
Tanjung menatap kesal pada jarak antara Suri dan Ikram itu. Walaupun Ikram duduk dua meter dari Suri, dan Suri juga tidak menatap Ikram penuh pemujaan, menurut Tanjung mereka terlalu dekat.
Lagipula buat apa juga Ikram bicara pada Suri?
Tidak guna.
"Info yang gue cari enggak ada di sini." Tanjung menyerahkan kembali dokumen mengenai Arul. "Kenapa enggak ada? Harusnya yang ngasih info soal dia kan Sena."
Sena Sadawira adalah informan terbaik di negara ini sekaligus sumber informasi utama Bos Besar. Mustahil informasi kecil seperti adiknya Arul dia tidak punya.
Orang itu bahkan akan tahu kalau Ikram menghamili perempuan lagi diam-diam di belakang Tanjung.
"Mungkin karena dari dulu kita fokusnya ke dia sama ceweknya doang." Ikram beranjak. "Kasih gue waktu sebentar, Bos."
"Dua hari."
"Oke."
Tanjung mengusir Ikram dengan tatapannya agar jauh-jauh dari Suri.
Merasa tidak punya dosa tapi dianggap pendosa, Ikram cuma bisa menghela napas.
Ah, sudahlah. Mari fokus memikirkan cara buat pura-pura tidak tahu kalau Suri adalah adiknya Arul. Itu jauh lebih penting dan lebih bermanfaat, mungkin saja.
Sementara Ikram pergi, Tanjung melepaskan kausnya, bermaksud buat mandi sebelum istirahat.
"Tanjung." Suri tiba-tiba memanggilnya.
"Hm."
"Gue mau ngobrol."
"Hm." Tanjung tidak pernah melarang dia bicara—dan kalau dilarang pun dia akan terus bicara.
"Dua arah."
"Hm."
"Lo juga ngomong."
Tanjung menoleh. "Buat?"
__ADS_1
Lelah batin Suri, tapi seketika ingat kalau cowok di depannya adalah manusia yang bisa memberi Suri uang sekoper seperti sedang meludah tiga kali.
Nyawa Suri bisa dibeli.
"Lo mandi aja dulu. Nanti ngobrol."
Suri menyiapkan obat Tanjung selama dia mandi. Duduk di depan televisi yang menayangkan live music, diam saja sampai Tanjung datang.
"Gue mau lo jawab gue bukan diem aja." Itu harus ditekankan dulu karena kalau tidak, dia bakal menjawab dengan keheningan saja.
"Kekuarga lo di mana?" Suri langsung bertanya begitu Tanjung duduk, menyodorkan tangannya buat diberi salep.
".... Buat apa lo tau?" balas Tanjung, sesuai dugaan.
Ternyata memang benar dia tidak tahu sesuatu tentang keluarga.
Lama-lama ngeselin, tapi sekarang dilihat lagi, kayaknya dia lebih ke arah kasihan.
Suri saja hidup bersama Arul, ditinggal entah ke mana selama dua tahun, masih betah ia menunggu. Rindu kakaknya pulang agar punya teman bicara.
Namun Tanjung ... jangankan merindukan keluarga. Paham arti keluarga saja dia tidak.
Buat apa, katanya? Orang normal pasti tidak akan bertanya begitu jika pasangan hidupnya bertanya mengenai keluarga.
Ternyata kalau dikasih nada lemah begitu, Tanjung langsung luluh.
Karena tak butuh waktu lama, dia berkata, "Di luar kota."
"Lo pernah liat orang nikah?"
".... Pernah."
"Menurut lo, bedanya mereka sama kita apa?"
Tanjung diam lama. Suri pikir dia merenung, ternyata .... "Mereka ya mereka, kita ya kita."
Oke, baiklah, permisah. Memang begitulah otaknya dia jadi yah Suri yang salah.
Tolong jangan dipaksa otaknya yang 'polos itu'.
"Lo tau, orang nikah di gedung ngundang banyak orang. Menurut lo gimana?"
__ADS_1
"Ya terus?"
"Ya menurut lo aja."
Tanjung diam lagi, mikir panjang sebelum dia jawab, "Buat ngeliatin ke orang-orang yang perlu kalau lo punya power."
"Hah?"
"Bos gue nikah sama perempuan cantik yang enggak kuliah." Tanjung menjawabnya sangat serius. "Sementara dia waktu itu udah punya lima perusahaan besar, empat perusahaan bayi—perusahaan yang umurnya di bawah lima tahun."
"Dunia udah tau siapa Bos, banyak cewek-cewek sekelas anak perdana mentri mau jadi istrinya. Tapi dia nikahin cewek yang dia besarin sendiri."
Suri cengo. Tunggu, bukan itu yang mau—
Tanjung lanjut bercerita. "Jadi mau enggak mau dia harus bikin acara super mewah yang keliatan simpel tapi ngabisin duitnya miliaran buat nunjukin status, harga dirinya, plus nunjukin pantes enggak cewek itu jadi istrinya."
"Bos juga jadiin dirinya sama istrinya itu role model buat banyak orang. Strategi politik yang seakan-akan nunjukin dia sayang banget sama istrinya, muasin penonton halu yang tiap hari ngeliat mereka di sosmed, sambil diem-diem ngontrol arus pendapat masyarakat. Buat mulai itu, Bos harus keliatan menuhin standar masyarakat."
"...."
"Gitu maksud lo?"
Simpelnya Tanjung bilang pernikahan adalah politik. Menikah besar-besaran kalau memang tujuannya untuk pamer.
"Anggep aja gitu." Suri menyerah. Kepalanya malah pusing karena Tanjung membuat itu jadi rumit. "Keluarga lo enggak pa-pa enggak tau soal gue?"
"Buat?"
Suri menarik napas, berusaha sangat sabar. "Gue kepo aja rasanya punya keluarga gimana."
"Gimana?" Tanjung malah bergumam seolah dia bingung. "Nyusahin."
"...."
"Enggak ngasih gue untung, enggak bikin gue terhibur, enggak juga bikin gue tambah pinter. Enggak ada gunanya."
Suri tersenyum. "Gitu, yah?"
Tidur ajalah.
*
__ADS_1
macam-macam ekspresi tanjung : 😶😑😶😑😶😑😶😑