Jadi Tawanan Preman Galak

Jadi Tawanan Preman Galak
39. Siapa Tau Balik Modal


__ADS_3

Suri menyerahkan paket itu kesal, daripada nyawanya terancam. Tapi sebelum diserahkan, Suri membukanya biar lebih mudah.


Ada kotak di dalam plastik pengamannya. Suri menatap penasaran sampai ia melotot, melihat handphone dengan tiga boba kamera warna biru cantik.


Anj*ng.


Suri sulit tidak berkata kotor dalam hatinya.


Orang kaya kalo beli kado bikin meringis.


Serius ini untuknya? Tidak, tidak mungkin hadiah sih kalau begini. Kemungkinannya salah kirim atau entahlah apa tapi yang pasti bukan hadiah buat Suri.


"Mungkin buat dititip—"


Sebelum Suri selesai bicara, ponsel itu dibanting, bikin Suri berteriak histeris.


"LO NGAPAIN?!" Suri syok sampai dadanya sakit. "ITU HP HARGA MOTOR, TANJUNG! SUMPAH LO, YAH!"


Tanjung hanya menatap tanpa ekspresi.


Ia tahu ponsel itu mahal. Tanjung juga punya satu di apartemennya.


Makanya ia banting.


Dayan, orang itu makin lama makin menjengkelkan. Dia tahu betul Tanjung akan membanting handphone yang dia berikan pada Suri, tapi dia tetap memberikannya.


Itu membuat Tanjung malah semakin kesal.


"Gue sakit hati." Suri menangis dramatis saking pilunya ia memikirkan harga handphone itu. "Gue sakit hati, anjir. Ini harganya berapa! Ganti ruginya gimana?! Huaaaaaaaa!"


Tanjung mengeluarkan ponselnya, menelepon Ikram. Hanya butuh waktu sepuluh menit dia datang, berusaha tidak berkomentar waktu Suri masih terisak-isak di lantai memikirkan harga handphone.


"Balikin ke Dayan." Tanjung menunjuk handphone pecah itu. "Ancurin dulu."


"Sampe ancur banget?"

__ADS_1


"Terserah lo."


Ikram memungut ponsel itu sambil berusaha keras tidak melirik Suri.


Waktu tak sengaja tanganya menyenggol sikut Suri, buru-buru Ikram menjauh.


Ibarat kata Tanjung pelihara anjing, anjingnya itu tidak boleh dilihat oleh siapa pun yang tidak dia izinkan.


Entah siapa Suri bagi Tanjung, tapi kalau dia bolak-balik ke sini, Ikram sudah tahu kalau bosnya itu meletakkan kepemilikan pada Suri.


Kalau Dayan memberikan Suri rumah sebesar istana, niscaya Tanjung akan meledakkannya di depan mata semua orang.


Memang egonya begitu.


Dayan mengirim ini semata cuma agar Tanjung kesal.


"Mana gue udah tanda tangan surat terima!" Suri masih depresi. "Gue gadaiin apa buat ganti itu, ya Tuhan! Sumpah, jemput aja gue kalau begini, mah. Enggak kuat lagi!"


*


Dayan terkekeh geli melihat kotak di depannya berisi handphone yang kemarin ia kirim kini sudah hancur macam krupuk udang.


Hah, Tanjung memang tidak ada otak.


Tapi masih lebih mending, karena Tanjung bisa saja mengirim balik bersama bom.


"Alamat jadi Karya kedua dia." Dayan menyilangkan kaki di atas meja, bermain-main di kursinya sambil diterpa angin asin pantai Kuta.


Iya, Dayan orang Bali, bukan Palembang. Ia cuma asal bilang pada Suri waktu itu.


"Suri, kah?" Dayan menatap foto perempuan di handphone-nya yang kalau Tanjung tahu, handphone itu juga akan dibanting berulang kali. "Siapa, yah? Kayaknya cuma orang biasa."


Di organisasi sebelah, bagian dari Aliansi juga, kembarannya Tanjung (bukan saudara) yang bernama Karya, itu juga punya kisah konyol begini.


Dia cowok kasar, cuma tahu memukul, dan pernah hampir dibuat mati oleh Bos Besar karena berani menampar gadis peliharaan Bos.

__ADS_1


Lucunya gadis yang Karya tampar itu malah menolong Karya, membawanya ke rumah sakit sampai dia tidak jadi mati.


Setelah itu Karya jadi menyukai gadis itu setengah gila. Melakukan apa pun, apa saja, demi gadis itu.


Tapi gadis peliharaan bos itu cantiknya luar biasa. Salah satu gadis paling cantik yang pernah Dayan lihat malah. Badannya montok, senyumnya kayak senyum bidadari dan kepribadiannya lembut.


Pertanyaannya, Suri ini siapa?


"Surya." Dayan melempar ponselnya ke tangan anak buahnya. "Cantik gak?"


Dia mengamati sebelum berkomentar, "Cantik, sih."


"Dibandingin sama Rashi?"


"Wah, itu sih penghinaan buat Rashi, Bos."


Dayan tergelak. "Poinnya?"


"Tujuh, lah. Gebetan baru, Bos?"


"Tujuh? Cewek gue paling rendah sembilan." Dayan tergelak. "Itu ceweknya Tanjung."


"Hah?"


"Ya wajar, sih. Tanjung emang dari dulu mainnya sama yang murah-murah, jadi seleranya rada korslet."


"Dimake up cakep kali nih, Bos." Surya menolak kenyataan. "Masa Tanjung sama modelan begini. Makeup-nya super nih pasti. Yakali Tanjung mau sama cewek spek beginian doang."


"Gue enggak pernah liat jadi gak tau." Dayan menerima kembali ponselnya yang diulurkan oleh Surya. "Hadeh, pedih gue, Sur. Gue sedekahin iPhone malah diancurin."


Surya langsung melotot. "Yang lo minta beli kemaren?!"


"Yang mana lagi?"


"Wah, babii. Handphone lo aja masih lebih murah, Bos! Gue kira elo yang mau pake!"

__ADS_1


Dayan beranjak. Menepuk-nepuk bahu Surya biar dia tenang. "Kuburin dia baik-baik. Terus temenin gue keliling, siapa tau balik modal."


*


__ADS_2