
"Ngapain Tanjung bayar gue buat gituan? Lo enggak inget HP tiga puluh juta gue kasih ke elo enggak sudi dia balikin?"
Dayan menggeleng-gelengkan kepala, berdecak miris. Padahal istri Tanjung, masa tidak paham sifat Tanjung?
Orang itu dipenuhi terlalu banyak harga diri tidak berguna, makanya mustahil dia membayar Dayan buat melepaskan Suri. Itu sih sama saja dia mengemis pada Dayan.
Walaupun Dayan bakal melakukannya jika memang Tanjung memberi uang, tapi sayangnya untuk sekarang itu tidak.
"Lo cuma mau ngetawain Tanjung, kan?" ujar Teguh dengan ekspresi jijik. "Dibanding Tanjung, lo emang lebih enggak waras."
"Apa?" Suri belum memahaminya.
"Tanjung enggak ngebeli lo biarpun bisa karena harga dirinya." Teguh menjelaskan dan Dayan hanya tersenyum. "Kalo dia beli lo, itu berarti dia ngemis ke Dayan. Makanya—"
Dayan menyeringai.
"—ini orang mau sukarela nunjukin lo ke Tanjung buat ngeledekin dia. Cuma buat itu."
Suri mendadak kosong.
Meskipun Dayan sudah mengatakan berulang kali tapi Suri bahkan masih merasa tak percaya. Bagaimana bisa dia memperlakukan Suri seperti mainan yang dia sodorkan pada bayi agar bayi itu menangis?
__ADS_1
Bagaimana bisa ada manusia yang karena tahu itu akan menimbulkan masalah, makanya dia melakukan itu buat menghibur dirinya sendiri? Dan bagaimana bisa orang ini sedikitpun tidak memikirkan kemanusiaan?
Harusnya Suri tidak memuji dia tampan dulu!
"Hei, you're overreacting."
Dayan melipat tangan.
"Gue enggak ngerugiin siapa-siapa, gue enggak bikin siapa pun luka. Gue juga mesti jagain lo karena Bos nyuruh begitu. Apa salahnya gue main? Emang lo enggak boleh nonton sinetron karena itu bohongan? Lo enggak boleh baca novel atau komik karena itu karangan? Enggak, kan? Semuanya cuma hiburan."
"Orang sinting." Teguh mengepal tangannya. "Lo kira Suri idup buat bikin lo terhibur?!"
Ekspresi Dayan mendadak dingin. "Kenapa jadi lo maksa gue berubah?"
"Mau gue ngeliat dia boneka, mau gue ngeliat dia hiburan, mau gue ngeliat dia binatang juga itu urusan mata gue. Emang gue pernah marah lo ngeliat gue sinting? Hina gue sepuas lo. Gue enggak marah."
Dia benar-benar sudah gila. Tidak, mungkin memang sejak awal Suri yang bodoh mengira dia waras.
"Yah, kalo lo enggak mau ya itu terserah lo. Gue mana suka maksa orang." Dayan berbalik. "Intinya, kalau enggak mau ya enggak usah. Bye—"
"Tunggu."
__ADS_1
Kalau Suri sibuk memikirkan kemanusiaan atau kewarasan di sini, ujung-ujungnya ia cuma akan terkurung dan menjadi alat seperti kata Teguh.
Terserah Dayan mau melihat Suri seperti apa. Suri tidak mau peduli.
Jika dia bisa dimanfaatkan maka Suri tinggal menggunakannya. Kenapa Suri malah diam padahal ia bisa ikut memanfaatkan?
Lagupula dia benar. Ini tidak melukai siapa-siapa dan sebatas hiburan dia saja.
"Gue mau." Suri menguatkan tekadnya untuk membalas sakit hati yang ia tanggung bertahun-tahun mengira Arul hidup di suatu tempat. "Gue terima tapi gue punya syarat."
"Apa?" Dayan kembali tersenyum.
"Lo enggak boleh nyembunyiin apa pun soal Arul. Apa pun."
"Hmmmmm, kalo gitu gantinya bawa anak lo."
"Suri."
Meskipun Teguh berusaha menghentikannya, Suri yang mengepalkan tangan kuat-kuat pun berusaha menguatkan tekad.
"Oke, deal."
__ADS_1
Sambil bersiul-siul riang, Dayan pergi, meninggalkan kamar Suri begitu saja.
*