya dia sering membawa uang banyak.


"Tapi tiba-tiba dia sering ngasih uang, bayar kontrakan mahal. Gue sempet mikir dia mungkin jadi bandar. Tapi dia bilang enggak."


Arul dari kecil bekerja keras untuk Suri. Biar Suri bisa sekolah, Arul berhenti sekolah untuk kerja demi uang sekolah Suri. Bahkan biar Suri tidak diejek teman-teman di sekolah, Arul juga rajin mengajaknya belanja tas, baju, dan lain-lain meskipun itu membuat Arul tidak bisa bersenang-senang sendiri.


Setengah dari diri Suri bilang Aril pergi karena capek. Dia capek harus mengurus Suri padahal dirinya sendiri butuh diurus. Dia sudah bosan berkorban buat adiknya yang bisa menghidupi diri sendiri.


Tapi setengah lagi, entah kenapa merasa Arul bukan meninggalkannya. Dia hanya, entah di mana dan sedang apa, mungkin sedang kesulitan hingga tak bisa pulang.


Itulah alasan Suri selalu menunggunya.


"Sori yah, gue nanya doang. Kalo Kakak lo udah mati?"

__ADS_1


Pertanyaan Ikram sempat membuat Suri tercenung.


Tapi Suri menggeleng. "Belum. Kakak gue masih ada. Dia lagi kerja. Nanti dia pulang."


Walau hanya penyemangat diri sendiri, tapi Suri mau percaya hal itu.


Jawaban yang membikin Ikram tersenyum tak berdaya.


Sayang sekali, Arul sudah mati.


Dua tahun lalu.


Dan orang yang membunuhnya hanya satu orang.


Itu Tanjung.


*


Tanjung menatapnya tak berminat. "Waktu lo di Jakarta cuma sampe nanti malem. Lo masih di sini, gue anggep invasi."


"Ayolah. Gue juga mau balik, kok. Cuma mau ngobrol bentar aja."


Tanjung mendengkus, berlalu biar tidak melihat wajah Dayan. Tak tahu alasannya apa tapi Tanjung tidak menyukai apa pun dari Dayan, terutama wajah menjengkelkannya itu.


Karena sudah tahu karakter Tanjung, Dayan cuma tertawa kecil. Memasukkan tangannya ke saku dan mengikuti langkah pria itu.


"Lo inget kasusnya Arul dua tahun lalu?"


Arul? Tanjung langsung berhenti, karena nama itu familier di telinganya.


Nama pengkhianat yang ia siksa sampai mati. Orang pertama dalam organisasi yang membuat Tanjung kehilangan uang miliaran.


Bos Besar waktu itu sampai mengumpulkan semua orang di Aliansi. Bukan cuma itu, karena Arul berada di bawah divisu Tanjung dan menjadi anak buahnya, Bos Besar pun memberi Tanjung hukuman.

__ADS_1


Tanjung dirawat dirumah sakit selama dua minggu karena hukuman itu.


Tanjung bahkan masih berharap Arul hidup sekali lagi untuk bisa ia siksa lebih lama.


"Gue sebenernya sempet curiga kalau Bos sendiri yang ngatur ini buat mainin kita. Lo tau, kayak bos ngacauin Karya, Alby sama Rainal sebelum Aliansi diresmiin."


"Tololl." Tanjung mendengkus. "Lo kira dia rela duitnya miliaran ilang?"


"Yah, kalo orang ada harganya, Karya sama Alby masuk harga triliunan, kan? Tapi dua-duanya mau dibunuh juga sama Bos, karena enggak lulus ujian. Siapa tau, kan?"


Tanjung diam. Benar juga.


"Tapi gue pikir-pikir lagi, kayaknya Bos juga enggak bakal mainin trik yang sama dua kali. So, kayaknya kemungkinan kecil."


Dengan kata lain orang ini mencurigai seseorang dan sudah punya cukup alasan?


"Lo inget pacarnya Arul yang bawa kabur duit lo? Menurut gue, organisasi yang naungin Arul dulu yang ngambil pacarnya itu."


"Itu cewek udah ilang." Tanjung juga sudah coba kalau Dayan mau bilang cari pacarnya Arul dulu.


"Iya, kah?"


Tanjung memicing. Merasa kalau Dayan mau mengatakan sesuatu tapi sengaja dibuat berbelit.


"Ngomong-ngomong," Dayan tersenyum menjijikan—bagi Tanjung, "lo udah cari keluarganya Arul?"


"...."


"Yaelah, Bos. Lo kira semua orang itu sama kayak lo? Punya keluarga tapi enggak peduli sama keluarganya. Kalo yang gue denger sih, Arul punya adek. Katanya. Enggak tau bener atau enggak."


Apa orang ini sedang coba mengatakan bahwa Tanjung bisa menemukan adik Arul itu?


*

__ADS_1


__ADS_2