
Tanjung tidak pernah kena luka bakar, cuma sering kena pukul dan patah tulang, jadi ia tak tahu kalau ternyata terkena air panas bisa bikin tangannya luar biasa sakit.
Biasanya seiring waktu luka itu tidak terasa sakit, tapi tangannya makin lama justru makin terasa susah digunakan.
Panas, perih dan sangat mengganggu.
"Tanjung."
Lelaki itu langsung berpaling, kaget mendengar suara Suri memanggilnya.
Mata Tanjung sempat fokus pada celana pendek yang Suri pakai, walau dia menimpalinya dengan kemeja kebesaran, celana ketat itu terlihat cantik menutupi sebagian dan memamerkan sebagian.
Akhirnya dia jadi perempuan.
"Gue bikinin bubur buah buat lo, nih."
Suri duduk di sampingnya, dan Tanjung masih memandangi kaki itu.
Mulus kaki Suri terlihat lebih enak dipandang daripada wajahnya, jadi Tanjung cuma mengikuti insting.
"Sekarang waktunya makan, minum obat terus istirahat. Biar cepet sembuh."
Tanjung melarikan matanya dari paha Suri ke matanya. "Lo ngelem?"
Sepertinya dia mabuk. Nada suaranya jadi aneh.
Tanjung sering lihat perempuan kalau mabuk suaranya jadi mendayu-dayu—kalau tidak teriak-teriak. Jadi mungkin Suri juga mengalami itu?
Tapi dari mana dia minum alkohol? Sepertinya dia cuma baru dari kamar mandi.
"Ya ampun. Gue udah baik juga masa dikira mabok." Suri memeluk lengannya tiba-tiba. "Emang enggak boleh gue baik?"
"...."
Terserah. Dipikir pakai akal juga tidak akan masuk, jadi Tanjung abaikan saja.
Sebagai seorang diktator, Tanjung memang lebih suka kalau orang patuh padanya. Lebih bagus memang kalau dia tidak banyak memberontak.
"Biar gue suapin, yah? Tangan lo kan sakit."
Tanjung mengambil sendoknya, tidak mendengarkan perkataan Suri.
__ADS_1
Tidak ada kenangan dalam hidup Tanjung disuapi. Mungkin waktu kecil, tapi Tanjung tidak mau ingat.
Melihat pria itu bertingkah, Suri berusaha sangat keras mempertahankan senyum.
Ayo sabar, sabar, sabar. Memang yang namanya ujian enggak mungkin mudah.
Selama dia makan, Suri tersenyum memerhatikan. Tapi karena lama-lama dilihat, Tanjung jadi risi. Tanjung paling tidak suka dilihat terlalu intens saat beraktivitas.
Itu menyesakkan.
"Minggir."
Ingat, Suri, membunuh adalah dosa besar.
Suri menahan kepalan tangannya waktu menyingkir, memberi Tanjung ruang. Ia harus sabar karena mengamuk pun tidak ada guna.
Begitu selesai makan, Suri datang lagi mengambil piringnya.
"Nih, minum obat. Gue juga udah bikinin jus jeruk. Enggak manis banget, enggak kecut. Pas. Diminum."
Tanjung meminumnya, terus menyerahkan gelas ke tangan Suri seolah memang wajar ia mengambil bekas makan dan minumnya.
Dalam keadaan setengah sabar, Suri masih berusaha. Duduk di samping Tanjung, senyam-senyum padanya.
Sedikitpun. Dia yang tadinya sibuk memandangi Suri, walaupun itu cuma pahanya, kini malah lebih sibuk melihat tembok, seakan-akan senyum tembok itu lebih manis daripada Suri.
Makin lama, kesabaran Suri makin tipis.
Kayaknya memang makhluk ini yang tidak jelas. Diteriaki dia marah, disenyumin dia berpaling.
Enggak sekalian dia makan beling?
"Gue lupa belum beli HP." Suri kini menopang dagu malas. Menyerah pada keadaan. "HP yang dua puluh juta tuh dipake seumur hidup, yah? Yang kalau dibanting enggak pecah."
"...."
"Terserah!"
Suri capek hati meladeni cowok tidak jelas ini. Amit-amit jabang bayi dirinya punya pacar cowok macam ini.
Cowok normal saja tidak Suri pacari, apalagi yang tidak normal.
__ADS_1
*
Tanjung bingung ada apa dengan perempuan itu. Sebentar begini, sebentar begitu.
Sakit yah dia? Tapi waktu Tanjung perhatikan, tidak ada tanda-tanda dia mengonsumsi narkoba.
Kenapa dia aneh sekali?
Tadi dia senyum-senyum, sekarang berbaring di lantai mengganti-ganti siaran.
Kepala Tanjung sedang sakit, jadi ia malas bicara, malas berkomentar dan malas mengurusi. Selama dia tidak ngobat, kayaknya dia tidak butuh bantuan.
Tanjung memilih beristirahat, dalam kepala berpikir mengenai pekerjaannya, sambil menerka-nerka kapan tepatnya ia sembuh.
Dari nyeri di dadanya, tulang rusuk Tanjung yang retak mungkin mulai pulih. Dari perurnya yang sudah tidak terlalu sakit juga Tanjung rasa sebentar lagi akan sembuh.
Tinggal tangannya yang masih panas dan perih.
Waktu Tanjung sibuk berpikir, mendadak pintu diketuk. Dan Suri melompat membukanya.
"Atas nama Suriana, Mbak?"
Siapa itu?
"Iya, Mas."
"Ini ada paket atas nama Suriana, dari Mas Dayan. Tolong tanda tangan di sini, Mbak."
Apa lagi yang orang sialann itu lakukan?
"Makasih yah, Mas."
Tanjung langsung duduk, menunggu Suri muncul dengan paket di tangannya.
"Sini." Tanjung tak mau basa-basi, jadi ia memberi isyarat Suri buat datang membawakan paket itu untuknya.
Suri langsung mendelik. "Paket buat gue, bukan elo."
"Gue bilang sini."
Suri menghentakkan kaki jengkel, tapi terpaksa harus patuh.
__ADS_1
Kenapa sih dia selalu mengancam dengan muka menyeramkan?!
*