Jadi Tawanan Preman Galak

Jadi Tawanan Preman Galak
28. Hidup Berasa Mau Mati


__ADS_3

Pertanyaan bodoh macam apa itu?


Tanjung cuma berdecak, menepis tangan Suri. Ia mau lanjut menarik jaket di badan perempuan itu, tapi Suri langsung histeris menghindar.


"Lo kira gue cewek apaan?!"


Kenapa banyak sekali bahasa perempuan ini yang susah dimengerti?


Cewek apaan? Memang cewek ada jenisnya? Cewek ya cewek.


Tanjung menarik tangannya, menahan tengkuk Suri untuk mencium dia lebih dalam. Sayangnya beda dari tadi, Suri memberontak.


"Enggak!" Suri memeluk selimut yang menutupi tubuhnya. "Jangan apa-apain gue, plis. Tampar gue kek, apa kek, asal jangan itu!"


".... Lo takut sakit?" Tanjung memiringkan wajah bingung.


"Bukan itu!"


"Terus apa?"


"Lo kira bisa seenaknya nelanjangin cewek yang lo mau?!"


Iya. Memang begitu selama ini. Kenapa dia bertanya hal tidak penting, sih?


Tanjung sedang ingin menuntaskan hasratnya sekarang dan dia terus mengoceh. Bukankah sejak awal dia sudah tahu kalau mereka akan berakhir begini?


Tanjung tiba-tiba memikirkan sesuatu yang membuatnya kesal. "Jadi lo lebih suka Dayan?"


"Kenapa jadi ke sana?!" teriak Suri marah.


Kemarahan yang Tanjung tidak pahami. Kenapa dia menolak padahal Tanjung mau memuaskan diri bersamanya?


Satu-satunya alasan cuma dia mau bersama Dayan, kan?


"Terus kenapa lo nolak?"


"Karena gue enggak murahan, bajing*n!" Suri menutup diri dalam selimut rapat-rapat. "Gak bakal gue tidur sama orang sebelum gue nikah! Enggak boleh! Abang gue enggak bakal setuju!"

__ADS_1


"...."


Keterdiaman Tanjung bikin Suri mengintip. Ternyata cowok itu terus melihatnya dengan mata memicing.


Sumpah yah, Suri baru tahu kalau ada manusia semacam ini. Bagaimana bisa dia memperlakukan seorang perawan suci macam Suri sama dengan cewek biispak?


Matanya itu, seakan-akan Suri itu memang cuma handuk yang kalau butuh dipakai kalau sudah ya disampirkan ke sembarang tempat.


Tiba-tiba, Tanjung berbalik. Masuk ke kamar mandi, yang Suri ogah tahu dia sedang apa di dalam sana.


*


Bahaya.


Ini bahaya.


Suri sudah berada dalam bahaya tingkat tinggi.


Kemarin-kemarin ia diancam dengan kekerasan sampai nyawa hampir melayang, HP-nya harus dikuburkan, dan sekarang kesuciannya terancam.


Dia bermain solo di kamar mandi Suri, terus keluar tanpa dosa, tidur di kasur sementara Suri tak tidur karena takut diterkam.


Paginya Suri mau kabur ke mana saja ia bisa lari, di depan pintu malah bertambah empat penjaga.


HP gue diremukin, dilarang kerja, dikurung di kamar sendiri, sekarang mau dijadiin pelacurr?


Suri menatap tak percaya langit-langit kamarnya. Kagok sendiri dengan nasib yang Tuhan berikan.


Ya Tuhan, percaya kok aku sama yang namanya pencipta. Percaya sama keadilan. Tapi kok harus banget kayak gini?


Memang Suri pernah punya niat melacurr. Jujur saja, pernah. Cuma, dipaksa dan mau sendiri itu beda.


"Lo kenapa?"


Suri terlonjak.


"Di luar ada bahan makanan." Tanjung berlalu ke kamar mandi. "Masak."

__ADS_1


Sejak kapan Suri jadi pembantunya dia?!


Tapi demi bertahan hidup, Suri harus beranjak. Membuka pintu lagi, dan benar ternyata sudah ada dua kantong besar bahan makanan.


Ini sih namanya hidup berasa mau mati.


Suri masak makanan yang bisa Tanjung makan sekaligus dirinya, tapi enggak berani bersuara.


"Lo masih takut?" Tanjung tahu-tahu sudah ada di belakangnya.


Suri yang panik spontan berbalik, kesalahan fatal karena tangannya menyenggol panci sup.


Rasa panasnya membakar sampai ke tulang. Membuat Suri tersentak menjerit.


Seolah belum cukup, senggolan Suri malah membuat panci itu tumpah.


Namun terjadi sesuatu yang bikin Suri membeku.


Tanjung menarik tangannya sekaligus menahan panci itu tumpah ke arah Suri, meski harus merelakan kedua tangannya ditumpahi sup panas.


Bukan meringis, Tanjung malah menggeram, "Cuci tangan lo buruan, goblock."


Suri tersentak. Buru-buru mencuci tangannya yang perih tapi mendadak tidak perih melihat tangan Tanjung.


"Tangan lo—"


"Minggir."


Karena kulit dia putih, semua telapak sampai pergelangannya merah. Suri memutar keran untuk Tanjung mencuci tangannya.


Gigil kecil yang dilihat samar di tangan itu menunjukkan seberapa sakit dia.


Dia melindungi Suri, kan? Barusan, dia terluka karena melindungi Suri?


Orang tak berhati ini?


*

__ADS_1


__ADS_2