Jadi Tawanan Preman Galak

Jadi Tawanan Preman Galak
94. Tahu Semuanya tapi Diam


__ADS_3

Teguh sudah siap akan risiko. Dari sejak ia memberi Suri hadiah pun Teguh sudah siap.


Ia melakukan ini semata karena nurani. Walau Arul dulu berkhianat, ia rasa tak layak Suri menjadi istri dari Tanjung yang menenggelamkan orang sekarat agar dia mati lebih tersiksa.


Tapi, Suri ternyata sangat mencintai Tanjung. Atau entahlah, apa pun yang Suri jadikan landasan pendapat.


Bagaimanapun, memang hidup di sisi Tanjung itu menguntungkan.


Tidak ada penjahat di kota ini yang akan berani menyentuh Suri, dan di kota mana pun dia memijak, seluruh Eksekutif Aliansi akan menghargainya karena Tanjung.


Uang pun jangan ditanya. Jika nanti Aliansi bubar, Tanjung mungkin sudah punya jet pribadi untuk pergi ke mana-mana saja dia mau liburan.


Tentu Tanjung lebih pantas—


"Gue enggak bisa."


Suri tiba-tiba menatap Ikram dengan sorot mata yang mati.


"Kalo Tanjung nyembunyiin sesuatu, gue masih mau sama dia? Lo mau tau jawabannya? Gue enggak bisa."


Teguh tertegun. Tapi yang paling membuatnya terkejut, Suri berdiri menghadapi Ikram.


"Udah gue duga, mau gimana manis jawaban lo tadi," jawab Ikram tersenyum. "Biarpun yah, itu enggak ngubah banyak. Lo sama Bos udah—"


Sebuah pukulan tiba-tiba mendarat di wajah Ikram.


Jelas yang paling terkejut adalah Ikram. Meskipun itu tidak sesakit pukulan pria, tapi Ikram langsung menatap Suri penuh permusuhan.


"Lo mukul gue?" Seumur hidup baru kali ini Ikram dipukul perempuan.

__ADS_1


"Gitu lo liat kakak gue dipukul?" Suri membalas tanpa rasa. Sekali lagi memukul Ikram. "Atau gitu?"


"...."


"Lo salah paham," gumam Suri, menunjuk wajahnya. "Mau gue apain lo sekarang, lo mesti diem. Karena kalo ngelawan, Tanjung yang bunuh lo. Gitu, kan?"


*


Itu kenyataan yang tidak terbantahkan.


Satu-satunya waktu Ikram boleh melawan adalah Suri akan membunuhnya. Kecuali kondisi itu, mau diapakan pun ia harus berhati-hati mengelak, sebab Tanjung tidak akan mau peduli.


Tanjung juga tidak pernah menyuruh Ikram buat jadi target pukul seseorang. Tapi kalau Ikram melawan lalu Suri terluka, Tanjung tidak akan bertanya sepatah katapun pada Ikram dan akan langsung menghabisinya.


Suri tahu betul itu.


Jadi Ikram benar-benar diam berulang kali Suri memukulnya.


Tangan Suri langsung lebam, padahal Ikram yang dipukul.


"Emang kenapa kalo kakak lo udah mati? Dia kan udah enggak idup. Kenapa lo masih ngeributin dia? Tinggal lo lupain, kan? Toh, bos yang—"


"Gue kira lo temen gue."


Ikram membeku.


Tak bergerak seinci pun saat Suri mundur, menutup wajahnya. Wanita itu terhuyung dan menangis keras. "Gue kira lo temen gue, bangsatt!"


Tangisan Suri memenuhi setiap sudut ruangan. Teguh akhirnya berani menyentuh Suri, memegangi lengannya berharap dia lebih mengendalikan diri.

__ADS_1


Belum.


Masih belum.


Yang benar-benar harus dia lawan belum datang.


"Suri."


"Gue nunggu bertahun-tahun!" Suri mencengkram rambutnya, berteriak histeris. Kini Suri tak dapat menerima kenyataan. "Gue nunggu sendirian bertahun-tahun! Gue percaya kakak gue bakal pulang tapi lo! Lo bilang dia enggak penting?!"


"Suri—"


Tangisan Suri berubah jadi rintihan. Kepalanya bahkan bersujud di lantai, memukul-mukul permukaan marmer sambil terus berteriak kesakitan.


"Gue enggak makan." Suri melolong. "Gue enggak makan buat nyari dia! Gue bela-belain kerja sampe tengah malem juga buat dia! GUE BILANG KE SEMUA ORANG ARUL KAKAK GUE BAKAL PULANG!"


Lalu dia dengan mudahnya berkata Arul sudah mati jadi lupakan saja?


"BALIKIN KAKAK GUE!"


"Ini kenapa?"


Suri tersentak mendengar suara itu. Suara pembunuh yang membuat Suri kesepian selama bertahun-tahun.


Orang yang seharusnya salah karena melenyapkan Arul.


Suri bisa tahu, betapa puas dia melakukan itu. Betapa dia mudah, tanpa berpikir sama sekali, membakar uang yang dia punya tanpa alasan jelas—lalu dia membunuh Arul juga karena Arul mengambil uangnya, untuk hidup.


Orang menjijikkan yang tahu semuanya tapi diam saja.

__ADS_1


***


__ADS_2