
"Lo bisa jalan sendiri, kan?" tanya Ikram memastikan.
Suri susah payah memasang jaket ke badannya, berjalan sendiri biarpun serasa mau jatuh.
Mereka akan berangkat ke rumah sakit sesuai permintaan Dokter Moris dan tentu saja izin Tanjung.
Kata Ikram, Tanjung tidak akan suka kalau Suri disentuh seseorang, jadi kalau Suri tidak bisa jalan sendiri, maka mereka belum bisa ke rumah sakit.
Tapi Suri mau tahu apa dugaan Dokter Moris salah atau benar, jadi siang ini Suri bersiap, keluar dari apartemen dikawal oleh Dika dan Ikram.
Dika menyetir mobil entah punya siapa, membiarkan Suri duduk sendirian di belakang.
Setiba di rumah sakit, Suri cuma perlu menunggu beberapa menit untuk bertemu dokter kenalan Dokter Moris. Tidak banyak bertanya, dokter itu menangani Suri.
Masih sambil diawasi oleh Ikram, Suri menjalani tes. Menunggu beberapa waktu sampai dokter bisa mengonfirmasi hasilnya.
"Umurmu berapa?" Itu adalah pertanyaan pertama dokter padanya.
Suri diam sejenak. "Dua puluh satu."
Dokter itu tersenyum kecil. "Untuk hasil tes darah dan tes lain, hasilnya positif. Kamu hamil."
Ekspresi Suri tidak berubah.
Ikram yang ada di sampingnya berulang kali mengecek apakah Suri menangis, atau mungkin panik, atau mungkin takut, atau apa pun itu yang bisa jadi reaksinya.
Pengalaman Ikram menghamili tiga wanita membuatnya yakin kalau mereka setidaknya bakal membuat keributan. Tapi Suri ternyata diam.
"So," dokter perempuan itu mengangkat alis, "saya perlu tau tindakan selanjutnya. Resep vitamin atau ... prosedur aborsi?"
Suri kosong.
Jauh di dalam hati, ia merasa tengah melakukan kesalahan.
Yah, dari awal sudah salah. Karena Suri sendiri yang bilang hanya mau merelakan kesuciannya jika sudah menikah.
Tapi, kalau Suri pikir-pikir lagi, memang dirinya ini siapa bermimpi menikah?
__ADS_1
Laki-laki ingin pasangan mereka wanita baik-baik, berpendidikan dan seterusnya. Sementara Suri hanya menghabiskan waktu mencari uang untuk bayar kontrakan kecil sambil menunggu Arul pulang.
Ia sama sekali bukan siapa-siapa di mata siapa pun dan tidak bisa menjadi siapa-siapa di mata siapa pun.
"Resep vitamin." Ikram yang menjawab setelah sekian lama Suri diam. "Dan obat apa pun yang dia butuhin."
Dokter tidak banyak bicara, langsung memberikan apa yang diperlukan.
Suri keluar dari ruangan dokter itu tanpa tenaga lagi. Ia berjalan sendiri, kadang-kadang oleng, diikuti oleh Ikram dan Dika di belakang.
Mereka tidak mau berkomentar soal apa pun itu mengenai kehamilan Suri, sebab keputusan Tanjung yang menentukan segalanya.
*
Malam harinya Tanjung kembali, itu bersamaan dengan Dika datang membawa paket makanan untuk Suri.
Pria itu melirik Suri di karpet, tengah duduk menonton di televisi yang entah sejak kapan ada. Memang tidak pernah ada TV di kehidupan Tanjung, sebab ia tak merasa benda itu punya kegunaan.
Tapi kalau Suri menikmatinya, Tanjung tidak merasa harus berkomentar.
"Ikram."
Tanjung masih punya banyak pekerjaan di otaknya, jadi dia tak menyapa Suri. Prinsip Tanjung, semua beban pekerjaan harus selesai dulu baru ia bersantai dengan gadis itu.
Mereka keluar dari kamar berhubungan Tanjung pun sudah kembali, meninggalkan Suri sendirian bersama makanannya.
Di luar, Tanjung langsung membicarakan urusannya.
"Mana dokumen soal Arul?"
Ikram mengangkat alis. "Arul?"
Dia tidak mungkin tidak paham maksud Tanjung, karena satu Aliansi mengenal nama itu sebagai seorang pengkhianat pertama.
"Gue perlu dokumennya."
"Emang kenapa, Bos?" Ikram diam-diam merasa agak tegang, karena tiada angin tiada hujan Tanjung bicara soal Arul.
__ADS_1
Biasanya dia tidak mau. Karena dia benci orang itu.
"Dayan bilang dia punya adek. Lo tau?"
Ah, Dayan, dasar sosiopat itu. Dia benar-benar berencana memberitahu Tanjung soal Suri, dan mungkin sebaliknya pula.
"Lo mau nyari adeknya Arul, Bos?"
"Ya."
Baiklah. Adiknya Arul sedang berada di kamar Tanjung, menikmati waktu santai bersama ayam crispy dan film di Netflix, merenungi anak Tanjung di perutnya.
Kira-kira kalau Ikram jawab begitu, respons Tanjung bagaimana?
"Gue enggak merhatiin." Ikram menjawab diplomatis saja. "Kayaknya enggak ada sih disertain informasi soal adeknya. Lagian waktu Arul gabung, dia bilang dia enggak punya keluarga lagi."
"Cari adeknya."
Ikram dan Dika cuma bisa berkata baik, dan membiarkan Tanjung masuk ke unitnya.
Dayan memang punya hobi yang buruk. Sekarang cuma menunggu detik sampai Tanjung tahu yang dia cari di depan matanya.
Tapi karena Tanjung tidak tahu, dia cuma melihat Suri sebagai Suri.
Pria itu mandi, ganti baju, lalu menghampiri Suri untuk mengecek suhu badannya.
"Dokter bilang apa?"
"...."
"Gue cuma bakal nanya sekali lagi. Dokter bilang apa?"
"Gue udah nanya berkali-kali, lo siapa, masih enggak lo jawab."
"Lo—"
"Oke kalau lo enggak mau jawab lo siapa." Suri menoleh. "Status kita apa?"
__ADS_1
*