
Tanjung sampai mau ke dokter telinga untuk memastikan barusan ia salah dengar atau bagaimana. Suka pada Suri, buat apa?
Lebih penting, suka itu apa? Memang dia siapa sampai Tanjung harus suka?
Meski dasarnya Tanjung memang tidak pandai bercanda, candaan Suri barusan tidak mengandung humor sama sekali.
"Jadi," Suri menunduk, bergumam suram, "lo nyium gue, gangguin idup gue, ngatur-ngatur gue, ngasih gue duit, mau perrkosa gue, itu bukan karena suka?! Cuma hobi doang?!"
Tanjung tersentak. Tak menyangka kalau Suri masih berani berteriak setelah semua peringatan yang Tanjung berikan.
Apalagi waktu Suri mendadak beranjak, menatapnya dengan mata merah melotot. Pipinya menggembung dan memerah malu.
Apa? Kenapa dia mendadak seperti itu? Apa barusan dia menyadari kalau dia bicara konyol?
"Lo cowok brengsek anjiing bangsattt babi!" Suri berbalik, lari ke balkon kamarnya. "Gue enggak mau ngomong sama lo lagi!"
Hah?
Ada apa dengan dia?
*
Dayan sejujurnya ragu bisa benar-benar menjemput Suri hari ini. Mana mungkin bajingan itu mau membiarkan Suri lewat padahal dia sangat tidak menyukai Dayan.
Tapi mungkin Tuhan memang ada.
Soalnya waktu Dayan baru saja tiba, mendadak dilihat Suri berada di balkon, terlihat mau loncat.
Oho? Dayan tersenyum geli. Udah mau bunuh diri? Lama juga buat ukuran cewek waras.
Oke, bercanda.
Kayaknya bukan bunuh diri sih, karena dia tidak merentangkan tangan ala-ala Titanic, tapi mengambil ancang-ancang dan posisi strategis kayak maling sudah melaksanakan misi dan siap kabur.
Sepertinya dia mau lompat untuk mendarat mulus ke bawah.
Spontan Dayan ke bawah, berteriak padanya.
__ADS_1
"Suri!" Tangannya siap menerima. "Loncat!"
Entah apa yang terjadi, tapi gila di samping Tanjung memang tidak boleh diherankan lagi.
Orang itu rusak. Otaknya tidak normal. Karena memang dia dibesarkan oleh bos sebagai preman bengis, bukan pujangga apalagi pria baik-baik.
"Kalo gue mati, gue bangun lagi matiin lo juga jadi tangkep, yah!" Suri berteriak sebelum dia benar-benar loncat.
Dayan menguatkan pijakan, menerima badan anak gadis yang ternyata berat itu. Hampir-hampir Dayan terjungkal.
Seketika Suri menghela napas, lega karena tidak patah tulang. "Hufh, selamat."
Dayan menurunkan dia ke tanah. "Kabur dulu."
"Hah?"
Orang-orangnya Tanjung mengejar, jadi Dayan bergegas menarik Suri untuk lari.
Perempuan itu berteriak histeris kayak orang dikejar anjiing, ketakutan setengah mati tiap kali dia menoleh, melihat banyak laki-laki berlari mengejar.
Tapi Dayan sudah mempersiapkan diri dengan baik.
Percuma lari dari Tanjung di kota ini, apalagi di atas tanah. Jadi Dayan memang berencana membawa Suri kabur ke air.
Di tengah laut, baru Dayan melambatkan laju speedboat, berpaling melihat Suri.
Dia macam orang nyaris semaput.
"Are you okay, Girly?"
Suri tiba-tiba berteriak. Bikin Dayan tersentak, mengira dia sudah diujung batas kewarasan.
Apa yang Tanjung lakukan pada gadis ini sebenarnya?
"Dasar bangkeee!" Suri meninju-ninju bodi perahu. "Dasar brengsekk! Kenapa juga gue yang kesannya malah ditolak?! Harusnya gue yang nolak! Dasar brengsekk! Tanjung brengsekk!"
Dayan tergelak. Terhibur akan amukan itu. "Kenapa, sih? Cerita dong sama gue. Kakak lo kenapa?"
__ADS_1
Mendengar kata kakak, Suri jadi ingat Arul, dan makin emosi lagi.
Mau rasanya Suri loncat ke laut, masuk ke mulut hiu secara sukarela daripada harus hidup seperti ini!
Duhai megalodon, keluar dari sana dan makan gue sekarang juga! Gue udah enggak sanggup idup sama orang gila, nungguin orang sesat yang ninggalin adeknya sendirian.
"Hey." Dayan meraih wajah Suri lembut agar menoleh. "What happened?"
Suri menghela napas murung tiba-tiba. Akhirnya bisa tenang buat bercerita.
"Ada cowok brengsek."
Jelas Tanjung.
"Terus tiba-tiba nyium gue."
Hoooh, cepat juga. Tidak, haruskah Dayan bilang terlalu lambat? Normalnya dia sudah sampai tahap mantap-mantapan.
"Terus mau perk*sa juga."
Kasihan Tanjung kalau begitu. Berarti tidak jadi, kan?
"Tapi pas gue tanya dia suka gue, masa dia bilang 'ngapain gue suka elo?'. Kan bangsatt."
Dayan tertawa kecil, sebenarnya bukan karena cerita Suri, tapi membayangkan Tanjung.
Ya memang dia otaknya begitu. Kalian mau paksakan dia jadi apa?
Level 'kepolosan' Tanjung itu ada pada tahap, dia tidak mengerti kenapa perempuan dan laki-laki menikah.
Tanjung dibesarkan dengan pemikiran yang penting di dunia ini cuma uang dan kekuasaan. Kekerasan membuat Tanjung juga berkuasa atas banyak hal.
Makanya di mata Tanjung, perempuan itu cuma makhluk yang dibayar menjilat lolipop laki-laki.
Dalam kasus ini, Dayan memutuskan yang salah adalah Suri.
Siapa suruh bertanya 'suka' pada Tanjung. Otaknya Tanjung terlalu 'polos' untuk suka-sukaan.
__ADS_1
Harusnya dia bertanya bagaimana cara mematahkan leher orang.
*