Jadi Tawanan Preman Galak

Jadi Tawanan Preman Galak
45. Sultan Yang Enggak Sadar Diri


__ADS_3

Suri kaget dong diajak pindah. Suri tahu sih dirinya mungkin sedikit berlebihan kemarin, mengira Tanjung meninggalkannya padahal cuma sehari dia tidak pulang.


Tapi bagi Suri yang pernah mengalaminya bersama Arul, ia benar-benar tak sanggup ditinggal sehari saja.


Suri masih mengira ia mau ditinggal, sekarang Tanjung malah mengajaknya pindah?


Walaupun itu berarti Tanjung enggak punya niat mengoshting, tapi artinya Suri harus meninggalkan tempat ini. Tempat satu-satunya yang ia rasa bakal mempertemukan dirinya dengan Arul lagi.


Iya, oke, Suri tahu Arul mungkin sudah lupa padanya. Arul mungkin memang enggak ada niatan buat pulang. Tapi, dia satu-satunya yang Suri punya di dunia.


Cuma dia.


Kalau Suri meninggalkan tempat ini, berarti kemungkinan Suri bertemu Arul ... makin kecil.


"Emang harus pindah?" tanyanya, berharap dia berubah pikiran.


"Harus," jawab Tanjung tanpa menoleh. Terlihat sibuk sama handphone-nya.


"Emangnya lo enggak suka di sini? Kita di sini aja, yah? Yah, Tanjung, yah? Pleaseeeeeeeee."


"Harus." Tanjung menjawab singkat, padat, tegas.


Dan terus fokus ke handphone.


Waktu Suri mengintip—mungkin dia lagi chattingan sama orang lain—ternyata yang diintip justru semacam diagram dengan satu dua tulisan bahasa Inggris.


Alias kerja.


Kalau gue bilang enggak mau, kayaknya enggak tau diri banget.


Suri itu bakal membalas mata dengan mata. Sebisa mungkin. Kalau Tanjung meninggalkannya, bakal ia siram dia dengan minyak panas.


Tapi karena dia pulang, berarti dia enggak membuang Suri.


Ibaratnya Suri malah jadi beban kalau merengek padahal sudah dikasih ini itu.


"Yaudah."


Suri bakal meninggalkan pesan ke pemilik kontrakan kalau memang nanti Arul pulang. Tapi kalau enggak, ya berarti Suri enggak membuang waktu menunggu lagi.


Butuh waktu sehari semalam membereskan semuanya. Termasuk barang-barang Arul yang Suri taruh dalam boks, disusun rapi.

__ADS_1


Tanjung sejak awal sampai akhir kelihatan sibuk sama ponselnya. Dia cuma beristirahat waktu tidur beberapa jam, bangun makan dan sibuk lagi.


Pantas kaya.


Begitu semua beres, Suri mengikuti Tanjung jalan meninggalkan kawasan menjelang pukul tujuh malam.


"Gue kepo." Suri berusaha menyusul langkahnya Tanjung. "Lo kok enggak punya mobil?"


Oke, pertanyaan itu malah terkesan kayak matre.


"Maksud gue, duit lo banyak. Biasanya orang banyak duit beli mobil, motor harga M-M-an gitu. Lo enggak suka? Oh, atau lo punya mobil tapi enggak dipake di rumah?"


Tanjung menatapnya sekilas. "Enggak."


"Enggak apa?" Kenapa dia terus menjawab singkat segala sesuatu, demi Tuhan!


"Gue enggak punya mobil."


"Kenapa?"


"Ribet."


Tanjung mengerutkan kening, bingung.


Kenapa ia harus pergi jauh? Semua tempat yang harus Tanjung datangi bisa ia jangkau pakai jalan kaki. Kalau tempat itu sudah tidak bisa dijangkah dengan langkah, berarti urusan harus selesai dengan orang itu datang pada Tanjung.


Satu-satunya waktu Tanjung memakai kendaraan adalah saat kondisi darurat.


Sampai di gedung apartemen Tanjung, Suri melongo.


Makin yakin dirinya kalau Tanjung itu anak juragan sawit. Atau juragan emas, juragan tanah dan jenis-jenis juragan lain yang duitnya beranak setiap bulan.


"Gede banget."


Suri sampai enggak tahan mendongak ke langit-langit. Masuk ke lift yang ada cerminnya, yang bikin Suri ngerasa menggembel sendirian.


"Yang tinggal di sini semuanya sultan, yah?"


Tanjung menoleh. "Sultan?"


Suri melotot. "Lo enggak tau sultan?"

__ADS_1


"Raja."


Dih. Sultan yang enggak sadar diri.


Suri cuma geleng-geleng, sementara Tanjung malah tidak paham dengan respons Suri.


Perhatian Tanjung tertuju padanya waktu Suri masuk ke unit mereka, dan gadis itu langsung tercengang, lagi.


Padahal apartemen Tanjung kosong.


"Ih, gila." Suri mendongak, berputar-putar melihat seluruh sudut. "Kayak hotel bintang enam, loh."


Tanjung yang pernah ke hotel bintang enam cuma bisa berpikir kalau hotel itu tidak seperti tempat ini.


Unit Tanjung sederhana. Isinya cuma ranjang, sofa, ruang kerja yang isinya komputer, meja, terus dapur yang kulkasnya cuma ada air putih dan bir.


"Gue tinggal di sini? Serius di sini?"


"Enggak suka?"


Suri mengerutkan bibir. "Gue takut pas gempa bangunannya jatoh, gue ketiban terus gue meninggal."


"...."


"Tapi ngomong-ngomong, lemari lo mana?"


"Enggak ada."


Tanjung bukan orang yang suka membeli sesuatu kalau enggak butuh.


Tanjung sekarang cuma punya lima lembar baju bersama lima celana. Buat apa dirinya memenuhi ruangan dengan lemari padahal bajunya tinggal diletakkan di sofa?


"Apartemen segede ini lo enggak punya lemari?!" pekik Suri syok.


"Gue enggak suka menuhin tempat."


"Tapi lemari tuh barang yang mesti ada di semua rumah, Tanjung! Please deh, ah!"


Bukan urusan Tanjung orang lain punya kebiasaan beli apa.


*

__ADS_1


__ADS_2