Jadi Tawanan Preman Galak

Jadi Tawanan Preman Galak
43. Menunggu Dia Pulang


__ADS_3

Tanjung paling benci dengan seseorang yang punya kekuasaan tapi otak tidak.


Setiap kesalahan kecil yang mereka buat kadang malah jadi masalah besar buat Tanjung, dan mereka bahkan tidak bisa memperbaiki apa-apa.


Tanjung tak bisa menghindari hal itu, sebab pekerjaannya juga menyeret Tanjung pada hal-hal yang berbau kekuasaan politik.


"Ini udah kasus ketiga tahun ini." Ikram berbisik kecil di belakangnya. "Termasuk soal lo tiba-tiba dihajar, Bos, gue rasa yang main di belakang juga enggak main-main."


Dalam tiga tahun terakhir, total ada delapan belas anak buah Tanjung yang mati di berbagai tempat.


Alasannya macam-macam, tapi semua itu berhubungan dengan jalur bisnis narkoba dan alkohol yang mereka pegang.


Dari sejak tahun kemarin sebenarnya Bos Besar sudah menyinggung, tapi setiap kali Tanjung mau bergerak, tiba-tiba pergerakan mereka terhenti.


"Ada mata-mata." Tanjung mendengkus jengkel. "Itu kayaknya juga enggak main-main. Kemungkinan paling jeleknya dia eksekutif."


"Yah, masuk akal, sih." Ikram melihat salah satu oknum pejabat yang bertanggung jawab atas kematian anak buah mereka.


Karena kesalahan dia, orang lain mati. Tapi daripada merasa bersalah, ekspresinya malah menunjukkan dia khawatir bisnis narkoba ini terendus oleh publik.


Tanjung sudah terbiasa main kucing-kucingan dengan negara. Orang tidak berguna di sana itu, bisa jadi juga dia tidak tahu dia dimata-matai oleh seseorang hingga ada informasi yang bocor.


Dasar menyebalkan.


Yang kena masalah setelah ini pasti Tanjung. Ia yang harus membuat solusi, ia yang harus menutupi kasus dan ia yang harus repot mencari 'udang' di balik 'gunung' ini.


"Bos di mana sekarang?"


"Gue denger dia ke India beberapa hari."


Ck. Tanjung bisa membayangkan kepalanya akan sakit seperti apa memikirkan hal ini.


"Minta informasi dari eksekutif, Karya, Alby, Dayan." Mereka bertiga mungkin punya informasi berguna yang bisa digabungkan, jadi Tanjung harus memanfaatkannya.

__ADS_1


"Dayan juga?"


Hobinya Dayan itu bergaul dengan penggosip—informan. Jadi meski benci mengakui, dia pasti punya beberapa informasi berguna.


"Lo enggak lupa kemarin ngancurin HP-nya Dayan kan, Bos?"


Tanjung diam, pertanda sudah lupa.


Ah, sialann. Benar juga.


Orang itu pasti akan bermain-main dengan bilang 'gue kasih tau asal duit gue balik'. Dan dia tidak akan pernah membocorkan apa-apa bahkan kalau semua orang di bawah divisi Tanjung mati.


Dia benar-benar hobi mempermainkan orang.


"Enggak jadi." Tanjung berlalu. "Alby sama Karya."


Tanjung tidak sudi harus mengalah dari orang itu.


*


Sudah jam dua belas, Tanjung belum kunjung kembali.


Jangan bilang dia sudah puas karena sudah mendapatkan keperawanan Suri? Dia sudah tahu rasanya jadi waktunya mencari yang baru?


Tapi, bukankah dia agak terlalu boros kalau memang cuma mau itu? Uangnya di laci juga tidak diambil. Kalau dia sudah puas, setidaknya dia bakal mengambil uangnya lagi, kan?


Which is itu tidak sedikit.


Jam dua pagi, Suri sudah gelisah sampai memutuskan keluar.


"Tanjung mana?" tanyanya pada orang berbeda yang berjaga di sana. "Dia lagi ngapain? Kenapa belum pulang?"


Bukan menjawab, mereka menarik pintu, memaksa itu tertutup. "Masuk."

__ADS_1


"Kasih tau dulu Tanjung ke mana!"


Tenaga Suri mana bisa menang dari dua laki-laki berotot. Ia malah terdorong masuk, dan pintu ditutup paksa, dikunci dari luar.


Suri menggigit bibir berusaha tidak berteriak.


Sialann. Sudah Suri bilang jangan pernah meninggalkannya! Dan dia juga sudah berjanji!


Pergi tanpa kabar meskipun nanti dia pulang juga termasuk salah satu bagian dari perbuatan meninggalkan.


Capek menunggu, Suri tak sengaja malah tertidur di lantai. Terbangun di siang hari, tapi belum ada tanda-tanda Tanjung akan pulang.


Buat Suri yang sudah ditinggalkan bertahun-tahun oleh Arul, menunggu dan menunggu sampai akhirnya ia mau membuka hati pada orang baru, satu hari seperti ini sudah cukup menakutkan.


Dulu juga begini, gumam Suri dalam hatinya. Merasa tiba-tiba hampa dan kecewa luar biasa.


Gue nunggu sehari, percaya besok dia pulang, ternyata enggak.


Besoknya nunggu lagi, yakin dia bakal pulang, ternyata enggak lagi.


Gituuuuu mulu kayak orang goblokk.


Percaya pula gue padahal udah tau emang dari dulu digituin.


Tololl emang. Harusnya enggak percaya. Bodo amat dia ngapain.


"Serahlah." Suri bangkit. "Yakali gue tololl berkali-kali."


Mau dia di mana, mau dia sedang apa, mau dia memikirkan apa, Suri tidak boleh peduli.


Bahkan kalau ia sebenarnya peduli, Suri melarang dirinya peduli. Tidak, jangan pernah. Orang itu saja tidak memikirkan bahwa Suri menunggunya.


Kenapa pula Suri harus peduli?

__ADS_1


"Terserah lo mau pergi!" teriak Suri pada kekosongan kamarnya. "Pergi aja sana! Pergi! Pergi yang jauh! Enggak usah balik lagi!"


*


__ADS_2