
"Gue mau keluar entar." Tanjung berucap waktu Suri sibuk mengupas buah untuk camilan sebelum makan siang. "Lo jangan ke mana-mana."
"Mau ke mana?" tanya Suri langsung kepo.
Belakangan Tanjung memang cuma di kamar. Yah, itu juga karena dokter menyuruh untuk beristirahat total agar semua luka termasuk luka bakar tangannya sembuh.
Tapi Tanjung benar-benar tidak ke mana pun, hanya bekerja di depan komputer seharian. Jadi Suri langsung kepo hal penting apa yang membuat Tanjung sampai harus keluar padahal belum sembuh.
"Tanjung, mau ke mana?" Suri bertanya ulang karena dia diam. "Jawab dong, ah. Masa jawab gitu aja enggak bisa. Mau ke mana?"
"Kerja."
"Iya, kerja apa?"
Tanjung tetap tidak menjawab, hanya datang mencium Suri.
Tuntutan Suri agar pertanyaannya dijawab Tanjung bungkam, justru mengajaknya bergumul di kasur.
Sebenarnya Suri tidak terlalu masalah dengan Tanjung yang pendiam, tapi bagaimana dia kadang tidak mau menjawab pertanyaan itu bikin Suri kesal bukan main.
Apalagi, dia pergi sementara Suri tidak boleh melakukan apa-apa.
Kekepoan memaksa Suri untuk coba mencari jawaban. Suri coba menyalakan komputer Tanjung, tapi ternyata tidak bisa. Colokan yang dipakai untuk menyalakan komputer ini malah ditutup sesuatu dan butuh kode buat membukanya.
Gila, kan? Bukan komputer yang dikode, tapi colokannya.
Berkeliling pun percuma juga, karena bahkan satu lembar dokumen tidak disisakan.
Setiap kali selesai, Ikram pasti datang mengambil kerjaan Tanjung.
Dia itu sebenarnya siapa, sih? Kenapa dia kadang kerja di rumah, kadang kerja di luar, pernah juga tidak pulang, intinya kerja dia tidak jelas.
Ting!
Suri menyambar ponselnya, terkejut mendapat chat dari Dayan setelah sekian lama.
Hai.
Lagi di mana?
Baru Suri mau menulis di tempat pacarnya, ia jadi sadar kalau Dayan tahunya Tanjung itu kakak Suri.
Duh, bagaimana yah sekarang? Waktu itu Suri juga tidak berharap ia berada di titik sebagai pasangannya Tanjung. Masa Suri bohong lagi?
__ADS_1
Capek tauk, bohong mulu.
^^^Gue udah pindah. ^^^
^^^Emang kenapa?^^^
^^^Lo di Jakarta? ^^^
Yap.
Gue mau ngomongin sesuatu.
Suri mengerjap, mendadak ingat.
OIYA! Tanjung kan menghancurkan HP-nya Dayan!
Suri ketar-ketir seketika. Walaupun Tanjung bilang dia akan menggantinya, Dayan mungkin mau bertanya sesuatu tentang itu, kan?
^^^Gue share loc sekarang. ^^^
Enggak usah, gue udah di depan pintu.
Hah? Maksudnya dia di depan pintu kontrakan lama Suri?
"Halo?"
"Buka dong. Katanya gue enggak boleh masuk."
Suri lompat dari sofa, mengintip ke lubang kecil di pintu di mana ia bisa melihat seseorang di luar.
Ternyata benar Dayan di sana, melambaikan tangan sambil menunduk, ikut mengintip Suri.
"Kok lo tau gue di sini?" tanya Suri syok. Sebab tidak pernah sekalipun ia memberitahu Dayan soal keberadaannya di sini.
"Buka dulu, bisa?"
Suri menarik pintu, berusaha membuka.
Tapi ternyata tidak bisa. Ia beralih menekan kode yang seharusnya benar, namun kali ini tidak bisa.
"Dikunci sama Tanjung?" tanya Dayan seketika.
"Kok lo tau?"
__ADS_1
Dayan tergelak. "Soalnya gue kenalan Tanjung. Emang udah tau dia bukan kakak lo."
Serius lo, Bambang?!
Terus kenapa dia mau pura-pura percaya kebohongan Suri?!
"Mau gue bantu buka enggak? Gue mau ngomongin soal HP."
Duh, Suri langsung tegang. Ternyata benar dia datang buat HP.
Mulut Suri tidak bisa membalas, soalnya itu HP harga motor. Tiga puluh persennya seratus juta. Suri bisa apa kalau dituntut?
Suri masih pucat waktu pintu tiba-tiba terbuka dari luar, disusul kemunculan sosok Dayan memakai setelan santainya yang bikin ginjal bergetar.
Lambang VL di jaketnya sudah memamerkan seberapa mahal jaket itu.
"Hai, Manis." Dayan menurunkan handphone, tersenyum lebih manis.
Di samping kakinya ada dua orang pingsan, dan Suri tidak mau bertanya kenapa. Pokoknya jangan, karena siapa tahu dia melakukan itu buat menuntut HP-nya yang dihancurkan.
"Mau keluar enggak? Yuk, ngobrol sambil makan."
Suri masih takut dituntut soal HP jadi ia patuh, keluar mengikuti Dayan.
Mereka turun dari lantai unit Tanjung, melintasi lobi dan menyebrangi jalan, pergi ke area street food andalan Suri sejak ia pindah ke sini.
Begitu mereka duduk di tepi jalan bersama segelas es cincau, Dayan malah bertanya, "Lo pacarnya Tanjung?"
Kirain mau bilang 'HP gue mana?'. Ginjal Suri hampir ia muntahkan buat ganti rugi.
"L-lo kenal Tanjung?"
Dayan terkekeh. "Satu kerjaan."
"Serius?! Kerja apa?!" pekik Suri spontan. Seketika langsung teralihkan dari ginjal dan HP.
Suri sumpah sudah kepo berat dengan pekerjaan Tanjung.
Siapa suruh orangnya hanya diam!
Kerjaan dia apa sebenarnya?
*
__ADS_1