Jadi Tawanan Preman Galak

Jadi Tawanan Preman Galak
48. Yakin Diem?


__ADS_3

Suri masih ingat Teguh itu berteman cukup baik dengan Arul dulu, jadi ia mau bertanya apa Teguh dengar sesuatu soal Arul. Walau Suri juga tidak berharap banyak, karena belum tentu Teguh dan Arul masih berteman.


Tapi waktu Ikram kembali, Teguh sudah hilang hingga Suri tak bisa bertanya.


"Bang Teguh ke mana? Gue mau nanya sesuatu."


Ikram malah tersenyum cuek. "Udah gue bilang, Bos ngelarang lo ngomong sama sembarang orang."


Masa sampe segitunya? Terus dia bakal terus mengurus gitu Suri bicara dengan siapa?


Lalu kenapa tidak sekalian dia mengurusi Suri tadi bicara dengan mas-mas penjual makan? Ada banyak malah yang Suri ajak bicara. Tadi juga ada penjual es dawet. Tidak sekalian semuanya dibantai karena Suri bicara pada mereka?


Tapi karena ini membicarakan Tanjung, Suri mau tidak mau percaya juga.


Yasudahlah, lagipula kalau Teguh tahu soal Arul, dia pasti langsung bicara juga.


Suri jajan beberapa makanan lagi sebelum kembali ke apartemen. Ia diantar sampai pintu unit Tanjung terbuka, baru Ikram pergi tanpa suara.


Ternyata Tanjung masih bekerja.


"Sibuk banget?" Suri juga beli es jeruk, jadi langsung ia letakkan di dekat tangan Tanjung, hati-hati biar tidak kena peralatan di sana.


Bisa berabe kalau ketumpahan. Tiga komputer yang menyala kelihatan mahal semua.


"Gue mau bantuin, boleh enggak?"


Tanjung meraih minuman itu tanpa melirik Suri. "Gak."


Ish, dasar robot rusak. Setidaknya tolak dengan halus, kek.


Yah, walau halus dan Tanjung itu agak-agak sulit dibayangkan.


"Emang gue enggak boleh banget yah kerja? Masa gue di kamar lo terus kayak boneka. Kerja jadi OB juga gue mau, kok."


"Buat?"


"Apa?" tanya Suri balik. Maksudnya apa maksud pertanyaan super duper singkat barusan itu.

__ADS_1


Tanjung beranjak. Berdiri di hadapannya. "Lo kerja buat?"


Memang harus ditanya? Jelas dong buat uang.


Tapi karena dia bertanya hal terlalu jelas, Suri malah jadi ragu menjawab. Seakan-akan ada jawaban lain yang tidak jelas.


"Buat," Suri melirik ke arah lain, cari ide, "buat mandiri?" Kok mendadak Suri tidak tahu ia kerja buat apa?


"Terus kalo lo mandiri?"


Ini kenapa jadi Suri susah jawab? Kan, seharusnya tinggal jawab 'biar enggak nyusahin'.


Tapi rasanya seakan Tanjung itu akan men-skak semua jawaban Suri sebagus apa pun jawabannya itu.


"Emang kenapa kalo gue kerja?" balas Suri cepat, tiba-tiba dapat ilham. "Emangnya salah?"


Suri sih bukannya mengeluh, yah. Bersyukur, demi Tuhan, dirinya karena tidak perlu kerja dari pagi sampai jam satu malam lagi.


Tapi bekerja terlalu keras sama enggak bekerja sama-sama enggak enak.


Benar. Memangnya salah Suri mau bekerja dan menjalani hidupnya sebagai manusia?


"Salah." Tanjung ternyata jawab.


Dan jawabannya yakin pula.


"Kok salah?!"


"Terserah gue." Tanjung kembali duduk. "Mending lo diem."


Suri rasanya langsung bertanduk mendengar omongan berengsekk itu. Tapi setelah sekian lama kenal Tanjung, memang percuma melawan dia.


Jadi Suri masuk kamar mandi, mandi, pakai skincare, lalu keluar dengan hanya memakai pakaian dalam.


Suri langsung duduk di sudut meja kosong tempat Tanjung bekerja, menatapnya menantang.


"Yakin diem?"

__ADS_1


Tanjung tidak pernah sekalipun menahan tatapannya bahkan buat kesopanan. Dia sama sekali enggak menatap mata Suri, tapi langsung ke dadaa, perut dan pahanya.


Tiga detik, dia berdiri dari kursi.


Meninggalkan pekerjaannya buat memberi Suri pekerjaan lain.


*


Ini di luar dugaan sih, Tanjung sampai membawa perempuan itu pindah ke apartemennya.


Di mata Dayan, itu bukan sekadar dia tinggal bersama. Tapi apartemen yang Tanjung pakai itu simbol kedudukannya sebagai Eksekutif.


Yah, ibaratnya itu istana Tanjung di Aliansi. Dan dia membawa Suri ke sana. Padahal setahu Dayan, Tanjung cuma mau meniduri pelacurr di markasnya yang memang sering jadi tempat pesta sekss.


"Pertemuan bulanan tinggal seminggu, kan?" tanya Dayan waktu Surya lewat di dekatnya, mau ke dapur mengambil minuman. "Cariin gue info soal ceweknya Tanjung."


Kemarin-kemarin Dayan tidak sampai mengandalkan informan, karena percuma juga kalau Suri cuma barang sekali pakai.


Namun sekarang dia tinggal bersama Tanjung, berarti dia punya nilai di mata Tanjung.


Tentu Dayan harus tahu.


Butuh waktu dua hari Dayan mendapat informasi, dan cuma satu yang membuatnya langsung tersenyum lebar.


"Adeknya Arul ternyata."


"Ini gue yakin sih ada campur tangan. Kebetulan banget Tanjung ketemu adeknya." Surya langsung beropini. "Kerjaan Bos lagi, kah?"


Dayan pernah bilang, kan? Tanjung punya kembaran namanya Karya, dan Bos pernah secara sengaja menyodorkan seorang gadis ke tengah-tengah organisasi—salah satu organisasi dalam Aliansi—untuk memecah belah Eksekutif.


Itu cara Bos menguji kesetiaan dan melihat cara mengendalikan mereka.


"Tapi bukan sih kayaknya." Dayan menolak itu. "Rashi sama Suri beda kelas. Rashi emang dari awal ngendaliin Karya, Alby, sama Rainal. Ini cewek lain cerita."


Pertanyaannya, ini kebetulan atau rencana seseorang?


*

__ADS_1


__ADS_2