
Ikram buru-buru datang walaupun sebenarnya tadi dia baru tiba di markas untuk mengecek dokumen Arul. Perasaan Ikram langsung tidak baik karena Tanjung memanggilnya dengan nada super duper dingin di telepon.
Pikirnya, Tanjung memanggil karena dia sudah tahu soal Suri dan sekarang Suri sudah mati.
Atau mungkin soal kehamilan Suri.
Tapi baru saja Ikram masuk, Suri langsung berteriak keras pada Ikram.
"Dia ini sebenernya tinggal di mana?!" Perempuan itu menunjuk Tanjung terang-terangan. "DIA NIH SEBENERNYA ORANG MANA, HAH?! ORANG MANA?!"
Ikram cengo, apalagi Tanjung.
Telunjuk Suri yang mengarah pada Tanjung ditepis oleh pria itu, ingin bicara tapi Suri lebih dulu menjerit.
"GUE BERBUSA-BUSA NGOMONG SAMA DIA TERNYATA DIA ENGGAK NGERTI! LO TAU ENGGAK SIH GUE SESINTING APA NGADEPIN DIA?! HAH? GUE HARUS PAKE BAHASA APA BIAR DIA NGERTI?!"
Ikram juga tidak paham Suri bicara apa. "Okay, what's the matter?" Pertama, mari bicarakan dengan bahasa manusia.
Suri menarik napas panjang, menarik lengan Ikram tiba-tiba.
Disentuh oleh Suri bagi Ikram serasa disentuh oleh setan.
Buru-buru dia menghindar, karena mata Tanjung sudah seperti mengeluarkan leser pemusnahan. Duh, gadis ini harus diberitahu berapa kali kalau Tanjung tidak suka dia bersentuhan atau bahkan bicara dengan orang lain?!
Tapi karena Suri tidak paham, perempuan itu malah memarahi Ikram.
"Sini dulu! Gue perlu ngomong sama orang waras!"
"Tapi—"
"SINI!"
Ikram tersentak, merasa telinganya berdarah karena suara Suri. Mau tak mau ia ikut, walau berusaha keras tidak disentuh. Duh, setidaknya jangan seret Ikram ke masalah tidak penting ini.
Tarik napas, buang napas.
__ADS_1
Tarik lagi, buang lagi.
Suri melakukannya berulang kali biar tidak stres. Tadinya dia sedih, tapi sekarang Suri cuma keki dan dongkol setengah mati.
"Bos lo nih gue tanya dia status gue sama dia apa."
Suri menatap Tanjung penuh dendam.
"Terus lo mau tau dia bilang apa? Dia bilang : lo mau jadi eksekutif? Lo ngerti maksud gue?! Helooooo, everybody, gue kah yang sinting di sini?! Gue nanya ke mana dia jawab ke mana! Kasih tau gue siapa yang besarin dia kayak begini!"
"Lo yang sinting, sih." Ikram langsung menjawab pasti.
"KENAPA JADI GUE?!"
Karena Tanjung memang cuma tahu cara menghajar dan memerintah orang.
Padahal tadi sudah Ikram beritahu, ya ampun.
Tanjung mana paham sesuatu tentang hubungan romantis. Pertanyaan tololl semacam 'status kita apa' atau 'kamu cinta aku enggak' atau 'kamu kenapa sayang sama aku' itu semua cuma terdengar seperti gonggongan anjiing di telinga Tanjung.
Tapi sebenarnya, tanpa harus seperti itu, perilaku Tanjung sudah membuktikan status Suri. Mana ada seorang Tanjung membiarkan perempuan masuk ke apartemennya, yang merupakan tempat paling pribadi dia sebagai bos.
Ciri khas bos : tidak suka wilayahnya diganggu.
Kalau Suri dibiarkan masuk, berarti dia tidak dianggap pengganggu. Sudah, simpel.
Cewek emang ribet sih, gumam Ikram dalam hati. Kalo lo dikasih duit, diajak tinggal bareng ya berarti lo spesial.
Status malah diribetin. Status taikucing. Haaaaah, kerjaan gue banyak bukan buat ngurus ginian doang. Buang-buang waktu.
"Biar gue yang ngomong sama Bos. Lo ... ya intinya lo waras aja."
Ikram buru-buru menjauh, pergi ke sebelah Tanjung.
Pandangan pria itu padanya langsung tak menyenangkan. Membuat Ikram jadi menyesal sudah akrab dengan Suri.
__ADS_1
"Gue cuma translator, Bos. Ayolah."
Tanjung berdecak. "Ikut gue."
*
Tanjung diajari untuk tidak merasa dirinya berbuat salah kalau secara logika itu memang tidak salah. Jadi Tanjung tidak merasa punya kesalahan sama sekali sampai Ikram harus turun tangan mengurusi masalahnya.
Itu malah menyebalkan buat Tanjung.
Tapi karena bahasa Suri mulai tidak jelas di telinganya, maka mau tak mau Tanjung emang butuh penerjemah.
"Gue enggak expect lo sampe enggak peduli sama ginian sih, Bos."
"Langsung aja ke intinya." Tanjung sudah capek, mau tidur jadi ayo cepat selesaikan urusan tidak jelas ini.
"Maksud cewek lo, dia—"
Ikram diam, tiba-tiba jadi bingung sendiri mau memberi penjelasan apa.
Intinya Suri mau status yang jelas. Oke, itu super duper intinya.
Nah, masalahnya, buat Tanjung semua status itu tidak jelas. Setidaknya bagi Tanjung status yang bisa dimengerti itu status kekuasaan.
Kalau begitu kata yang tepat itu seperti apa? Memberitahu orang yang semacam ini buat mengerti gadis semacam Suri, itu bagaimana?
"Dia kenapa? Dia mau ketemu Bos buat izin?"
Lihat, kan? Tanjung otaknya konek ke sana. Status bagi dia adalah segala sesuatu yang berhubungan dengan pekerjaan, Bos Besar dan uang.
"Dia," Ikram rasa ini tepat, "dia mau nikah sama lo."
Intinya itu, kan? Pokoknya, intinya pasti itu. Status yang sangat amat jelas bagi perempuan.
*
__ADS_1