
Dih, pertanyaan apa itu? Buat apa juga dia sampai tahu perasaan Suri pada orang lain?
Mengatur kegiatan saja dia sudah melanggar Hak Asasi Manusia, lantas sekarang dia mau mengatur perasaan Suri, gitu?
"Suka." Suri menjawab lebih berani. "Orang dia ganteng. Yaiyalah suka."
Pertanyaan tidak bermutu, pikir Suri jengkel.
Ekspresi cowok itu sangat tajam mendengar perkataan Suri, seolah dia tak senang mendengar Dayan dipuji.
Tapi dia tak lagi bicara, pergi membaringkan diri di kasur.
Enggak jelas! Suri mendumel dalam hati. Emang cowok jadi-jadian! Otaknya korslet jadinya begitu!
Suri beranjak pergi dengan langkah jengkel. Masuk ke kamar mandi membersihkan dirinya daripada naik pitam gara-gara kelakuan orang tidak tahu diri yang ia tolong.
Semoga dia cepat sembuh agar cepat hengkang!
...*...
Esok hari, Suri sudah menemukan semangat dan optimisme-nya untuk bekerja.
Kebetulan waktu jalan kemarin ia menemukan beberapa tulisan pencarian tenaga kerja tanpa ada embel-embel kartu mahasiswa, jadi Suri pikir ia bisa punya pekerjaan lagi minggu ini.
Namun ....
"Lo mau ke mana lagi?"
Lagi, lagi, lagi, dan lagi.
Ini orang tampang sangar, tato naga, hobi malah jadi ibu-ibu.
Tiap Suri gerak, dia bertanya mau ke mana. Suri pulang malam, ditanya dari mana. Harusnya dia jadi perempuan!
Apalagi dia sudah sangat berbakat jadi manusia egois. Kalau Suri yang tanya dia diam, sekalinya dia yang bertanya Suri harus jawab.
Mau Suri pijak-pijak dia sampai tak berbentuk. Biar dia tahu rasanya sakit itu apa, karena nampaknya dia sudah mulai lupa kemarin dia sekarat.
__ADS_1
"Cari kerja," jawab Suri ketus. Singkat padahal dalam kepala ia berkoar-koar jengkel.
"Gue udah ngasih lo uang, kenapa masih mau kerja?"
Suri mendengkus kesal. "Emang lo pikir sekali dapet duit lo hidup seribu tahun? Gue pake duit lo bayar kontrakan jadi sekarang gue mesti nyari duit makan."
"Enggak usah," putus dia seenaknya.
Mungkin mengira kalau Suri ini hidup untuk menyembah dia.
"Hah? Enggak usah makan? Sori, yah. Elo enggak makan makanya pake infus, gue enggak."
Suri menyambar jaketnya asal-asalan.
"Udahlah, gue bukan anak kecil. Enggak udah selalu ditanyain mau—"
"Lo enggak dengerin gue kemarin."
Bodo amat, ucap Suri dalam hati.
Tangannya menarik pintu terbuka, berniat pergi menjalani hidupnya yang bebas jika tak dihadang oleh dua laki-laki kekar berbaju putih tepat di depan pintu.
"Sori, Mas. Saya mau lewat."
Mereka diam.
"Mas, permisi loh, saya mau lewat. Mau kerja."
Suri mencoba menerobos, tapi tubuhnya didorong masuk.
Secara paksa mereka menutup pintu, meninggalkan Suri tercengang.
"Heh! Lo ngapain?!" amuk Suri langsung.
Jelas cuma satu orang yang mau melakukan ini semua.
"Gila yah lo?! Gue mau kerja! Ngapain juga gue di sini nemenin robot enggak tau ngomong! Lagian kalo udah sehat, lo kan harusnya balik ke—"
__ADS_1
Mulut Suri dibungkam hanya dari tatapan mata.
Cuma satu ekspresi wajah.
Buset ini orang. Mukanya baby face, matanya malah mata setan. Mungkin dia keturunan tuyul persilangan iblis?
Atau mungkin ibunya dia ratu iblis sementara bapaknya keturunan monster?
Matanya macam bisa membelah orang jadi tujuh bagian!
"Maksud gue," Suri merasa harus merendahkan suara, "gue kan mau kerja. Please."
"...."
"Please dong, please. Gue tuh mesti kerja buat makan. Iya, lo udah kasih uang buat bayar kontrakan. Tapi hidup gue enggak jalan kalo cuma bayar kontrakan. Mesti makan juga, mesti nabung juga. Please."
Kenapa gue mesti mohon-mohon sama orang?!
Cowok itu hanya menatapnya seolah dia mau membunuh Suri. Tangan dia bergerak ke bawah bantal, mengeluarkan sejumlah uang untuk ketiga kalinya!
"Gue bukannya suka sama orang boros."
Dia melempar uang itu dan Suri spontan menangkapnya.
"Enggak ada alesan lagi."
Suri tuh mau kerja bukan cuma karena uangnya namun karena ia terbiasa! Makanya Suri tetap protes.
"Ya tapikan bulan depan terus bulan-bulan depannya lagi gue juga butuh! Kalo cuma buat bulan ini doang—"
"Berisik!"
Suri terkesiap.
"Kalo lo enggak ngerti, mending diem. Gue mau istirahat."
Suri mengepal tangannya kuat-kuat, berdoa pada Tuhan di atas sana agar jangan sampai ia membunuh seseorang yang sudah ia tolong.
__ADS_1
*