
Ekspresi Tanjung begini : š
Ekspresi Ikram begini : š¶
Satu menit, dua menit, tiga menit, Tanjung tak tahu berapa menit berlalu sebelum dia tiba-tiba berbalik, memegangi kepalanya yang mendadak pening.
"Perasaan gue enggak minum," gumam pria itu bingung.
Soalnya mendadak Tanjung merasa sedang teler.
Menikah? Dia bilang menikah?
Sebelum dia bicara begitu, bagaimana kalau dia jelaskan alasan kenapa manusia harus menikah, karena Tanjung tidak tahu.
Atau lebih tepatnya tidak mengerti dengan konsep itu.
Maksud Tanjung, kenapa dua orang harus mengikat diri dalam hubungan tidak menguntungkan itu? Dan, kenapa pernikahan itu harus ada?
Dari awal, benarkah itu sesuatu yang benar-benar penting?
"Sebenernya, Bos, gue udah mau nanya ini dari kemaren." Ikram menggaruk kepalanya yang tidak gatal. "Lo nganggep cewek lo tuh apa?"
Pertanyaan macam apa itu?
"Oke, gue paham lo nganggep apa. Maksud gue, Bos, lo nganggep cewek lo itu penting, enggak penting, atau penting banget?"
Tanjung menatap datar. "Emang kenapa?"
Dalam hati, Ikram mengerang capek, rasanya mau pulang buat tidur saja.
Sebenarnya pertanyaan paling simpel di sini adalah 'apakah Tanjung mencintai Suri atau tidak'.
Tapi masalahnya, Tanjung tidak akan paham pertanyaan seperti itu.
Otaknya Tanjung kuat diajak bicara bisnis dan politik. Cinta-cintaan itu diluar nalarnya.
Karena seumur hidup memang cara dia dapat perempuan ya dibayar. Jadi Tanjung tidak pernah belajar sesuatu tentang cinta pada perempuan.
Memang harus berbelit bicara pada bosnya ini, terutama mengenai topik cinta. Dia tidak memahami perasaannya sendiri.
"Jadi ...."
__ADS_1
Ikram merasa otaknya mulai berasapāsejak kapan pula tugasnya adalah mengurusi urusan cinta Tanjung?
".... Cewek kalo udah nganggep lo penting banget, biasanya dia pengen nikah sama lo. Semacem itu, Bos. Gue enggak tau itu dateng dari mana tapi semua cewek kayak begitu, I mean, mostly."
Ikram rasa Tanjung paham bahasa begituan.
Karena Tanjung tiba-tiba diam. Diam dengan kesan dia mendapat titik terang.
"Lo boleh pulang." Tanjung berlalu. "Bawain gue dokumennya besok."
Setelah itu, Tanjung berjalan ke apartemennya lagi, merenung sejak memasuki lift.
Pantulan dirinya di cermin itu Tanjung pandangi, berusaha terus mencerna perkataan Ikram.
Perempuan jika menganggap seseorang penting, dia mau menikah. Memang begitu?
Tanjung memang dari dulu berpikir ada bagian otak perempuan yang harus diperbaiki, tapi tidak ia sangka kerusakan itu membuat perbedaan yang sangat jauh.
Kenapa dia harus menikahi orang yang dia anggap penting? Tanjung tidak butuh pernikahan. Yang ia butuhkan hanya Suri ada bersamanya.
"Suri."
Perempuan di kamar Tanjung ternyata sudah berbaring di kasur, kembali terlihat sakit.
Jadi dia sangat mau menikah sampai dia sakit? Sulit dicerna akal Tanjung. Padahal pernikahan itu tidak terlihat bagus sama sekali.
"Kalau lo mau sesuatu, lo bilang langsung. Enggak usah pake bahasa isyarat."
Tanjung menunduk, mengecup sudut rahang Suri.
"Besok kita nikah."
Suri yang sebenarnya sedang sakit kepala dan panas langsung terduduk, melotot horor. "Lo bilang apa?"
"Nikah." Bukankah dia mau itu? Mau bagaimana lagi kalau dia mau. Walau Tanjung tidak benar-benar mau, ia juga tidak keberatan harus melakukannya.
Lagipula tinggal dilakukan lalu dilupakan, kan?
"Hah?"
Kenapa dia malah terlihat bingung?
__ADS_1
"Ikram bilang lo mau nikah sama gue," ucap Tanjung, berusaha sabar.
"Kapan gueā"
"Jadi enggak?" Tanjung mengerutkan kening kesal. Apa sih mau dia?
Bukankah Ikram bilang dia mau menikah? Atau sebenarnya dia cuma mau mengajak bertengkar?
"Lo mau nikah atau enggak?" Tanjung sudah mulai kesal.
Membuat Suri seketika bungkam, mengalihkan mata ke arah lain.
Tunggu, tunggu, tunggu sebentar.
Jadi maksudnya ini orang tidak berencana meninggalkan Suri dan akan mengabulkan semua permintaannya, termasuk menikah?
HARUSNYA DIA PERJELAS ITU DONG! APA GUNANYA SURI BERLARA DIRI DARI KEMARIN?!
"Serius?"
Kata orang, jodoh tidak akan ke mana.
Kata Suri, jodoh itu harus dijebak! Pokoknya dia harus tanggung jawab karena sudah membuat anak di perut Suri!
"Serius mau nikah? Lo enggak keberatan?"
Tanjung menatap dia tanpa ekspresi, tapi tak menepis tangan Suri dari dadanya.
Melihat dia menatapnya penuh binar, melihat senyum dan mata hangat Suri saja sudah cukup menghibur bagi Tanjung.
"Kalau kita nikah terus punya anak, lo enggak keberatan, kan?" tanya Suri lagi. "Kalau misal kita nikah terus gue hamil, lo enggak bosen sama gue, kan?"
Hamil.
Kata yang menarik.
Tanjung mengalihkan mata dan membayangkan hal itu jadi nyata.
Seru juga. Tanjung tidak masalah melihat Suri dalam bentuk apa pun kecuali saat dia jelek.
"Terserah lo." Tanjung mengecup bibirnya ringan. "Jadi enggak usah ribut lagi."
__ADS_1
Jadi bisakah sekarang mereka tidur sebab Tanjung sudah capek bekerja dan meladeni ketidakwarasan Suri sejak tadi.
*