Jadi Tawanan Preman Galak

Jadi Tawanan Preman Galak
104. Manis-Manis Gurih


__ADS_3

"Oya, oya, oya? Mantan Bos mau ngajarin Bos." Dayan terkekeh. "Emang ada tulisan di kontrak lo sama Bos, 'kalau Tanjung keluar Aliansi, Bos Besar udah enggak boleh ikut campur'. Hm? Ada?"


Tanjung memang sudah bukan bagian dari Aliansi yang berarti Dayan tidak perlu menahan istrinya dari Tanjung.


Penahanan itu awalnya dilakukan untuk menghentikan kemungkinan perpecahan di divisi Tanjung karena rasionalitasnya yang terganggu akibat Suri.


Jika Tanjung terganggu, divisinya bisa ikut terganggu dan jika orang di puncak seperti Tanjung terganggu, satu Aliansi bisa terganggu.


Tapi, bahkan kalau sekarang Tanjung bukan siapa-siapa, dia masih orangnya Bos Besar. Kontrak antara dia dan Bos masih berlangsung, jadi Dayan pun masih punya alasan menahan istri Tanjung.


Kecuali Suri mau menemui Tanjung.


"Gue bilang sekali lagi, enggak ada perintah buat gue biarin lo ketemu istri lo. Sebenernya, Bos juga enggak nyuruh gue jemput lo. Ini murni kebaikan hati gue, mantan patner lo."


Tanjung hanya diam.


"Lagian, kalau lo lupa, lo itu Tanjung."


Apa dia tidak memahami itu?

__ADS_1


"Orang yang pernah ngelawan Aliansi terus lo abisin, daripada bales dendam sama Aliansi, pasti lebih milih bales dendam secara personal. Ke elo. Dan tring! Kalo gue lepasin istri lo, terus istri lo diambil orang, lo bakal ngejual semua informasi Aliansi bahkan diluar Aliansi, buat nyelametin mereka."


Dayan tertawa lepas. Tunggu Dayan bodoh dulu baru ia melakukan itu.


Untungnya selama ini Dayan masih pintar, jadi ya mana mungkin ia lepaskan Suri begitu saja.


Tanjung benar-benar lucu. Dia seperti berharap hidup normal setelah dia melibatkan diri bertahun-tahun dalam keabnormalan.


Hidup dia saja sudah mustahil aman sendirian, sekarang dia mau mengambil istrinya yang berpotensi jadi alat dagang?


"Lagian," senyun Dayan berubah dingin, berdiri di hadapan Tanjung yang terus diam mengamatinya, "lo kan udah dibenci sama Suri. Daripada mikir mau ngambil dia, gimana kalau lo mikir dulu gimana caranya dimaafin sama dia?"


Dia meraih kerah kaus Dayan dan nyaris melayangkan tinjuan.Namun bersamaan dengan itu, Surya berdiri di belakang Tanjung, menodongkan pisau ke lehernya.


Yah, walau hampir bersamaan pula Ikram meletakkan moncong pistol di punggung Dayan.


"Oke, damai." Dayan mengangkat tangan. "Lo mesti inget lo enggak di posisi bisa mukul seenaknya lagi sekarang. Anak buah lo tinggal dia, anak buah gue ada di mana-mana."


Tanjung masih memegang kerahnya. Nampak mempertimbangkan apakah dia harus tetap memukul atau tidak. Orang ini tipe yang tidak akan pernah ragu sekalipun dia terancam juga.

__ADS_1


Pokoknya habisi dulu, risiko itu urusan belakang.


"Lo tau siapa yang bakal rugi kalau diterusin, kan?" ucap Dayan, pada Ikram.


Dia akan lebih bisa berpikir daripada orang tidak waras yang ditinggal istri dan anaknya ini.


Dan sesuai perkiraan, Ikram menarik senjatanya. Ikram menghela napas, bergerak menahan tinjuan Tanjung.


"Bos, lo mesti inget Suri sama Rana ada di tempat dia."


Tanjung mendorong Dayan, tapi sekaligus melepaskannya.


Surya pun mundur sementara Dayan tertawa.


"Tegang amat sih. Come on. Gue ajak keliling Bali, berhubung ini pertama kali."


Seru kan mengerjai orang? Dayan paling menikmati kalau orang lain sudah sangat kesal tapi tidak bisa berbuat apa-apa.


Rasanya manis-manis gurih.

__ADS_1


*


__ADS_2