
Waktu baru menunjukkan pukul 11.30 Wib, dan itu masih ada waktu dua jam lagi untuk pulang. Rasanya kepala Flo pening sekali, ia tak kuasa menahan beban. Ia menyandarkan kepala di kedua tangannya yang terlipat. Aurel yang duduk tepat di samping Flo, membelai pelan rambutnya dan terhenti tepat di kening gadis cantik yang selalu ceria itu.
"Lo demam deh, Flo. Ke uks dulu aja yuk, rebahan, gue temenin lo kesana. Mumpung ini pelajaran pak Budi kosong, entar catatan gue lo salin aja di rumah." Nada bicara Aurel terdengar lembut dan terkesan perhatian secara tulus di telinga Flo.
Hari ini memang pelajaran kosong, pak Budi berhalangan hadir, murid - murid diberikan tugas menyalin mengenai materi persiapan tes ujian tengah semester. Tian yang duduk tepat di belakang Aurel dan bersebelahan dengan Kyo menendang kursinya.
"Apaan lo?" Tanya Aurel sinis pada Tian.
"Kenapa sama temen lo?" Menunjuk ke arah Flo yang belum mengangkat kepalanya yang berat.
"Demam sama pusing deh kayaknya, panas keningnya. Gue mau anter ke uks dulu."
"Sini biar gue aja yang anter..." Tawar Tian sembari tersenyum penuh arti.
"Eits, nggak usah! Entar bukannya lo ajak ke uks, malah lo ajakin ke KUA! Udah biar gue aja..." Aurel tak mau kalah. Perdebatan kecil kedua temannya itu membuat Flo terbangun dan menegakkan kepalanya perlahan.
"Berisik lo pada, gue bisa sendiri! Denger kalian malah bikin gue tambah pusing tahu nggak? Udah, kalian jadian aja, udah cocok tuh, sekalian ajak Aurel ke KUA ya, Yan."
"Lo sakit aja masih bisa ngeselin, Flo!" Aurel protes tak terima. Flo melenggang bebas meninggalkan kedua makhluk yang tengah memperebutkan dirinya. Kyo yang sedari tadi diam hanya menatap punggung Flo hingga menghilang dari balik pintu hendak menuju Uks.
***
Sudah sejam lebih akhirnya Flo bisa tidur di Uks meskipun tak senyaman di ranjang kamar tercintanya. Itu pun sudah membuat perkembangan bagi dirinya, kepala yang tadi terasa berat berangsur - angsur membaik dan ringan. Ia menggeliat pelan dan merenggangkan kedua tangannya. Sedikit menguap sebagai bumbu pelengkap menandai bahwasannya ia baru saja terbangun dari tidur lelapnya.
Flo kembali merebahkan tubuhnya, kepalanya kembali melekat pada bantal. Rasanya ada efek candu jika melihat bantal, ia pasti akan mudah segera terlelap. Tapi ia ingat sebentar lagi jam pulang sekolah. Lebih baik menunggu dengan tiduran, nanggung pikirnya.
CEKLEK
__ADS_1
Terdengar seseorang membuka kenop pintu perlahan, dan berjingkat mengendap - endap masuk ke Uks. Tak hanya satu orang bahkan bisa jadi lebih. Flo memberanikan diri membuka tirai samping bilik ranjangnya yang tepat di ujung hendak mengintip siapakah gerangan disana. Betapa terkejutnya ia mendapati dua orang yang amat ia kenal. Mecca dan Banyu.
Flo menutup lagi tirai perlahan. Ia masih mencoba berpikir positif, menarik nafas dan membuangnya secara teratur.
"Ca, gue kangen sama lo, tahu nggak?" Ucap Banyu sambil memilin anak rambut Mecca dan menyelipkan di balik daun telinga gadis itu. Lelaki yang dikenal Flo sebagai kekasih mantan kakak kelasnya dulu yang bernama Gina.
"Kangen apanya?"
"Kangen lo lah, semua yang ada di lo, bikin nagih!"
'DEMI APA NIH, GUE DENGER BEGINIAN? OTAK GUE YANG MASIH POLOS BISA TERKONTAMINASI INI KALAU KELAMAAN DISINI!' Flo merasakan bulu kuduknya berdiri mendengar pengakuan Banyu, padahal bukan ditujukan untuk dirinya.
"Kalau lo kangen, buruan dong putusin Gina! Gue nggak mau terus - terusan jadi kekasih bayangan lo. Capek!"
"Tenang sayang, bentar lagi pasti gue bakalan putusin dia kok. Tinggal cari waktu yang tepat aja."
"Nggak segampang itu, Ca. Keluarga gue tahunya Gina itu pacar gue satu - satunya. Kita udah lama pacaran. Gue nggak bisa langsung ninggalin dia. Tolong ngertiin gue ya, please... Gue beneran sayang sama lo dan pasti cari cara buat mutusin Gina."
"Bener ya, lo harus segera mutusin dia. Awas kalau nggak! Gue nggak mau ngasih lo yang bikin nagih ..." Ancam Mecca dengan nada manja.
"Jangan dong." Banyu merajuk, lalu secepat kilat ia membenamkan wajahnya di ceruk leher Mecca. Menciumi leher gadis itu, dan semakin naik lagi hingga bertemulah dengan benda kenyal berwarna merah ranum yang is rindukan. Mereka saling ******* bibir, berpagutan, bergantian menyesap rasa manis hingga terdengar desahan pelan dari keduanya.
Flo bukan perempuan yang polos - polos amat kok, ia pernah tak sengaja menonton secara Live abangnya yang sedang berciuman mesra dengan mbak Yola di ruang tamu kemarin lusa.
'Mereka sebenarnya muka tembok apa emang beneran nggak tahu kalau ada gue di dalam sini?' Gadis cantik itu berdiri di ruangan yang sama dengan mereka sibuk mengomel dalam hati. Ia menyingkap kembali tirai dan melihat secara nyata ciuman itu. Darahnya seolah mendidih, bagaimana tidak, belum lama ini Mecca membuat hubungannya dengan Judith hancur karena kebohongan yang dilakukan mantan pacarnya meskipun bukan perselingkuhan, tapi tetap saja membuat Flo mengepalkan kedua tangannya. Geram bercampur emosi yang sudah meluap menjadi satu.
Flo kembali teringat ucapan Gina, tiga bulan yang lalu, saat Gina belum menjadi alumni sekolahnya.
__ADS_1
"Yang terlihat mulus belum tentu baik dan yang terlihat kasar belum tentu buruk. Lo ingat baik - baik, air tenang itu menghanyutkan sampai lo bisa tenggelam ke dasar lautan. Gue ngelabrak temen lo juga pasti ada alasannya, jadi lo nggak perlu belain nih cecunguk. Makin besar kepala aja dia entar... "
Dan sekarang ia mulai paham apa yang dimaksud kak Gina waktu itu, kebodohan terbesar yang ia lakukan dengan membela Mecca. Flo mengira itu hanya kesalahan yang tidak disengaja atau kesalahpahaman, dan ternyata itu benar adanya. '**** banget sih lo, Flo. Kenapa penyesalan selalu datang terakhir?' (Kalau di awal namanya PENDAFTARAN, Flo!)
'Demi Medusa yang rambutnya ular semua, gue harus bikin perhitungan sama titisan Nyi Pelet satu ini. Sebelum banyak korban berjatuhan karena ada siluman berwujud manusia menggoda lelaki orang, nah kalau kuat iman sih nggak bakal tergoda, tapi kalau cowoknya genit tipe ini ya nggak bakal di sia - siakan!'
'Dasar cowok mata keranjang sama cewek nggak punya hati! Perpaduan yang klop. Enaknya gue apain ya? Gatel tangan gue...' Flo masih kesal.
Flo menyingkap tirai secara kasar, mengagetkan sepasang tersangka yang tercyduk dengan masih berpelukan satu sama lain namun sudah melepaskan pagutan bibir mereka.
"Brengsek lo ya!" Flo berjalan ke arah Mecca, menjambak kasar rambut gadis itu hingga meringis kesakitan, hingga terlepaslah pelukan antara mereka. Banyu yang melihat amarah Flo mencoba melerai, namun kalah tenaga. Entah mendapat kekuatan ekstra darimana, Flo bisa mendorong Banyu hingga tersungkur.
Mecca yang tidak pernah menduga akan menghadapi kemarahan Flo, hanya mampu menerima seraya mencoba meronta minta dilepaskan. Flo menjambak seperti kesetanan, mengucap sumpah serapah yang membuat Mecca meneteskan air mata, perih yang ia rasa di setiap jambakan seolah rambutnya akan tercabut dari akar - akarnya.
"Flo, apa - apaan sih, lo! Jangan jadi cewek bar - bar, lepasin dia, Flo!" Bentak Kyo. Tak disangka, Kyo, Randy, Tian dan Aurel masuk ke Uks setelah bunyi alarm pulang sekolah. Mereka terkejut melihat adegan tersebut.
Kyo menarik tubuh Flo dan Aurel menarik Mecca ke dalam pelukannya, tampaklah Mecca yang ketakutan.
" Flo, lo kenapa sih kok jadi kesetanan kayak gini? Lo apain dah ni anak orang?" tanya Aurel yang belum tahu akar permasalahannya.
"Lo tanya aja sama uler keket satu ini, dia jelas lebih tahu kenapa gue bisa berbuat kayak gini!" Umpat Flo yang masih bernada tinggi di setiap ucapannya. "Buat lo Mecca, ini belum apa - apa, dibanding rasa sakit hati gue. Jangan lo ulangi lagi! Jangan jadi cewek perusak hubungan orang. Muka lo cantik tapi hati lo busuk. Bener yang dibilang Aiko waktu itu. Gue ngerasa jadi orang yang bener - bener ****! Selalu belain dan baik sama lo, gue pikir lo orang baik, dan anggap yang mereka lakuin ke lo itu karena mereka cuma iri sama lo atau fitnah, tapi apa yang baru saja gue lihat dan denger barusan? Itu bukti bahwa selama ini gue jadi Looser tahu nggak lo? BRENGSEK!! "
"Flo, udah!" Kyo menarik Flo ke dalam pelukannya, karena ia tahu gadis itu akan menangis terlihat dari matanya yang mulai memerah.
"Gue bener - bener ****, Kyo. Sampai gue selalu belain si rubah betina!" Flo menangis sampai sesenggukan, Kyo mengelus punggungnya. Kyo melepaskan pelukan kemudian menggandeng Flo keluar dari Uks.
"Ran, tolong anterin Aiko pulang. Gue titipin Aiko ke lo ya." Ucap Kyo pada Randy saat berhenti di depan pintu. Aurel dan Tian melirik satu sama lain, ada tanda tanya besar dalam pikiran keduanya.
__ADS_1
***