Jadi Tawanan Preman Galak

Jadi Tawanan Preman Galak
105. Datang Menjemput Suri


__ADS_3

Teguh mengetuk pintu kamar Suri sebelum membukanya. Tidak seperti saat Suri masih dalam pengawasan Tanjung, kini Teguh tidak memerlukan izin siapa pun kecuali Suri saat ingin bertemu dengannya.


"Suri." Teguh menegur wanita itu saat dia ternyata sedang sibuk menidurkan Rana. "Gue perlu ngomong soal Tanjung."


Ekspresi Suri langsung dipenuhi kebencian hanya dengan mendengar namanya.


Dia benar-benar tak bisa menahannya, seolah jika Tanjung ada di hadapan Suri sekarang, Suri ingin menguliti pria itu.


"Gue udah kepikiran soal ini, tapi kayaknya Tanjung ada di Bali."


"Dayan yang bilang?"


Teguh menggeleng. Pergi ke dekat jendela dan mengintip sejumlah besar pria seumuran dirinya tengah menyebar di sekitaran hotel.


Kemarin Dayan bahkan tidak meletakkan satu saja penjaga di sekitaran mereka. Cuma ada satu orang yang Teguh lihat diletakkan di depan hotel, duduk santai mengawasi dari CCTV—meskipun mungkin ada orang lain yang juga berjaga di ruang CCTV utama.


Sekarang Dayan sampai menyuruh banyak anak buahnya menyebar. Menurut Teguh, ini cuma pertanda kalau mereka akan siap menghentikan Tanjung kalau-kalau dia gila menerobos ke sini, ingin menjemput Suri.


"Suri, kalau lo enggak bisa bikin Dayan mihak lo, kita enggak punya pilihan kecuali kabur dari sini."


Itupun pilihannya sangat sulit.

__ADS_1


"Tapi dia enggak mau dengerin gue, Bang." Suri mengejutkan kening frustrasi.


"Lo mesti bikin dia dengerin lo."


Teguh mau tak mau harus mendesak.


"Dayan itu bakal selalu ketawa biarpun dia lagi marah. Dia juga bakal ngomong seakan-akan sesuatu enggak penting biar dia ngendaliin orang. Karakternya dia emang kayak gitu."


Soalnya memang seorang eksekutif tidak boleh mudah terpengaruh, apalagi mudah dirayu.


"Suri, dengerin gue. Kalo lo enggak berusaha, lo cuma dijadiin alat tukar. Dayan bisa ngejual lo ke Tanjung kalau dia mau."


Kalau cara termudah mendapatkan Suri adalah membelinya, dia mungkin bakal membeli Suri.


"Kalaupun enggak, Dayan cuma jadiin lo mainan di sini," ucap Teguh lagi. "Semuanya terserah dia. Lo enggak bisa ngelawan."


"Loh, loh, kenapa gue mendadak jadi antagonis di sini?"


Suri dan Teguh menoleh kaget, tak memperkirakan kalau Dayan akan muncul sekarang.


Meskipun Dayan juga tinggal di hotel ini, dia benar-benar jarang bertemu Suri.

__ADS_1


Terakhir pun dia memanggil Suri, bukan mendatanginya.


"Ayolah, gue enggak suka jadi antagonis. Gue ini protagonis." Dayan berkacak pinggang. "Tapi ngomong-ngomong, kenapa kalian pada gibahin gue? Hm?"


Suri langsung mendekap Rana baik-baik, melindunginya bahkan kalau Dayan bilang dia tidak punya niat melukai.


"Tanjung di sini?" tanya Suri, mau tak mau harus memastikan. "Lo mau jual gue ke Tanjung?!"


Dayan malah tertawa. "Perasaan dulu lo suka deh sama gue, kenapa sekarang jadi ngegas? Padahal gue ke sini mau ngasih tau, loh."


Apa dia bilang? Kenapa pula dia repot-repot memberitahu Suri?


"Lo tau, waktu Tanjung nikah sama lo, gue sebenernya udah kepikiran dia bakal ancur. Soalnya punya komitmen sama kalian cewek itu cuma bikin perang dunia. Itu loh, yang bikin Adam diusir dari surga. Karena cewek ngomong enggak pake akal sehat, minta sesuatu enggak mikir konsekuensi. Ya begitu."


Suri cuma memicing.


"Intinya, karena berantem sama lo, Tanjung dipecat dari Aliansi. Dari awal posisi Eksekutif enggak cocok sama orang yang punya keluarga macem itu."


Sebelum Suri membalas, Teguh lebih dulu berkata, "Makanya Tanjung bisa ke Bali? Gue kira Bos yang ngasih izin."


*

__ADS_1


__ADS_2