
Ikram menatapnya beberapa lama, tapi tidak berkata apa pun lagi.
Perintah adalah perintah, intinya.
Lagipula malah jadi aneh kalau Tanjung repot-repot menjelaskan kenapa dia memerintahkan sesuatu. Prinsip Tanjung, kalau Ikram punya otak ya pikir saja sendiri alasan kenapa Tanjung memerintahkan sesuatu.
"Sama, duit lo."
"Buat?"
Tanjung tidak merasa harus menjawab. Hanya menunggu dia mengeluarkan dompet dan menyerahkan seluruh isinya.
"Besok kalo ini cewek keluar, dateng ke sini. Bawain gue HP."
"Lo dihajar sama siapa? Mau sampe kapan ngumpet begini?" Maksud Ikram, biar ia bisa menindaklanjuti hal yang seharusnya.
"Hah?"
Tapi di telinga Tanjung itu malah terdengar seperti penghinaan.
Ekspresi Tanjung langsung dingin mendengar kata itu.
Siapa yang sembunyi? Tanjung hanya beristirahat. Ia lelah harus melakukan ini dan itu. Tanjung sama sekali bukan menghindari seseorang, apalagi takut karena kemarin hampir mati.
Omong kosong tidak lucu sama sekali.
"Maksud gue, Bos—"
"Apa? Lo semua enggak bisa jalan kalo enggak ada gue nendang kalian jalan?"
Ikram berdecak. "Bukan gitu maksudnya."
"Bodo amat maksud lo apa."
Tanjung mengibaskan tangan, menyuruh Ikram pergi karena urusannya sudah selesai.
*
Kalau dipikir-pikir kenapa gitu Suri tidak mengusir dia langsung?
__ADS_1
Kenapa pula dirinya tak enak hati, padahal orang itu juga bukannya peduli soal hati enak saat merepotkannya.
Mana bicara merendahkan orang nampaknya berbakat.
Langkah Suri membawanya tak tentu arah. Gara-gara orang itu, Suri jadi tak punya kontrol mengeluarkan sebatang rokok di kotak rokoknya, menyesap seraya duduk di dekat dermaga.
Orang kaya enak, yah. Mereka hidup sambil berpikir mereka menguasai dunia.
Atau dunia yang tolol, yah? Dikendalikan oleh kertas yang bisa sobek.
"Dek, nih uang."
Suri jadi mengingat sesuatu yang menyebalkan gara-gara orang menyebalkan itu.
"Wih, Abang dapet dari mana? Kan tanggal tua."
"Dahlah, jangan banyak tanya. Sana pergi, beli makanan apa kek. Belanja baju sekalian."
"Abang jangan-jangan jualan narkoba? Duh, enggak usah, deh. Repot urusannya."
"Mau ngerasain digampar sendal, hah?"
Gara-gara uang, kakaknya pergi.
Gara-gara uang, ia sendirian.
Gara-gara uang, hidupnya berantakan.
Kenapa Suri harus hidup di dunia yang diperbudak uang ini?
Menyebalkan.
Suri mengembuskan asap rokok ke udara. Tersadar sebatang rokoknya telah habis. Tapi kenangan menjengkelkan itu membuatnya kembali hilang kendali.
Pada akhirnya sekotak rokok untuk sebulan habis dalam sehari, cuma buat pelampiasan Suri.
Suri beranjak ketika malam tiba, kembali ke apartemennya hanya untuk menemukan orang asing itu masih di sana.
Entah kenapa Suri tak mau menatap orang itu. Jadi selesai mandi, ia menepi ke sudut, menutup kupingnya dengan headphone dan mulai berkhayal sambil menunggu kesadarannya hilang.
__ADS_1
Tapi tiba-tiba ... orang itu berdiri di depannya.
Melempar tepat di depannya segepok uang merah.
"Ambil." Dia bicara begitu seperti manusia menyodorkan tulang ke anjing.
Mata Suri langsung menatapnya tajam. Serendah-rendahnya Suri, ia bukan binatang. Beraninya orang asing ini memperlakukan Suri macam hewan padahal dia hidup juga karena ditolong oleh Suri.
"Lo kira gue anjing? Lo lemparin sesuatu terus gue makan?"
"Emang penting?"
Cowok itu membalas datar namun terdengar sangat arogan dan menekan. Sudah jelas dari nadanya kalau dia ini sangat amat terbiasa mengatur orang pakai uang. Dan kayaknya bagi dia, uang adalah segala-galanya.
"Apa bedanya lo ngambil ini sama kerja sampe tengah malem?"
Suri menendang uang itu jauh-jauh. "Beda harga diri."
Tidak sudi Suri merendah cuma demi uang. Suri mencari uang semata cuma buat hidup. Kalau saja manusia bisa hidup dengan batu, Suri lebih suka cari batu daripada cari uang.
"Harga diri? Lo kerja pake harga diri?"
"Gue idup pake harga diri." Suri menarik turun tudung hoodie yang ia pakai, menutupi wajahnya. "Sana tidur."
Dasar penjajah. Kalau sudah sehat kenapa tidak langsung pergi, sih?
Suri tidak peduli dia siapa dan seberapa banyak uangnya. Yang Suri mau hanya dia pergi jauh, dan tidak muncul lagi mengacaukan hidup Suri.
"Anak kecil," ejek orang itu tiba-tiba.
"Hah?!" Suri terlonjak. "Eh, lo ada masalah apa, sih?! Gue tuh udah sabar yah sama lo! Gue enggak ngusir lo, enggak ngajak berantem, diem aja gue biarin lo! Kenapa jadi lo yang kayak punya ma—"
Sedikitpun dia tak mendengar suara Suri, karena yang selanjutnya dia lakukan adalah melempar korek ke tumpukan uang, menghanguskan seluruhnya.
Api orange kemerahan langsung berkobar membakar tumpukan kertas itu, menertawakan semua perjuangan Suri selama ini.
Apinya seolah sedang menari sambil tertawa puas, berkata kalau Suri begitu tolol menghabiskan waktu cari uang, padahal uang itu bisa terbakar dengan mudah.
Sangat mudah.
__ADS_1
*