Jadi Tawanan Preman Galak

Jadi Tawanan Preman Galak
115. Buat Apa?


__ADS_3

Bawahan Tanjung itu menghela napas. "Yah, gue sebenernya udah coba sebelum lo suruh karena gue gabut—tapi akses informasi soal Eksekutif dilarang. No offense, Bos, masalahnya kita bukan bagian Aliansi lagi."


Tanjung berdecak. Bukan ia lupa, tapi Tanjung sudah terlalu terbiasa menjadi Tanjung sang Eksekutif.


Ucapan Ikram benar. Situasi ini tidak menguntungkan sama sekali buat Tanjung. Ia terjepit tanpa punya pilihan.


Atau ada, yaitu membayar Dayan. Tapi bahkan jika neraka membeku pun Tanjung tidak sudi karena sekali lagi, itu istri dan anaknya jadi seharusnya itu milik Tanjung.


Kenapa Tanjung harus membeli miliknya sendiri?


"Bos, I'm not trying to insult you," Ikram berbicara agak gugup seakan perkataannya cukup sulit dikeluarkan, "but what if ... ummm—"


"Make it quick." Tanjung membalas malas. Kenapa dia jadi seperti perempuan yang tidak tahu bicara terus terang?


"Well, maksud gue, kita udah keluar dari Aliansi kan, Bos? So, urusan Aliansi bukan urusan lo lagi."


"Lo mau bikin gue ngomong dua kali?" Sudah Tanjung bilang katakan saja apa yang mau dia katakan.


Untuk apa bertele-tele. Itu malah mengingatkan Tanjung pada Dayan yang sangat suka bicara bertele-tele, biar orang lain kebingungan dan kesal.

__ADS_1


"Bos, in fact, dari sisinya Suri, maksud gue dari kacamatanya dia, lo—maksud gue, kita, Aliansi, itu ngebunuh kakaknya kayak psikopat."


Tanjung mengerutkan keningnya dalam, langsung memahami maksud anak ini.


"Lo masih mau nyuruh gue minta maaf?"


Tanjung tidak merasa bersalah. Tanjung tidak berbuat salah. Persetan dengan apa yang Suri pikirkan! Memang dia tahu apa tentang perbuatan kakaknya itu?


Dia hanya terus merengek tentang hal tidak penting, Arul, Arul, Arul, Arul ketika sebenarnya Tanjung yang selalu ada untuknya.


*


Ya ampun, setidaknya itu solusi yang tidak bikin repot dan bisa dilakukan dengan cepat.


Apa peduli Suri soal Aliansi? Apa peduli Suri soal pengkhianatan? Dia hanya seorang adik yang menunggu kakaknya pulang, tapi ternyata kakaknya sudah mati dan dia tidak tahu.


At least jika Tanjung minta maaf, mungkin Suri bakal merasa lebih baik?


Oke, mungkin juga tidak. Tapi maksud Ikram, wanita gampang marah hingga menjadi gila, tapi juga gampang memaafkan, harus diakui.

__ADS_1


Apalagi, Suri itu istrinya Tanjung, mencintai Tanjung, juga punya anak dari Tanjung.


Ikatan mereka mungkin lebih erat atau entahlah apa pun sebutannya.


Lagian kalau dipikir lagi, kenapa Suri malah marah sama Bos? Ikram bermonolog dalam benaknya. Basically Bos enggak ngebunuh Arul karena Arul kakaknya Suri.


Bos tau Suri dulu aja enggak. Bos juga enggak tau soal Suri waktu dia ketemu. Terus kenapa kesannya jadi Bos antagonis?


Tanjung itu cuma menjalankan tugasnya sebagai pemimpin. Jika dalam sebuah kelompok ada seorang pengkhianat yang berpotensi menghancurkan, masa Tanjung harus memakaikan dia kalung berlian dan bertepuk tangan?


Tapi yah, Ikram juga bukannya bilang Suri salah. Karena mau Arul siapa untuk Tanjung, untuk Suri dia adalah kakak sekaligus keluarga satu-satunya.


"Bos, we don't have any other choice." Ikram pada akhirnya memberanikan diri sebab jika dibiarkan terus seperti ini, Tanjung cuma akan terjebak menunggu.


"Gue udah bilang gue bisa bikin dia puas tanpa harus minta maaf. Dia yang harus tau dia sebenernya ngapain di sana."


"Bos, lo ngadepin istri lo kayak lo ngadepin musuh lo, which is buat apa?"


*

__ADS_1


__ADS_2