Jadi Tawanan Preman Galak

Jadi Tawanan Preman Galak
64. Malu


__ADS_3

"Gue pernah diselingkuhin tiga kali, lo tau. Anak gue tiga dari tiga cewek, tiga-tiganya ninggalin gue karena gue enggak mau nikahin mereka. Tapi pas susah masih minta duit gue, alesannya buat anak. Masih gue kasih."


Ikram menatap Suri bosan.


"Kalo lo enggak mau ditinggalin, jangan lo tungguin yang ninggalin lo. Bikin diri lo enggak bisa ditinggalin. Sekarang siapa yang mau ninggalin gue? Duit gue banyak, beli apa aja gue bisa, muka gue ganteng, ya gue enggak nganggep cewek babi juga kayak Bos dulu. Ngapain gue gakut ditinggalin? Orang lain takut gue tinggalin."


Sekarang Suri tahu kenapa logikanya Tanjung begitu.


Ternyata efek samping pergaulan.


Tapi itu juga sulit dibantah, karena orang yang bicara begitu padanya mengatakan semua dengan sangat percaya diri.


Dan yang lebih menakutkan, dia benar.


Siapa orang waras yang mau meninggalkan orang seperti Ikram yang masih muda namun sudah bisa punya segalanya?


Namun kalau begitu, Suri jadi penasaran.


Apakah itu berarti, Suri pantas ditinggalkan?


*


"Lo mau keluar?"


Suri sampai merasa harus pakai alat bantu dengar karena pertanyan itu. Serius Tanjung barusan mengajaknya keluar? Malam begini?


"Mau."


Suri langsung loncat, sebab satu-satunya yang bisa dilakukan di kamar ini cuma berharap kapan ia bisa keluar.


"Mau, mau, mau. Gue mau keluar. Ayok keluar."


Suri langsung bergegas mengikuti Tanjung biarpun cuma memakai celana pendek plus kaus ketat.

__ADS_1


Kalau ganti baju dulu, yang ada Tanjung berubah pikiran.


"Tumben mau keluar. Kenapa? Lagi pengen makan sesuatu?" todong Suri kepo.


Yah walaupun kebiasaan Tanjung kalau ditanya pasti diam.


Tapi karena Suri sudah terbiasa, ia sudah bodo amat, mengikuti Tanjung keluar dari gedung apartemen.


Senyum Suri berkembang lebar.


Biarpun tadi Suri sudah keluar bersama Ikram, rasanya beda saja kalau jalan dengan Tanjung.


Suri lebih suka keluar dengan Tanjung bahkan kalau Tanjung tidak banyak bicara.


"Tanjung, beli minum dulu."


Tanjung cuma mengikuti langkah Suri pergi ke gerai jus buah, membeli jus untuk dirinya.


Tanjung diam, artinya tidak.


Yang dia lakukan cuma melihat Suri duduk, minum seperti orang kehausan dari sedotan hitam.


Pikiran Tanjung sekarang sedang dipenuhi pertanyaan. Kalau ia buat Suri nyaman dengannya, dia tidak akan memilih pilihan pergi, kan?


Tadi Tanjung dengar laporan dari Ikram mengenai pertanyaan Suri—karena Tanjung menyuruh Ikram berhenti menyembunyikan sesuatu darinya tentang Suri sekarang.


Kalau tidak salah, Suri bilang dia takut ditinggalkan.


Tanjung sepemikiran dengan Ikram. Buat apa takut? Tinggal buat orang tidak meninggalkan mereka, kan?


Uang, kekuasaan, karisma, kedudukan, Tanjung punya semuanya.


Asal Tanjung memperlakukan Suri dengan baik pula, tidak lagi ada alasan dia pergi walaupun Tanjung menghabisi kakaknya.

__ADS_1


Itupun kakaknya dia pengkhianat.


Makanya Tanjung mengajak Suri keluar, untuk memuaskan apa yang dia inginkan.


Jika dia puas, dia tidak akan berpikir meninggalkan Tanjung.


"Lo mikirin sesuatu?"


Terlalu melamun, Tanjung sampai tidak sadar Suri sudah di depan matanya, menatap dengan senyum kecil.


"Kenapa?" tanya dia ringan.


Tanjung menyukai senyum Suri itu. Juga suaranya yang kecil dan manis.


Terdorong oleh gemas, Tanjung agak memajukan tubuhnya, mengecup kecil bibir Suri.


Dia terpekik, menutup mulutnya sambil melihat sekitaran.


"Lo tuh yah!"


Menggemaskan.


Tanjung tersenyum kecil tapi terlalu kecil untuk dilihat siapa pun. "Ayok."


"Tanjung!" Suri menyusulnya buru-buru. "Lo kalo di tempat umum jangan suka kayak gitu bisa enggak sih!"


"Kenapa?"


"Malu!"


Tanjung tidak malu jadi ia akan terus melakukannya.


*

__ADS_1


__ADS_2