
Kenapa Tanjung banyak berbuat bodoh belakangan ini? Sudah tahu pasti akan terbakar, kenapa ia malah membiarkan tangannya tetap terluka cuma buat menolong Suri?
Kan lebih mudah kalau dia yang terbakar. Setidaknya cuma ada satu korban.
Tapi Tanjung tidak tahu kenapa tangannya spontan bergerak. Ia cuma merasa tidak suka kalau Suri yang harus terluka, biarpun Tanjung juga tidak suka kalau ia malah ikut terluka.
Ck.
"Lumayan parah." Dokter Moris berkomentar melihat tangan Tanjung yang kini memerah saga.
Walau komentarnya pun bisa Tanjung katakan tanpa harus diberitahu. Orang rabun melihat ini pun juga tahu lukanya parah.
"Tangan kamu jangan dipake buat apa-apa dulu. Nanti saya kasih resep obat anti nyeri sama salep. Kemungkinan lukanya nanti hitam, jadi lebih baik ditutup dulu atau enggak usah beraktivitas di luar ruangan."
Penjelasan Dokter Moris tidak Tanjung dengarkan, karena menurutnya tidak penting.
Tanjung lebih fokus menatap Suri yang diam tertunduk. Kenapa lagi dia? Jangan bilang dia lapar?
Makanya kalau memasak seharusnya dia tidak lompat. Gara-gara itulah pancinya sampai tumpah.
"Tangannya juga luka," ucap Tanjung datar. Dirinya terluka lebih parah, namun perempuan biasanya lebay, jadi lebih baik dia yang diobati.
Lagipula, bakal merepotkan kalau Suri menangis karena tangannya sakit.
Dokter Moris melihat Suri, lalu meminta tangannya untuk diperiksa.
Bukannya memberi, Suri malah cuma menunduk.
"Suri?" Dokter Moris berusaha meminta baik-baik.
Bukan karena apa-apa tapi karena tahu kalau Tanjung sudah bicara, itu sudah kode perintah. Turuti dia atau kemarahannya memuncak.
"Suri, tangan kamu biar saya periksa," ucap Dokter Moris tegas.
Suri terus menunduk. Meremas tangannya satu sama lain.
Luka Suri cuma sebesar tiga biji nastar, sementara tangan Tanjung dua-duanya, dari jemari, telapak sampai pergelangan.
__ADS_1
Itu semua karena dia melindungi Suri.
Berarti semuanya salah Suri.
"Maaf." Suri tidak berani melihat Tanjung. "Maafin gue."
Tanjung mengangkat alis tidak paham. Maaf apa lagi? Maaf karena dia susah ditebak?
Memang perempuan ini tidak bisa dimengerti akalnya. Percuma dia minta maaf.
Daripada bicara, memang lebih baik bertindak. Jadi Tanjung mengambil tangan Suri, menarik dia lebih dekat ke Dokter Moris.
Meskipun itu bikin telapak tangan Tanjung serasa dikuliti.
Saya enggak nyangka bakal begini, gumam Dokter Moris, diam-diam melihat Tanjung. Dia kayaknya tertarik sama Suri. Agak terlalu.
Bagi yang kenal siapa Tanjung, perilaku dia sekarang ini seperti perilaku orang habis ngobat. Orang teler yang berperilaku tidak masuk akal.
Lelaki yang terbilang masih sangat muda, tapi sudah menguasai dunia bawah seisi kota. Terlibat dengan bisnis narkoba, alkohol, sampai human trafficking.
Tanjung bukan the real boss. Dia punya bos yang dia takut pada orang itu dan melakukan apa perintahnya tanpa banyak bicara.
Ibaratnya, dia jantung kota ini, di dunia malam.
"Lukanya enggak parah." Dokter Moris menuliskan resep segera untuk dua pasiennya. "Cuma bakal perih beberapa hari. Saya kasih resep anti nyeri juga, sama salep yang ringan."
Sebenarnya yang harus diperiksa itu kondisi luka dalamnya Tanjung. Luka dari pertarungannya kemarin.
Dokter Moris lihat mukanya dia pucat menahan sakit. Mungkin dia belum minum anti nyeri atau karena dia terlalu banyak bergerak padahal harusnya istirahat.
Masalahnya, Tanjung itu manusia yang tidak boleh diajak bicara kecuali dia mengajak bicara duluan.
Jadi Dokter Moris beranjak pergi, karena dia bukan seorang dokter berlisensi untuk repot-repot mengurusi nyawa seseorang.
*
Setelah Dokter Moris pergi, Suri langsung mau keluar beli obat. Ia berjalan diikuti dua laki-laki berkaos hitam, pulang bersama sekantong obat beda jenis.
__ADS_1
Suri merasa sangat bersalah karena kondisi tangan Tanjung. Apalagi waktu dia berbaring, mukanya kelihatan dia sakit.
Duh, kok malah jadi Suri yang berdosa? Aturannya kan cowok ini yang salah.
"Gue minta maaf."
Suri merasa berdosaaaaaaa kali sampai sulit kalau tidak berulang-ulang minta maaf.
"Gue enggak sengaja. Maaf, yah."
"...."
"Enggak bakal gue ulang lagi kok. Sumpah, enggak bakal."
"...."
"Lo kalo—"
Ucapan Suri terhenti ketika ia mendongak, Tanjung sudah membungkuk ke wajahnya.
Dia menatap Suri lekat. Memiringkan wajah sebelum tiba-tiba mencium bibirnya lagi.
Kali ini Suri sudah tahu dan memang tidak menghindar. Ia cuma diam waktu Tanjung menciumnya sampai napas Suri tersekat.
Suri sampai batuk-batuk. Tidak punya ketahanan dalam menahan napas lama sementara cowok ini menciumnya terlalu dalam.
Sambil tangannya tetap berusaha mengoles salep pelan-pelan, Suri mendongak lagi, melihat Tanjung yang duduk di tepi ranjang sementara Suri berlutut.
"Lo suka sama gue?" tanya Suri hati-hati. "Lo ngelakuin ini karena suka sama gue, yah?"
Tanjung memicing.
"Sori yah, tapi gue sebenernya—"
"Kenapa gue harus suka sama lo?"
Hah?
__ADS_1
*