
Tidak ada sesuatu yang tidak punya risiko. Sejak awal Bos Besar sudah mengingatkan bahwa pernikahan Tanjung tidak boleh sampai memiliki masalah yang menyebabkan perpecahan.
Karena Tanjung terikat kontrak dengan Bos Besar. Yang punya otoritas atas segala sesuatu di hidup Tanjung, termasuk mengatur Suri.
"Akh!" Tanjung memukul pintu rumah, semanta cuma untuk melampiaskan rasa marahnya.
Tidak akan ia biarkan semudah itu.
"Minta izin agresi ke Bos, sekarang!"
Ikram tidak bergerak. "Lo lupa soal peraturan Aliansi, Bos?"
Peraturan yang mengatakan orang terkuat di organisasi dengan orang yang dianggap berpotensi setara dengan orang itu tidak boleh berkonflik kecuali atas dasar pengkhianatan.
Tanjung adalah orang terkuat di organisasi, dan salah satu yang terbaik di Aliansi. Sementara Dayan adalah orang kedua, dan salah satu yang disegani.
Aliansi membuat peraturan tidak bolehnya ada konflik antara mereka. Bahkan jika Tanjung minta izin.
"Lo tenang dulu, Bos. Dayan cuma bawa Suri karena kemungkinan dia bikin masalah di sini. Bos Besar juga bakal balikin istri lo lagi."
Tapi tetap saja!
__ADS_1
Suri, apalagi Rana, adalah hal yang Tanjung bahkan akan lindungi jika Bos Besar ingin mencelakai mereka. Bagaimana Tanjung tenang jika yang membawa justru bajingan macam Dayan?
"F*ck." Tanjung mengusap wajahnya kasar, sungguh berharap agar setidaknya benar-benar tenang. "Gue perlu ketemu Bos sekarang."
Begitu Dika mendapat kabar bahwa Bos Besar sedang berada di pulau Sumatra, Tanjung memukul tembok karena emosi.
Tanjung bisa pergi ke Sumatera detik ini juga, tapi peraturan melarangnya meninggalkan kota kecuali untuk urusan pekerjaan yang disetujui.
Mau tak mau, Tanjung harus menunggu sampai Bos Besar kembali.
*
Suri menangis sepanjang perjalanan. Rasa jijik dan penyalahan besar pada dirinya sendiri menggunung dalam hati Suri.
Seharusnya Suri tidak menolong orang sialann itu.
Seharusnya Suri biarkan dia mati.
Tuhan sudah memberinya kesempatan balas dendam, menginjak-injak Tanjung sampai dia mati hari itu, tapi dengan tololl Suri menolongnya, berpikir kalau ia punya kontribusi sosial?
"Lo lebih emosian dari yang gue pikirin." Dayan berdiri di samping Suri, mengulurkan sebungkus tisu kecil tapi tidak Suri terima. "Yah, whatevs. Anyway, kakak lo dibuang di sini."
__ADS_1
Suri langsung menoleh.
Kini, ia dan Dayan berada di atas kapal berukuran cukup besar. Dia bilang mereka akan ke Bali dengan kapal ini, sebab keluar dari Jakarta butuh waktu, di mana waktu itu cukup buat Tanjung menghentikan mereka.
Laut selalu jadi teritori kelemahan Tanjung, sebab bagian laut dikuasai oleh organisasi berbeda dalam Aliansi. Setidaknya, itu yang Dayan katakan tadi.
"Ini titik koordinat-nya." Dayan menyerahkan sebuah tablet ke tangan Suri. "Kalau lo tanya gue tau dari mana, ya karena gue ikut waktu dia dibuang."
Tatapan Suri langsung berubah.
"Hey, easy, Sweetheart. Kalo lo cuma ngeliat sesuatu dari sudut pandang lo, itu sama aja lo memperTUHANkan diri sendiri."
Dayan memasukkan tangan ke saku jaketnya, santai berbicara.
"Gue ngeliat Arul mati, tapi yah, gue enggak ikut-ikutan. Soalnya gue enggak rugi apa-apa."
"Kalian bunuh orang cuma karena satu dua juta diambil?" Suri menangis dan mengusap air matanya pedih. "Gue ngira kakak gue masih idup tiga tahun. Gue berdoa dia pulang kayak orang tololl padahal lo semua tau dia udah enggak ada."
Dayan malah tersenyum.
Kini, Suri sudah tidak peduli sekalipun dia punya ketampanan selevel member boyband Korea nomor satu di dunia. Dia hanya seperti monster di mata Suri.
__ADS_1
*