Jadi Tawanan Preman Galak

Jadi Tawanan Preman Galak
69. Polosnya Tanjung


__ADS_3

Ah, sekadar informasi, Tanjung itu tidak lulus SD.


Bukan karena dia bodoh, tapi karena sebelum lulus SD, Tanjung memang sudah dibesarkan oleh Bos Besar untuk posisinya sekarang.


Kalau Tanjung tahu sesuatu, itu berarti pengetahuan tersebut akan berurusan dengannya.


Contohnya mengenai kekuasaan dan pemerintahan, Tanjung khatam. Sebab dia sering berurusan dengan oknum-oknum dari sana. Skill bisnis Tanjung bahkan di atas rata-rata.


Kalau Tanjung tidak tahu, ya berarti dia tidak punya rencana berurusan dengan hal itu. Seperti hamil.


Tanjung jelas tidak punya rencana menikah atau punya anak, jadi dia tidak tahu-menahu mengenai hal sejenis itu.


Bahkan jika itu pengetahuan umum sekalipun.


Biarpun begitu, Ikram merasa lucu karena bosnya bahkan tidak tahu berapa lama usia kehamilan sebelum bayi lahir.


Dan dia bertanya seakan dia sudah mau itu terjadi sekarang.


"Anak lo, maksud gue, yang di perut cewek lo umurnya udah sebulan, kalau gue enggak salah inget. Jadi, ya kira-kira delapan bulan lagi."


Tanjung menatap datar kopi yang disediakan untuknya tanpa diminta.


"Lama," gumam Tanjung, sedikit kecewa.


Sepertinya Ikram benar-benar harus terbiasa pada bosnya yang baru ini. Dia sudah bukan Tanjung yang tidak peduli pada siapa pun.

__ADS_1


Dia sekarang adalah Tanjung yang tidak peduli pada siapa pun, kecuali Suri.


"Lo enggak terganggu, Bos?" tanya Ikram, mendadak penasaran.


"Terganggu?"


Ikram menarik kursi buat duduk, sambil diam-diam berpikir kalau Tanjung yang dulu mustahil bisa diajak bicara santai begini.


Kalau Tanjung yang dulu, dia bicara satu paragraf saja sudah luar biasa. Harus disyukuri.


"Kalo lo punya anak, terus anak lo sama lo, beban idup lo bakal nambah. Gitu sih kata orang."


"...."


Tanjung diam, memikirkan perkataan Ikram itu.


Punya anak tidak pernah ada dalam rencana hidupnya, bahkan bermimpi pun tidak.


Tapi ketika mendengar ia akan punya, Tanjung cuma merasa senang dan tidak sabar.


Bisa tidak anak itu langsung keluar? Tanjung mau bertemu dengannya.


"Kalo gue mesti ngasih saran, Bos, cewek lo mungkin perlu dikontrol sama dokter."


Tanjung memiringkan wajah bingung. "Kenapa? Dia sakit?"

__ADS_1


"Anggep aja gitu. Soalnya cewek hamil enggak boleh capek-capek atau nanti ada masalah di janinnya."


Tanjung langsung berucap tegas, "Minta dokter perempuan khusus buat ngontrol dia."


"Terus cewek lo juga perlu diawasin biar enggak berubah jelek."


Ikram terbawa suasana menasehati bosnya, yang sejak awal sampai kemarin begitu sulit disentuh.


Kapan lagi gitu dirinya bisa menyuruh-nyuruh Tanjung?


Tanjung manut lagi pada yang disuruhkan.


"Biasanya Bos cewek hamil bakal kalap naik berat badan. Jadi makan dia harus dikontrol. Protein, gizi, vitamin, atau nanti pas ngelahirin lo enggak suka sama dia."


"Aturin semua yang dia butuhin."


Tanjung tidak suka perempuan jelek, apa pun alasannya. Jadi Suri harus cantik bagaimanapun caranya.


Tapi anak di perutnya juga harus sehat.


"Kalo dia minta sesuatu sekarang, turutin semuanya." Tanjung memberi perintah lagi.


Walau sebenarnya dari dulu sudah begitu, sekarang ia akan mengkhususkan lagi.


Ikram yang melihat itu diam-diam tersenyum geli.

__ADS_1


Sungguh ada sisi polos dalam diri bosnya yang baru bisa ia lihat setelah dia bertemu Suri.


*


__ADS_2