Jadi Tawanan Preman Galak

Jadi Tawanan Preman Galak
8. Penyiksaan Adalah Bantuan


__ADS_3

Jelas, Suri mematung.


Uang segitu tidak bisa ia pegang meski bekerja tiga bulan penuh, tapi dia baru saja membakarnya?! Orang sinting ini baru saja membakar uang yang bisa menghidupi sepuluh manusia macam Suri?!


Wah, orang gila! Orang tidak waras! Orang tidak layak hidup!


Suri rasanya mau berlutut, meratapi betapa mahal kertas-kertas itu didapatkan sampai keringat dan air matanya kering, terus dia malah membakarnya di depan Suri!


"Lo!" Saking syoknya, Suri tidak bisa berkata-kata banyak. Padahal dalam kepala, Suri berteriak dengan berbagai macam bahasa.


"Ini harga diri." Cowok itu malah bergumam rendah. "Yang kayak gini enggak penting, tapi bikin lo mau mati."


Dia menginjaknya penuh keyakinan.


Padahal masih ada bara.


"Lo kira ini ada harganya? Orang lain yang bikin ini ada harganya."


Suri terbungkam. Mematung memandangi manusia yang kini terlihat macam raja iblis ingin memusnahkan umat manusia.


"Kalo buat lo enggak ada harganya, berarti enggak ada harganya. Cuma kertas." Lalu dia berbalik, mendorong tiang infusnya menuju kasur.


Terlelap begitu saja.


*


Suri tidak bisa tidur memikirkan segepok uang dibakar.


Alhasil pagi ini ia seperti zombie, keluar dengan mata terkantuk-kantuk sampai harus minum obat dan kafein agar tetap terjaga.


Sekaya apa dia sampai uangnya dibakar dia tetap tak berekspresi?


Apa jangan-jangan dia segelintir manusia yang merasa kalau uang itu cuma untuk orang-orang miskin?


Tidak, kalau dipikir-pikir, orang itu bahkan tak pernah berekspresi. Tapi kenapa dia harus membakar uangnya cuma karena Suri menolak?

__ADS_1


Pikiran Suri dipenuhi pertanyaan, meski begitu ia harus tetap fokus bekerja.


Maka Suri datang ke tempat kerja pertamanya, namun dihadapkan pada situasi aneh.


"Maaf yah, Mbak. Kemarin ada maling masuk ke sini, ngambil barang-barang di kantor Bos. Bos marah banget, minta semua staff terutama staff kebersihan diganti. Sori, yah. Ini pesangon."


Suri melongo.


Apalagi waktu menerima selembar uang lima puluh ribu di tangannya. Kepalanya nyaris pecah hanya karena hal itu, tapi Suri bahkan tak bisa protes.


Kalau maling masuk kenapa Suri yang harus kena?


Suri kan staff kebersihan, bukan staff maling!


Sayangnya, naif kalau Suri pikir cuma itu penderitaannya. Waktu ia pergi ke tempat kerja ke dua, tak ia sangka akan mendengar ucapan nyaris sama.


Sama-sama ia ditendang.


"Udah ada peraturan staff yang kerja harus punya minimal kartu mahasiswa. Enggak tau deh kenapa Bos tiba-tiba bilang selain itu enggak boleh. Maaf yah, Suri."


Tentu Suri coba protes, karena kalau kerjaannya hilang, kontrakan mana bisa ia bayar?


"Duh, marah-marah sama saya juga kan enggak ngubah apa-apa. Soalnya ini Bos yang bilang. Kita bisa apa?"


Terus Suri juga bisa apa? Masa ia dipecat dari dua tempat berbeda tanpa alasan logis?


Tatapan Suri mati. Dadanya sudah sesak menerima perlakuan tak adil, dan kepalanya mau pecah memikirkan bulan depan ia membayar kontrakan bagaimana.


Uangnya sudah ia berikan pada Ayudia.


Tapi, ternyata dunia dendam pada Suri.


Karena waktu ia mendatangi Ayudia untuk membantu lebih awal, perempuan itu malah bilang, "Gue kayaknya mau ke Bandung dulu, Ri. Lama kayaknya. Di sana banyak klien minta dibikinin kue."


Saking frustrasinya, Suri cuma bisa senyum. "Gitu, yah? Toko di sini tutup dong, yah?"

__ADS_1


Kalau toko tutup, berarti Suri dipecat dong, yah?


Takdir ampas.


Suri tersenyum kecut. Menyambar tasnya untuk berlari pergi, ke mana saja ia bisa menghilang.


Dunia menjengkelkan dan tidak adil ini, lebih baik runtuh saja!


*


Tanjung menunggu Suri pulang hari ini, karena ia tahu dia pasti akan pulang cepat. Semua tempat kerja Suri pasti sudah menolak gadis itu, jadi dia mau tak mau harus pulang menerima uang yang Tanjung berikan.


Memang merepotkan. Harusnya dia terima saja kalau Tanjung memberinya sesuatu.


Tapi ternyata salah. Malam memasuki pukul sebelas, gadis itu belum kunjung datang.


Ponsel baru di saku Tanjung jelas langsung ia gunakan menghubungi Ikram.


"Dia ke mana?" tanyanya langsung.


"Dia siapa?"


"Cewek yang gue bilang."


"Ah, yang lo siksa?" balas Ikram spontan. Mungkin karena spontan, dia bicara tanpa otak.


Siapa yang menyiksanya? Buat apa juga Tanjung menyiksa orang asing?


Tanjung mendengkus. Ia memutus semua sumber penghasilan Suri agar mau menerima uang dari Tanjung.


Daripada dia kerja dari pagi sampai malam, Tanjung bisa memberinya lebih banyak tanpa melakukan apa-apa. Biar dia tahu Tanjung tidak main-main.


Ia membantu. Kenapa malah menyiksa?


Dasar bodoh.

__ADS_1


*


__ADS_2