Jadi Tawanan Preman Galak

Jadi Tawanan Preman Galak
56. Status Itu Apa?


__ADS_3

Suri enggak mau jadi bucin yah, karena nanti sakit hati. Ia tak akan mau membiarkan dirinya jatuh cinta seperti monyet pada Tanjung, tanpa mementingkan logika sama sekali.


Jadi biar ia perjelas saja Tanjung maunya apa, biar Suri bisa menentukan langkahnya ke depan.


Ngapain dirinya berharap pada orang yang cuma menganggapnya barang kalau bukan hewan?


"Kita apa?" tanya Suri dengan nada malas dan capek. "Lo nganggep gue apa, sih? Jawab dulu pertanyaan orang baru lo minta dijawab."


Tanjung cuma melihatnya.


"Gue paham yah lo mikir apa."


Soalnya Ikram tadi memberitahunya sedikit. Soal bagaimana pola pikir seseorang yang ada di posisi Tanjung, posisi seorang bos, seorang pemimpin yang mengontrol banyak orang.


"Look, Suri. He's the boss. He was born to be the boss. He was training to be the boss. And boss always be the boss. Meaning, pola pikir Bos cuma disetting sama satu sistem. Gue bos, gue yang ngontrol, gue yang nentuin. Lo rakyat biasa mending nurut, jangan banyak bantah, jangan banyak bacott."


Begitulah kata Ikram.


Yang Suri tidak peduli.


"Lo bos, orang patuh sama lo, hidup lo isinya merintah orang. Oke, fine. Tapi, Tanjung, itu urusan kerjaan, bukan urusan yang ngelibatin lo sama gue."


Mau dia bos, mau dia the boss, mau dia the big boss sekalipun itu semua tidak ada hubungannya dengan Suri. Kalau dia bos bagi Ikram, dia bukan bos buat Suri.


Dia Tanjung bagi Suri. Hanya Tanjung.


"Lo tuh selalu 'terserah gue', 'terserah gue', 'terserah gue'. Iya kalo hidup lo doang. Masalahnya ini hidup gue juga. Mustahil terserah lo semua."


"...."


"Atau lo ngeliat gue cewek bayaran?" tanya Suri, semakin muak. "Lo ngasih gue duit banyak, jadi jangan bantah satupun omongan lo, gitu?"


"...."


"Gue enggak minta duit lo, ambil aja. Jadi bisa gue ngomong juga, berhubung gue punya mulut plus punya otak plus punya hati?"

__ADS_1


Suri menyerah. Dilepaskan selimut yang membungkus tubuhnya, beranjak dari karpet itu.


"Gue enggak tau lo mau apa karena lo enggak mau ngomong tapi apa pun mau lo, sori gue enggak bisa."


Tanpa direncanakan air mata Suri malah jatuh. Buru-buru ia hapus itu, berjalan cepat menuju pintu keluar.


Tanjung tadi meletakkan kartunya di atas meja, jadi Suri bisa mengambil itu, menggesek ke samping pintu sebagai konfirmasi biar pintu itu terbuka.


Namun sebelum Suri bisa menariknya, Tanjung mendorong pintu tertutup kembali. Terkunci secara otomatis lagi.


Tubuh Suri terhimpit antara pintu dan Tanjung di belakangnya.


Rasa frustrasi membuat Suri menangis. Demi Tuhan, apa kematian cuma satu-satunya cara agar bisa lepas dari monster ini?


Dia sama sekali tidak membiarkan Suri jadi manusia!


"Lo mau apa?" gumam Tanjung seperti tanpa beban.


"Gue capek." Suri terisak-isak. "Gue capek banget, demi Tuhan. Gue enggak bisa kayak gini, Tanjung. Gue enggak—"


Suri tertegun.


"Gue enggak ngerti maksud lo status apa. Caranya ngasih status tuh gimana? Lo mau apa?"


***


Tanjung jarang mengerti kalau Suri sudah bicara. Kemarin dia bertanya Tanjung siapa, sekarang dia bertanya status dia dan Tanjung apa.


Pentingnya apa, sih?


Otak Tanjung bertanya begitu, tapi waktu melihat Suri menangis, mungkin bagi dia status itu penting. Entah apa itu 'status' tapi nampaknya memang sangat-sangat penting sampai gadis ini terus mempermasalahkan.


Seperti Bos Besar memberi Tanjung status sebagai Eksekutif.


"Lo mau jadi eksekutif juga?" tanya Tanjung lagi, karena dia diam. "Lo mau ketemu Bos gue sekarang biar dia ngasih lo status? Gitu maksud lo?"

__ADS_1


Pelan-pelan Suri menoleh, menatapnya dengan mata merah itu.


Pemandangan tidak menyenangkan bagi Tanjung.


Hah. Kenapa dia harus selalu menangis setiap kali ada masalah? Padahal jauh lebih baik jika dia tersenyum.


Tangan Tanjung yang telah kering setelah terluka bakar ia gerakkan memegang wajah Suri, mengusap jejak air mata di sana baik-baik.


Sekali lagi, kenapa sih dia sangat hobi menangis? Kalau tidak berteriak ya ujug-ujug dia menangis.


Kalau dia mau uang lebih, dia harus berhenti membuat Tanjung banyak pikiran agar Tanjung juga bisa lebih fokus bekerja. Dengan begitu Tanjung bisa memberinya lebih banyak uang.


"Tanjung."


"Hm?"


Suri bernapas lemah. "Lo ngerti enggak sih gue ngomong apa?"


Tidak.


Sejujurnya kebanyakan omongan Suri itu Tanjung tidak paham. Tentu saja bukan karena Tanjung bodoh, tapi karena semua omongan Suri, bagi Tanjung, sedikitpun tidak penting buat dipahami.


Kadang-kadang dia bicara tentang Tanjung harusnya punya lemari, atau kadang juga merasa heran kenapa Tanjung tidak punya piring, dan hal-hal tak jelas sejenis itu yang membuat Tanjung bosan.


Makanya setiap kali Suri bicara, Tanjung biarkan itu terpental dari telinganya.


Terserah dialah, begitu pikir Tanjung selalu. Dengan hawa cuek dan tidak peduli.


"Panggilin Ikram."


"Hah?" Pandangan Tanjung langsung tajam, tak suka dengan Suri memanggil nama Ikram.


"Panggil. Ikram. Sekarang. Juga."


*

__ADS_1


__ADS_2