Jadi Tawanan Preman Galak

Jadi Tawanan Preman Galak
40. Ganti Rugi


__ADS_3

Beri Suri tepuk tangan kalau ia bisa tidur habis itu.


Oke, kalian enggak tepuk tangan karena memang MUSTAHIL Suri bisa tidur.


Cuma psikopat yang bisa.


Soalnya BAGAIMANA BISA?! Dayan mengirim handphone harga motor pada Suri dan belum satu menit itu muncul di depan mata, sudah dibanting oleh manusia tidak bertanggung jawab bernamanya Tanjung!


Entah bapaknya Dayan itu juragan sawit dari Kalimantan, ataupun ternyata yang punya brand fashion Dior, uang tiga puluh juta adalah uang makan Suri dua tahun setengah! Tidak, kayaknya sampai tiga tahun, plus uang listrik dan air.


Apakah Suri harus berhenti makan tiga tahun buat ganti rugi? Keburu ia mati.


"Bapak gue bisa enggak sih muncul tiba-tiba terus ternyata dia anggota DPR-lah minimal?" Suri cuma bisa bicara sama angin saking setresnya. "Yaudahlah enggak pa-pa buang gue dulu. Yang penting bisa ganti rugi."


Tanjung di atas ranjang menatap perempuan itu heran.


Kenapa dia begitu pusing soal ganti rugi?


Kalau Tanjung menghancurkan kepala Dayan saat dia ke Jakarta pun dia tidak berhak minta ganti rugi.


Bos sudah bilang untuk tidak seenaknya menginvasi wilayah satu sama lain, dan Dayan malah seenaknya mengusik tempat Tanjung.


Siapa juga yang menunggu Suri ganti rugi?


"Hah." Suri menutup matanya dengan lengan. "Anjir, gue mau nangis. Tiga puluh juta dapet dari mana? Jual ginjal atau sama jantung sekalian?"


Ck. Tanjung paling benci mendengar orang bicara soal uang, uang, uang di depannya. Apalagi dari mulut perempuan.


"Bangun."


"Gue lagi pusing, sumpah. Jangan sekarang." Suri bahkan malas bersuara.


"Gue bilang bangun."


"Gue pusing, enggak bisa."


Waktu Suri menyingkirkan tangannya, Tanjung terkejut melihat dia menangis sungguhan.

__ADS_1


"Denger yah, Tanjung. Gue tau duit lo banyak. Gue tau. Gue udah tau. Gue TAU BANGET. Masalahnya gue enggak."


"...."


"Lo ngerti? Duit elo B A N Y A K, duit gue E N G G A K A D A. Lo rusak barang orang, yang tanda tangan gue, yang harganya malah kayaknya lebih mahal dari nyawa gue. Plis, oke? Plis."


"Siapa yang nyuruh lo ganti rugi?"


Suri malah menggeleng, makin menangis.


Orang kaya kalau meremehkan uang bikin lambung miskinnya mendidih sampai ke mata.


Mustahil Dayan tidak minta ganti. Itu uang banyak dia kira bisa didapatkan dalam semalam? Mustahil.


Begitu pikir Suri, sementara pikir Tanjung berbeda.


Uang tiga puluh juta itu memang banyak buat Dayan. Uang sejuta pun menurut Tanjung itu banyak dan bukan uang receh.


Tapi kalau satu handphone bikin Dayan jatuh miskin, dia mustahil disuruh memegang Bali oleh Bos. Arus ekonomi di Bali itu salah satu penentunya Dayan, sebagai perwakilan Bos di sana.


Tanjung tidak paham apa yang membikin Suri begitu pusing.


Biarpun dia terhuyung-huyung, Tanjung menuntunnya berjalan ke keramaian kota, masuk ke salah satu toko ponsel.


Pokoknya dia harus berhenti meracau tentang uang, ganti rugi atau handphone harga ginjal dan jantung.


"Ambil yang lo mau."


Tanjung kira dia mau handphone.


Sebenarnya Tanjung tidak mau lagi terlalu memberi Suri sesuatu bulan ini, karena sudah terlalu banyak.


Namun daripada dia nangis.


"Ini buat apa?" Suri bertanya sambil mengelap mukanya ke lengan jaket. "Buat ganti rugi?"


"Buat lo."

__ADS_1


"Kenapa gue? Ganti rugi, Tanjung, ah."


"Enggak ada yang butuh—"


Tanjung tersentak kaget waktu tiba-tiba Suri memeluknya dan menangis histeris. Itu terlalu tiba-tiba sampai dua orang yang mengikuti mereka sampai kaget.


Di mata mereka, itu horor. Jauh lebih horor daripada setan di film horor paling horor.


Soalnya pernah Tanjung mencekik seorang wanita yang tiba-tiba nyosor memeluk lengannya tanpa izin.


Namun melihat Suri menangis, Tanjung justru tidak nyaman.


Dalam arti ... tidak ingin dia menangis.


"Ganti rugi." Suri menangis terisak-isak sampai terdengar ucapannya belepotan. "Ganti rugi, Tanjung. Hiks, hiks. Ganti rugi, plis."


Blablablabla.


Intinya dia terus minta Tanjung ganti rugi karena dia enggak bisa tidur atau mulai besok dia akan puasa sampai tiga tahun ke depan.


"Oke." Tanjung tak tahu kenapa tangannya membelai rambut Suri agak terlalu lembut. "Enggak usah nangis."


Ada apa dengannya? Kenapa Tanjung malah bersikap lunak begini? Ini tidak seperti Tanjung yang biasa.


Tidak seperti Tanjung yang Tanjung ketahui. Ini benar dirinya?


"Ambil HP buat lo, nanti gue kirim buat Dayan."


"Janji?"


"Hm."


Bohong. Tanjung tidak sudi mengganti apa-apa buat Dayan.


Tapi ini pertama kali Tanjung berbohong cuma agar seseorang enggak menangis.


Intinya jangan menangis. Dan berhenti meracaukan soal uang, ganti rugi atau jual ginjal.

__ADS_1


*


__ADS_2