Jadi Tawanan Preman Galak

Jadi Tawanan Preman Galak
50. Yakin Dia Suka?


__ADS_3

Dayan tersenyum penuh arti. "Kerja apa yah namanya? Gue juga enggak tau namanya."


"Loh?" Tadi katanya satu kerjaan.


"Yah, soalnya itu bukan kayak kerja kantoran jadi HRD, marketing atau apa. Cuma, kalau harus bilang, kerjaan dia itu ngatur jalur bisnis? Simpelnya, kalo enggak ada Tanjung, satu kota kacau."


Suri tidak paham. Maksudnya kacau itu apa? Maksudnya satu kota kacau kalau tidak ada Tanjung? Atau dia pegawai pemerintahan, gitu?


Ah, tidak, tidak. Mana ada pegawai pemerintahan macam Tanjung. Seragam dia cuma kaos hitam. Biarpun kaos hitamnya mahal banget


Tapi Dayan tidak menjelaskan lebih, malah beralih ke pertanyaan lain.


"Lo kenal Tanjung dari mana?"


Suri polos menjawab, "Enggak sengaja nolongin dia waktu dia hampir mati."


Senyum Dayan makin lebar.


Ini makin menarik. Dulu Karya jinak pada Rashi juga karena hal sama. Karya dipukuli sampai nyaris mati oleh Bos Besar, lalu Rashi menolongnya.


Tapi Dayan masih merasa ini bukan perbuatan Bos Besar.


"Kok lo nolongin Tanjung?"


"Enggak sengaja, sih." Suri memiringkan wajah. "Gue juga pertamanya ngerasa sial banget ketemu dia. Masa dia ngelarang gue ngapa-ngapain? Kan enggak adil."


Dayan terkekeh.


"Kalo dipikir-pikir, pantes aja dia marah mulu kalo soal lo." Suri cemberut. "Sampe remukin HP gue pas lo nge-chat gue."


"Sampe ngebanting HP yang gue kasih?"


Suri tersedak. "KOK—"


"Tanjung ngirimin sisanya." Dayan mengeluarkan sesuatu dari kantong jaket mahalnya, yaitu butiran bekas HP yang hancur lebur. "Emang dasar posesif."


"Gue udah nyuruh dia ganti rugi, kok! Plis jangan lapor polisi, yah? Plis, plis, plis." Kalau perlu Suri berlutut deh biar dia puas.


Asal jangan bertemu polisi atau membuatnya harus hidup hanya dengan satu ginjal saja.


"Tanjung bohong. Tanjung ganti rugi tuh sama aja kayak lo minta bulan jadi segitiga."


Dayan tertawa santai.

__ADS_1


"Tapi Tanjung mau bohong sebenernya udah hebat, sih. Dia pasti suka banget sama lo."


Suri mengerjap, langsung kicep.


Masa sih? Tanjung menyukainya?


Oke, tidak. Kalau dia tidak punya rasa, mana mungkin Suri diajak tinggal bersama. Tapi Suri malu juga kalau seseorang menyebutkan secara frontal.


Soalnya Tanjung lebih banyak diam.


Tak mau dilihat salah tingkah, Suri buru-buru menenggak semua isi gelas es cincaunya.


Tapi itu tidak cukup mengelabui mata Dayan.


Menggemaskan, yah?


Bukan Suri, tapi bagaimana dia jatuh cinta pada orang yang kemungkinan dia benci. Dan juga bagaimana orang tanpa hati seperti Tanjung bisa membuat seseorang jatuh cinta padanya.


Yah, mungkin karena dia good-looking. Dalam Aliansi, wajah seorang Eksekutif juga menjadi sebuah keharusan. Makanya di organisasi mereka, bisa dibilang Tanjung dan Karya adalah orang paling tampan.


Terlepas dari mereka pendek.


"Gue enggak masalah sih sama HP-nya. Sebenernya gue ngirim juga cuma buat ngetes doang," ucap Dayan, mengalihkan diri dari salah tingkahnya Suri.


Mengetes seberapa jauh Tanjung bertindak untuk Suri.


Sebenarnya itu salah Dayan karena mengusik Tanjung. Tapi Dayan masih punya hak menuntut secara resmi karena Suri waktu itu belum pasti menjadi gadisnya Tanjung.


Meski begitu, Tanjung tetap menghancurkannya.


Menggemaskan.


Sangat menggemaskan.


Membuat Dayan mau sedikiiiit mengacaukan.


"Suri."


"Hah?" Suri kaget karena Dayan tiba-tiba memanggil namanya.


"Berapa banyak Tanjung cerita?"


Cerita?

__ADS_1


Tanjung?


Suri tertegun hanya karena satu kata itu saja.


Mendadak, Suri menyadari kalau Tanjung sedikitpun belum pernah bercerita tentang sesuatu. Tentang apa pun.


Apa yang dia suka, apa yang dia mimpikan, apa yang dia harapkan di masa depan, atau sesuatu sesederhana dulu dia besar di mana, Tanjung tidak pernah cerita.


Padahal Suri sudah banyak cerita.


"Lo enggak tau apa-apa soal Tanjung, yah?"


Suri menelan ludah. Tidak bisa mengakui ataupun menolak.


Karena nyatanya, Suri tidak tahu apa-apa. Sedikitpun malah.


"Enggak heran, sih. Gue juga enggak terlalu tau."


"...."


"Yang gue tau soal Tanjung itu cuma, dia enggak suka cewek."


"Dia belok?!" Suri lebih syok lagi. Bagaimana bisa? Mereka berhubungan dengan normal dan ternyata dia penyuka ituuuuu?!


Tapi Dayan langsung tertawa. "Maksud gue, dia misoginis. Benci cewek."


Apa?


"Lo tau kayak, dia mandang cewek itu sebagai sesuatu yang dia kendaliin. Tipe orang yang ngeliat cewek itu sebagai pajangan plus alat buat muasin dirinya sendiri."


Suri terpaku.


"Makanya Tanjung cuma mau lo di kamarnya. Jangan ke mana-mana. Tugas lo cuma buat muasin mata dia, muasin ************ dia."


Apa yang dia katakan?


"Tanjung enggak bakal biarin lo ngapa-ngapain. Lo tau kan, kalo lo beli boneka terus lo taro boneka-nya di meja, bonekanya harus terus di meja. Sampe lo mau pindahin ke lantai kek, atau ke kasur kek, atau ke kamar mandi kek. Semuanya terserah Tanjung."


Dengan kata lain, Suri ... cuma boneka.


Ekspresi Suri jadi kosong.


"Lo yakin dia suka sama lo?"

__ADS_1


*


__ADS_2