
Tanjung memicing kesal pada kedatangan Dayan. Sebenarnya ia sudah tahu anak ini ada sejak meninggalkan Suri tadi, tapi Tanjung tidak bisa mendatanginya karena mata Suri tertuju pada dia.
Gadis ini tidak perlu banyak tahu, itu yang Tanjung pikirkan.
Dayan ternyata malah memanfaatkan itu untuk bertingkah bebas.
"Oh, abangnya Suri." Dayan menyeringai terang-terangan. Berkata 'elo dikata abang ini cewek' lewat tatapannya. "Hai."
Suri langsung berdiri. "Enggak usah disapa. Abang gue galak."
Lalu dia menarik lengan Dayan mendekat padanya. Membisikinya sesuatu entah apa tapi kentara Dayan melirik Tanjung sambil menahan tawa.
Bawahan Tanjung datang membawakan makanan yang ia pesan, jelas untuk Suri karena dia bilang lapar, tapi Tanjung terlalu sibuk melihat lengan Dayan di tangan Suri.
Sudah Tanjung bilang diam saja kalau tidak mengerti. Dia malah masuk ke mulut buaya secara sukarela.
Tanjung memegangi perutnya saat mulai merasakan sakit lagi. Jika ia berdiri dan menggunakan terlalu banyak tenaga, Tanjung hanya akan menyusahkan diri sendiri.
Ayo diam saja.
"Lo mau pergi sama gue habis ini?"
Tanjung langsung berdiri, menarik Suri dari tangan Dayan.
"Akh!"
Didorong gadis itu duduk, karena mau diucapkan pun dia tidak paham. Mata Tanjung lebih fokus pada Dayan yang tidak menyembunyikan sedikitpun tatapan bermainnya.
__ADS_1
Jadi begitu.
Dia tahu Tanjung akan kesal kalau dia mengganggu Suri, makanya dia terus mendekatinya.
"Bro." Dayan menepuk bahunya, berbisik samar. "Lo nih misoginis, iya kan?"
Omong kosong apa lagi yang dia katakan?
"Pulang ke kandang lo," gumam Tanjung dingin. "Urusan lo di sini selesai."
"Dari dulu gue bilang," Dayan menepuk-nepuk lengan Tanjung, "tangan lo lebih cocok bunuh orang."
Dia melewati Tanjung begitu saja, mendekati Suri lagi.
"Lo enggak pa-pa?" tanya dia seakan ada hal penting. "Sakit? Buka jaket lo coba, gue liat."
Kenapa dia begitu berlebihan? Tanjung bukan memukul atau menusuk dia dengan pisau.
Siapa yang—
"Kakak lo suka main kasar, yah." Dayan tersenyum manis. "Mungkin dia enggak sengaja."
Tanjung membeku.
Itu ... bekas tangannya?
*
__ADS_1
"Kenapa lo enggak bilang?"
Suri lebih suka melihat tembok kamar. "Soal?"
"Tangan lo, kenapa enggak bilang?"
"Bilang apa?" balasnya sengit. "Bilang tangan gue sakit? Emang mau denger? Lo seenaknya narik-narik orang, seenaknya dorong-dorong orang, enggak mau tau pendapat orang, sekarang malah nyalahin gue enggak ngomong? Kata siapa gue berisik? Lo kan cuma tau diem, terus nyuruh gue diem, terus enggak mau tau gue kenapa."
Tapi, cowok ini adalah tipe cowok normal dan paling banyak di bumi: alias cowok yang brengsekk, tidak mau salah, tidak mau mengalah.
Lihat. Matanya melihat Suri kesal alih-alih merasa bersalah.
Bukannya membalas apa kek, dia berbalik pergi, menelepon seseorang.
"Ke sini sekarang."
Suri pikir siapa gitu yang dia panggil, tak tahunya malah Dokter Moris.
Jelas Suri kaget. Sempat ia kira Dokter Moris datang memeriksa cowok itu, ternyata dipanggil untuk Suri.
"Well," Dokter Moris melirik cowok aneh tersebut dan pikirannya sebelas dua belas dengan Suri, "lukanya enggak parah."
Yaiyalah! Orang ini cuma lebam! Kalau Suri butuh dokter untuk lebam, dari dulu ia mati karena tertabrak pintu!
"Kenapa dia malah luka cuma gara-gara dipegang?" tanya sowok Tak Bernama itu. "Emangnya kulit dia ada penyakit? Sensitif kayak bayi."
"Heh!" Suri protes.
__ADS_1
***
MISOGINIS : orang yang benci perempuan