
Pekerjaan Tanjung dari kecil hingga sekarang adalah membuat seseorang takut padanya dan mengendalikan rasa takut itu. Rasa takut bagi Tanjung adalah alat terbaik mengendalikan, dan ia diajari untuk menciptakan, dan mengelola rasa takut itu menjadi sebuah keuntungan.
Maka dari itu Tanjung tidak mungkin buta dari mimik ketakutan yang coba Suri sembunyikan.
Waktu Tanjung mendekat, Suri memundurkan tubuhnya, seolah-olah dia akan terluka oleh Tanjung.
Kenapa?
Tanjung mengulurkan tangan ke wajah Suri. Tak senang sama sekali sebab dia malah takut.
Tidak ada yang perlu dia takutkan dari Tanjung. Mana mungkin ia melukai keduanya yang merupakan harta paling berharga bagi Tanjung.
"Kenapa lo enggak berenti nanyain itu?" bisik Tanjung, karena Suri hanya diam. "Emang apa pentingnya Arul buat lo?"
Suri tiba-tiba menangis. Hanya sedetik setelah itu Rana ikut menangis, melepaskan susu dari mulutnya.
Jantung Tanjung serasa diremas melihat kedua perempuan itu mengeluarkan air mata.
Mendengar tangisan Rana saja sudah cukup membuat Tanjung mau menendang planet ini, apalagi ditambah Suri.
"Jangan nangis." Tanjung memeluknya sehalus mungkin. "Gue enggak nyuruh lo nangis. Jangan nangis. Rana juga nangis kalo lo nangis."
Siang malam Tanjung bekerja bukan buat melihat mereka berdua sedih.
__ADS_1
"Kakak gue," rintih Suri sambil terisak-isak. "Arul kakak gue. Jangan lo apa-apain."
Kalau dada bisa berlubang dan manusia masih hidup setelah itu, maka sekarang Tanjung hidup dengan dadanya berlubang.
Kenapa Suri tidak membenci Arul saja agar segala sesuatu bisa lebih mudah? Dia sebenarnya ingin apa? Ingin Tanjung terjun ke laut mencari tulang-belulang Arul?
"Jangan nyakitin dia," ucap Suri di antara tangisannya. "Jangan apa-apain. Jangan marah sama dia, hiks."
Lalu pada akhirnya apa? Pada akhirnya Tanjung bohong.
"Gue tau." Tanjung mengusap-usap kepala wanita itu, berharap dia cepat berhenti menangis. "Gue tau jadi udah."
"Tapi, hiks, tapi lo nyembunyiin sesuatu."
"Gue enggak nyembunyiin apa-apa."
Segala yang Suri tidak tahu dirinya bukan Tanjung sembunyikan, tapi karena Tanjung tahu tidak ada gunanya Suri tahu, dan tidak akan berguna bagi hidup Suri. Jadi tidak ada.
Kecuali Arul, tidak ada.
"Gue enggak nyembunyiin apa-apa." Tanjung berucap halus, agar dia mengerti. "Gue janji, jadi berenti nangis. Kasian Rana."
Tanjung mengambil alih anaknya dari Suri, beranjak dari tempat tidur berharap Rana lebih tenang.
__ADS_1
"Jangan nangis," bisik Tanjung di wajah anak itu. "Papa jagain kamu."
Entah datang dari mana kalimat manis itu. Tanjung dari dulu tidak pernah berbicara halus pada seseorang bahkan orang tuanya. Kehidupan Tanjung memang diisi kekerasan, baik fisik maupun mental.
Tapi Tanjung cuma merasa harus memberi kasih sayang secara langsung pada anaknya. Kalau untuk anak ini, Tanjung bahkan akan memberikan dunia.
Dia punya ayah yang bisa mengabulkan apa pun keinginannya sampai dia tua nanti, jadi berhenti menangis seolah-olah dunia begitu sulit untuk dia.
*
Waktu berlalu dengan cepat tanpa Suri sadari. Kini memasuki usia empat bulan setelah Rana lahir, tiga bulan setengah setelah Suri dan Tanjung pindah ke sebuah rumah kecil mereka.
Penjagaan Tanjung pada Suri diperketat setelah itu. Karena sebenarnya, kata Ikram, Tanjung tidak boleh meninggalkan apartemen yang menjadi pusat kontrol bisnis mereka.
Tapi Tanjung diizinkan pindah oleh Bos Besar karena permintaan Suri.
Semua hal berjalan sesuai ritmenya. Meski begitu, Suri sedikitpun tidak pernah lupa soal pesan Teguh.
Ia menunggu, menunggu, menunggu sampai akhirnya Ikram bilang kalau Teguh mau menemui Suri.
"Lo kayaknya deket juga sama Teguh."
Pertanyaan Ikram itu adalah isyarat dia merasa harus curiga.
__ADS_1
***