
Tanjung sudah berusaha sangat amat keras mengendalikan amarahnya sekarang, jadi kalau Suri mau menambah itu lagi, Tanjung tak tahu bisa menahannya atau tidak.
Beraninya dia. Hanya karena Arul sialan itu dia melakukan ini dan itu, menghinakan Tanjung jelas di depan Dayan.
"Cari tau dia mau ke mana."
Ikram langsung bergerak, meskipun diam-diam dia ragu meninggalkan Tanjung sekarang. Bosnya yang sulit mengontrol diri itu kayaknya sudah sangat terbakar amarah.
Tapi Ikram tetap pergi. Melihat Dayan pergi mengajak Suri naik ke kapal kecil lagi—hingga spontan Ikram berpikir mereka mau menghindari Tanjung.
Masalahnya ... Rana ada di hotel. Mustahil Suri pergi ke tengah laut meninggalkan Rana alih-alih membawanya.
Ikram rasa sulit mencari tahu secara jelas, maka dari itu lebih baik mengikuti mereka.
"Bos, gue enggak bisa mastiin mereka mau ke mana jadi biar gue ikutin."
"Gue ikut."
Itu lebih baik.
__ADS_1
Ikram langsung bergegas menyewa kapal lain, yang pada saat bersamaan, sekelompok keluarga juga menyewa kapal lebih besar.
Baik Tanjung maupun Ikram tidak menyadari itu adalah alasan Dayan pergi ke tengah laut.
Kapal kecil berisi Tanjung dan Dayan diiringi kapal berukuran sedang berisikan Euna sekeluarga itu sama-sama mengarah ke lokasi ideal balas dendam Suri.
*
Suri sempat tercengang melihat tempat kapal Dayan berhenti.
Astaga, orang gila ini benar-benar sudah tidak waras. Kenapa dia mengajak Suri ke tempat sekumpulan hiu berenang-renang? Dia menyuruh Suri mendorong Euna ke dalam sana?!
"Lo sinting."
Dia pikir Suri bakal percaya?
"Lagian lo perhatiin tempatnya. Lo kira gue bisa bikin beginian cuma hitungan hari doang? Terus, lo kira nangkep hiu itu gampang? Ini wisata Bali, oke. Gue cuma minta hari ini dikosongin."
Suri melihat sekitaran dan mau tak mau jadi percaya. Di tengah lautan begini, memang tempat yang terlihat seperti penangkaran ikan ini memang nampaknya mustahil dibangun beberapa hari.
__ADS_1
"Orang yang dateng biasanya suka ngasih makan hiu di sini." Entah sejak kapan, Dayan sudah memegang sejumlah daging ikan segar buat hiu-hiu itu. "Kecuali lo super duper berani mau berenang sama hiu. Gimana, lo berani?"
Suri hanya menatap dia tanpa emosi. "Lo ngajak gue ke sini buat ngomong enggak jelas doang?"
Tentu saja, Dayan menghela napas penat. Sejak dikhianati Tanjung—atau lebih tepat menyebutnya merasa terkhianati oleh Tanjung, Suri jadi sangat sensitif.
Padahal tidak dosa kalau dia bercanda sedikit. Aduh, suami istri yang sama-sama tidak lucu.
"Oke, terserah. Biar gue tunjukin caranya bales dendam."
Dayan memutar kapalnya sampai ke tempat mereka bisa berlabuh, lalu mengajak Suri turun. Mereka masuk ke salah satu rumah-rumah kecil di sana yang nampaknya untuk penjaga.
Di dalam, Dayan memegang sesuatu seperti walkie talkie, bicara dengan seseorang.
Saat itu ....
"Oya, oya." Dayan mendongak tiba-tiba pada Suri. "Kayaknya jodoh lo ngikut juga."
Suri langsung berkata, "Lo bisa ceburin dia ke sana kalo beneran mau bantuin gue."
__ADS_1
Dengan senang hati Suri menonton Tanjung dimakan hiu hari ini juga.
Mungkin hanya orang itu, yang jika dia mati, hati nurani Suri tidak akan memberontak. Mati saja, kalau bisa.