
Suri belum tahu bagaimana cara menyampaikan soal ia hamil. Walaupun sekarang semua terlihat aman dan tidak ada tanda-tanda ia mau dibuang, Suri masih ragu.
Tidak lucu ia ditinggalkan saat punya anak.
Serius, tidak lucu sama sekali.
Tapi kalau dipikir-pikir, jika memang Tanjung mau membuangnya, dia tahu sekarang atau tahu nanti pun dia akan tetap membuang kalau dia mau.
Akh, kepala Suri pening!
"Lo nyembunyiin apa?" kata Tanjung mendadak.
"Hah?"
Tanjung melihatnya bosan.
Padahal Suri bercermin setiap hari, tapi kenapa dia sama sekali tidak sadar betapa jelas otot wajahnya?
Dipikir Tanjung tidak akan sadar kalau dia menyembunyikan sesuatu dan Ikram tahu itu tapi Suri tidak mau Tanjung tahu?
Minimal Suri harus S2 dulu jurusan Menipu, Berdusta, dan Berpura-Pura kalau dia mau menipu Tanjung.
Mungkin orang tidak akan percaya jika Tanjung mengatakan ini tapi ia adalah orang sensntif dan peka luar biasa. Tanjung cuma tidak suka mengurus jika itu bukan hal penting.
Jadi kesempatan Suri bohong padanya bisa dibilang ... hmmm, yah, nilai paling baik hati adalah -100.
"Mending lo buruan ngomong," perintah Tanjung mutlak.
Tanjung beranjak dari sofa, melepaskan kausnya begitu saja.
Muka Suri mendadak pucat, apalagi waktu Tanjung membuka laci, tempat di mana Suri meletakkan ikat rambutnya.
__ADS_1
Bau-baunya dia mau melakukan introgasi paksa.
"Lo mau ngapain?" Suri melihatnya panik.
Tanjung mengeluarkan sejumlah ikat rambut dari sana.
Itu menyeramkan, demi Tuhan. Terutama kalau melihat dari belakang, di mana punggung Tanjung yang dipenuhi tato memutuskan satu per satu ikat rambut Suri.
Ikat rambut itu kemudian disambung satu sama lain, jadi tali.
Muka Suri semakin pias.
"Tanjung."
Orangnya datang, lengkap dengan tali yang dibuat dari ikat rambut. "Buruan ngomong. Gue enggak suka nanya berkali-kali."
"Itu buat apa dulu!"
"...."
"Cuma sampe tiga."
"Apanya?" Suri bertanya dengan nada yang menurut Tanjung sangat bodoh.
Daripada menjawab, Tanjung lebih suka langsung menghitung.
"Satu."
Suri memaksa otaknya berpikir keras untuk jawaban masuk akal.
Ayolah. Apa saja nama penyakit yang bisa dijadikan alasan.
__ADS_1
Apa saja, plis! Apa saja asal bukan muntaber, karena tidak ada orang muntaber lebih dari seminggu! Atau tipes? Bagaimana dengan itu?
"Dua."
"Culture shock!" Suri spontan berteriak. "Gue kena culture shock. Iya, itu!"
Mereka kan baru menikah, dan Suri baru pindah. Jadi seharusnya bisa dong pakai alasan itu?
Atau tidak.
Tanjung memiringkan wajah, lalu menghela napas.
Sepertinya memang bakat Suri itu bukan BERDUSTA tapi KETAHUAN BOHONG.
Tanjung sebenarnya tidak terlalu suka bohong, karena itu tidak ada gunanya. Tapi kalau Suri harus diajari, mungkin kapan-kapan Tanjung harus memberi waktu khusus.
Tanjung rasa bohong itu seharusnya kemampuan dasar semua manusia. Kok bisa ada manusia macam ini?
"Gue serius!" pekik Suri bersamaan dengan tangannya diambil, diikat oleh tali ikat rambut tadi. "Culture shock tuh ada! Beneran ada! Coba aja cari di Google."
Tanjung tahu maksud Culture Shock apa. Dan ia tahu Suri juga sedang bohong.
"Tanjung, plis, jangan main kayak gini. Gue enggak suka."
Tanjung peduli setan.
"Tanjung, gue enggak mau!"
Diangkat perempuan itu ke kasur, menjatuhkannya begitu saja meski Suri berteriak. Tanjung membuka laci sekali lagi, kali ini untuk mengeluarkan tube pelumas.
Permainan kasar harus dimulai dengan kasar juga.
__ADS_1
*