
Tanjung mengamati ekspresi Suri yang beberapa waktu belakangan terlihat murung.
Sejak kehamilannya semakin memberat dan besar, Tanjung lihat Suri lebih sering tertawa dan senyum. Dia selalu terlihat bahagia, menanti, antusias dan semangat.
Tapi menjelang persalinan, Suri malah terlihat tidak semangat sama sekali. Apa yang dia pikirkan?
"Perut lo sakit?" Tanjung cuma bisa memberi pertanyaan semacam itu karena memang tidak paham dia kenapa.
Suri menoleh. Lemaaaaaah luar biasa dan muram. Cukup lama terdiam, Suri akhirnya berkata, "Arul belum pulang."
Itu lagi.
"Kok dia enggak pulang, yah?" Pelan-pelan, Suri menangis, semudah itu. "Gue nungguin lamaaaaaaa banget. Lamaaaa banget nungguin, hiks."
Tanjung beranjak, memilih pergi memanggil dokter untuk menanganinya daripada dia menangis.
Tapi waktu Tanjung beranjak, Suri melontarkan perkataan yang membuat Tanjung seketika mematung.
"Lo ngindar lagi."
Ah, jadi dia sadar setiap kali bicara soal kakaknya, Tanjung menghindar? Padahal sekian bulan dia terus memperlihatkan kepercayaan seolah-olah dia tahu Tanjung memang mencari kakaknya.
"Gue nyusahin, yah?" gumam Suri, merintih penuh kepiluan. "Gue nyusahin banget kan sampe lo males? Makanya lo ngindar. Males denger gue ngomong."
__ADS_1
Tanjung putuskan tetap berjalan. Dokter lebih tahu membuat dia berhenti menangis daripada Tanjung.
"Ngomong, Tanjung." Suri tetap meracau. "Ngomong kalo ada apa-apa. Abang kenapa? Dia di mana? Enggak perlu ngindar. Kalo dia bilang dia enggak mau pulang, ya seenggaknya lo bilang."
Tanjung capek berbohong.
Ditinggalkan Suri di kamarnya, keluar untuk meminta Ikram menyuruh dokter datang.
Suri akan melahirkan di apartemen ini, karena sekali lagi Tanjung tidak bisa membiarkan Suri masuk rumah sakit. Sebagai gantinya, dokter, bidan, dan perawat Tanjung minta untuk standby mendampingi.
Memastikan tidak terjadi apa pun pada istri maupun anaknya.
"Kenapa, Bos?" Ikram langsung bisa sadar air muka Tanjung berubah keruh.
Tapi sebelum dijawab, dari dalam apartemen sudah terdengar suara tangisan sendu Suri yang memanggil-manggil kakaknya.
Sekali seseorang dikasih harapan, ekspektasi mereka bakal melonjak ke langit.
Suri yang sudah dijanjikan akan bertemu Arul tidak akan bisa menerima fakta kalau Arul tidak datang di momen hidup dan matinya sebagai perempuan.
"Bos?"
Tanjung berlalu pergi, tidak mau mengatakan apa pun.
__ADS_1
Meskipun begitu, dari punggungnya yang membungkuk, Ikram tahu Tanjung tak bisa berhenti memikirkan cara agar Suri berhenti tersiksa.
*
Tanjung tidak mau pulang ke apartemen.
Kalau cuma harus mendengar suara tangisan Suri yang minta kakaknya datang, yang berharap kakaknya hadir di sana, Tanjung lebih suka tidak tidur mengerjakan hal membosankan di markas.
Satu demi satu pekerjaan Tanjung selesaikan tanpa suara. Meskipun cuma untuk hal-hal sederhana mengenai dokumen.
Esok pagi Tanjung keluar ruangan, pergi mencari kopinya sendiri sambil memantau pasar saham.
Menjelang pukul sembilan, Tanjung mendapat kabar dari Ikram bahwa Suri sudah mengalami pembukaan.
Tanjung pergi bertemu seseorang, membeli properti berharga miliaran, lalu siangnya Tanjung bertemu orang lain dan memberikan properti itu untuk dikelola.
Tanjung lalu berpindah tempat, bertemu seorang pembeli yang berniat mengambil salah satu aset rumah yang Tanjung punya.
Uang miliaran ia kantongi hari itu, bersamaan dengan ia mendengar kabar bahwa putrinya lahir.
Tanjung belum berpikir buat pulang. Pergi lagi membawa uangnya ke tempat Bos Besar, menginvestasikan uang itu seluruhnya.
"Gue mau bilang selamat soal anak lo," kata Bos Besar, "tapi kayaknya lebih penting nanyain yang lain. Kenapa? Istri lo masih nungguin kakaknya idup lagi?"
__ADS_1
Entahlah. Tanjung juga tidak tahu apa yang harus ia lakukan pada Suri.
***