Jadi Tawanan Preman Galak

Jadi Tawanan Preman Galak
27. This Is Indonesia


__ADS_3

"Dayan tuh cakep banget enggak, sih?" kata Suri penuh semangat. "Vibes-nya dia tuh kayak cowok-cowok berduit, ganteng, yang kalo ngasih anak tuh pasti anaknya ganteng banget!"


Lalu Suri perhatikan muka Tanjung, buat melihat reaksinya.


Suri mulai curiga cowok ini naksir padanya. Karena, buat apa juga dia marah Suri spik-spik sama cowok lain?


Tidak kok, Suri tidak menyukai Dayan buat dipacari. Dia terlalu ganteng, demi Tuhan semesta alam.


Saking gantengnya, Suri insecure. Mustahil modelan macam dia terpikat pada Suri, jadi sekali lagi, Suri cuma memuji dia kayak fans memuji idolnya.


"Dayan udah punya pacar enggak, sih?" Suri terus melancarkan pemanasan. "Dia tuh kalau senyum bikin buta. Gue suka bangeeeeeeeet ngeliat mukanya. Apalagi matanya waktu senyum. Ih, gemesin banget!"


Fix sih kalau Tanjung cemburu, dia menyukai Suri.


Yang berarti Suri terjebak dalam kandang buaya tanpa bisa ke mana-mana.


"Kalo dia nembak gue, kira-kira bakal—"


Mendadak, Suri diam.


Mukanya pucat pasi dan badannya kaku, panas namun mengeluarkan keringat dingin.


"Maaf." Suri cuma spontan berpikir cara bertahan hidup dan itu adalah satu-satunya cara yang terlintas. "Gue cuma bercanda."


Tanjung hanya diam, menatap Suri tanpa sedikitpun suara.


Waktu angin berembus menerbangkan rambut di kening Tanjung, itu justru bikin suasana di sekitar dia makin horor.


Rasanya seolah-olah Suri lagi diminta sadar oleh dunia bahwa orang di depannya tidak bisa diajak bercanda dan tidak layak diajak bercanda.

__ADS_1


Kini Suri sadar. Tanjung yang menarik kasar dengan Tanjung yang diam menatap, masih lebih mending Tanjung yang kasar.


"Ki-kita pulang aja, yuk." Suri mendadak kenyang. "Gue ngantuk banget. Ayok, pulang aja."


Dia tidak bergerak.


Suri menelan ludah melas. Tak sadar sudah memegang lengan Tanjung yang kerasnya kayak batu.


"Maafin gue," rintih Suri lemah. "Maafin gue, plis. Plis, jangan marah. Plis."


Duh, mana lengannya lebih besar dari balok kayu. Mukanya ganteng tapi Suri merasa seperti bertemu algojo. Yang tugasnya cuma menghukum mati seseorang.


Apa Suri harus berlutut ke kakinya? Apa Suri harus mencium sepatunya biar dia berhenti marah?


Demi Tuhan, berhenti terlihat seperti raja iblis!


Waktu Suri sudah hampir berlutut panik, Tanjung tiba-tiba mengulurkan tangan.


Tapi tangan Tanjung justru ke leher.


Suri pucat, berpikir mau dicekik. Suara krek dari HP yang kemarin Tanjung remukkan langsung terngiang-ngiang di kepala Suri.


Saat Suri hanya bisa menelan ludah atas nasibnya ....


Yang terjadi malah ujung jemari Tanjung mengusap lehernya ringan.


Sentuhan itu bikin Suri seketika bingung. Ketakutannya berganti heran.


"A-apa?"

__ADS_1


Tangan dia naik ke telinganya, mengusap sebelum berganti jadi pegangan ringan.


Tapi sebelum Suri bisa paham, tangan Tanjung di telinganya itu menarik wajah Suri, sebuah awal dari pertemuan bibir mereka.


Mata Suri melotot lebar-lebar.


Gue dicium? Suri kagok sampai dalam batin. Gue dicium cowok?! Dan itu malah cowok setan?!!!!!!


Yang lebih penting, this is Indonesia, anjir! Dan mereka di pinggir jalan!


Suri akui mental dia baja. Karena waktu melepaskan bibir Suri, Tanjung cuma menatapnya tanpa ekspresi.


Seakan-akan enggak habis berbuat dosa.


Tanjung malah mengusap sudut bibir Suri dengan mata yang fokusnya tidak boleh diteruskan.


"Jangan." Suri bergumam tanpa sadar. "Jangan di sini."


Maksud Suri, jangan gila di sini. Bukan berarti ayo gila di tempat lain.


Tapi Tanjung entah memikirkan apa, menarik tangan Suri pergi. Suri melamun sampai tak sadar ia ditarik pulang ke kontrakannya.


Suri juga masih bengong waktu Tanjung melepaskan kausnya.


Suri masih saja kagok waktu badannya ditarik ke kasur.


Yang bikin Suri sadar adalah Tanjung mau melepaskan bajunya.


"Lo mau ngapain?!" teriaknya histeris.

__ADS_1


*


__ADS_2