Jadi Tawanan Preman Galak

Jadi Tawanan Preman Galak
114. Sangat Merindukan


__ADS_3

Suri menundukkan wajahnya, tenggelam dalam pikiran.


Benar. Hati nurani Suri tidak membolehkan dirinya menyakiti seseorang. Maka dari itu, biarkan saja orang ini yang melakukan hal kotor untuk Suri.


Dia memanfaatkan Suri semata demi kesenangan, maka Suri akan memanfaatkan dia untuk balas dendam.


Jangan ragu.


"Oke." Suri menerima kesepakatan itu meskipun sejujurnya ia tahu bahwa Dayan orang yang berbahaya. "Lo 'bantuin' gue."


"Cool."


Dayan melompat turun dari meja, langsung berlalu pergi meninggalkan Suri.


Karana Dayan pun sudah pergi, Suri memutuskan segera turun ke bawah. Pergi menemui anaknya yang ternyata sedang menyusu dari dot yang sudah Suri siapkan.


"Sori yah, Bang, gue ngerepotin." Suri datang bersama seraut wajah lesu.


Tak tahu sebenarnya bagaimana ia harus merasakan sesuatu sekarang.


Pikiran Suri terganggu oleh banyak hal. Kecewa, marah, dendam, sakit hati. Suri terganggu dengan segala hal itu, hingga justru ia menjadi semakin cemas pada kondisi Rana.

__ADS_1


Suri didampingi oleh psikolog dan dokter sejak awal kehamilannya. Ia tahu pikirannya berdampak pada berbagai hal, terutama Rana. Tapi justru sekarang Suri tak dapat mengendalikan pikiran itu.


Suri pada akhirnya berbaring di samping Rana, menangis tanpa suara atas semua luka di hatinya.


"Suri." Teguh yang menyaksikan itu mau tak mau ikut merasa bertanggung jawab.


Terus terang, Teguh pernah mempertimbangkan memberitahu Suri nanti, paling tidak jika Rana sudah lebih besar lagi. Namun, justru sekarang adalah waktu tepat.


Kenapa?


Karena jika memikirkan sebuah rencana 'licik', Tanjung paling tidak bisa bergerak sekarang lantaran mempertimbangkan anaknya yang masih belum bisa disebut apa-apa.


Tak peduli bagaimana perasaan Tanjung pada Suri, Rana yang sekarang adalah kelemahan terbesar Tanjung.


Tapi sebenarnya tak peduli yang mana, Suri pasti terluka.


"Gue ngabisin waktu sama dia berbulan-bulan." Suri meratap dengan wajahnya terkubur pada selimut Rana. "Gue percaya dia bakal jagain gue, bakal jagain Rana. Gue sayang sama dia, Bang."


Suara Suri seperti tengah menahan sakit yang kuat di dadanya.


"Kenapa harus dia? Dari semua orang kenapa mesti dia yang ngelakuin ini ke gue?"

__ADS_1


Teguh tak tahu harus mengatakan apa hingga pada akhirnya ia cuma menepuk-nepuk kepala Suri, berharap dia menjadi lebih kuat besok.


Mau tak mau. Mereka tidak bisa bergantung pada siapa pun di situasi ini.


*


Dalam hidup Tanjung, satu-satunya saat di mana ia merasa sulit tidur itu hanya karena pekerjaannya tidak selesai dengan benar. Karena tidak pernah ada hal yang cukup penting dipikirkan selain pekerjaannya.


Selama Tanjung bersama Suri pun, Tanjung tak suka banyak memikirkan Suri, sebab Suri ada di depannya jadi buat apa lagi Tanjung pikirkan?


Tapi sekarang Tanjung bingung di mana kedamaian hidupnya pergi. Tanjung sangat merindukan mereka, Suri maupun Rana. Dan putri kecilnya itu, apa yang dia lakukan sekarang?


"Bos, gue bawain lo makan malem."


Tanjung tetap sibuk menatap hamparan laut di bawah tebing sana, sebab ia tak nafsu makan. Otaknya sibuk memikirkan bagaimana cara mengeluarkan Suri dari tempat sialan itu tanpa melanggar peraturan Bos Besar, dan tanpa membahayakan Suri maupun Rana.


Terus terang, opsi itu mustahil ada. Karena Suri tidak mau kembali pada Tanjung sekarang. Namun Tanjung harus tetap memikirkannya sebab mau bagaimanapun itu, Suri dan Rana harus tetap kembali.


"Bos, do you need some help?"


Tanjung berbalik. "Gue tau Dayan enggak bakal ngurung Suri gitu aja. Gue mau tau dia ngapain."

__ADS_1


*


__ADS_2