
Suasana seketika hening seolah menunggu seorang Sebastian Wijaya menjelaskan dan mendeskripsikan belah duren pada sang kekasih hati.
"Ah, kelamaan! Belah duren itu malam pertama, ibaratnya nih ya, seorang pemain sepak bola yang berhasil mencetak gooooolllll ke gawang lawan. Understand?" jelas Aiko, ia sedikit gereget melihat pasangan unik tersebut.
"Astaghfirullah," pekik Aurel seraya menutup mulutnya yang melongo dengan telapak tangannya.
"Makanya jadi cewek jangan terlalu polos, banyak belajar biologi juga biar pinter. Hadeh, punya temen begini amat! Ampuni kepolosan teman Aiko ini, Ya Tuhan..." ucap Aiko mendramatisir membuat Flo jengah. Kyo terkekeh menyetujui ucapan saudari kembarnya.
"Ngapain kamu ketawa? Seneng? Ada yang ngejelasin secara gamblang ke Aurel?" cibir Flo yang gemas melihat tingkah Kyo.
"Seneng deh, yang nikah aku, tapi yang jelasin malah kembaran aku. Bangga gitu jadinya! Nggak tahu deh Aiko belajar dari siapa? Hahaha," ucap Kyo santai.
"Gue belajar dari Sun go kong!" celetuk Aiko asal, Randy membelai dan merapikan rambut Aiko yang sedikit berhamburan tertiup angin membuat gadis itu malu.
"Sekarang lo masih mau minta belah duren kagak sama Tian? Kalau iya, nunggu sah dulu baru puas - puasin deh belah duren mau yang montong kek, musang king kek, sepuas lo dah!" ledek Dinda sembari melipat kedua tangan di depan dada.
"Ogah! Takut gue!" jawab Aurel cepat. Ia sedikit gugup mendengar kenyataan yang sebenarnya. Padahal tadinya ia sendiri yang mengajak Tian untuk melakukan hal itu, sumpah demi apapun Aurel menahan malu setengah mati bahkan pipinya memerah dengan sempurna.
"Udah, Yan! Buruan kawinin ini bocah! Biar tambah pinter!" goda Kyo tak hentinya membuat Tian gemas.
Lagi - lagi Tian menjadi sasaran atau korban bully jika menyangkut sang kekasih hati, yang kecerdasannya tak perlu diragukan lagi.
* * *
Sore ini kedua keluarga besar sudah berada di pintu utama resort, mereka sudah bersiap pulang. Bahkan Tian cs sudah rapi dan memasukkan barang bawaan ke dalam mobil Tian. Terlihat Aurel kesulitan membawa koper besarnya ke bagian belakang mobil Tian. Tian menghampiri pujaan hatinya yang masih menggeret kopernya.
"Sini aku bantuin," tawar Tian tulus.
"Aku bisa sendiri kok," terlihat Aurel sungkan dengan kebaikan sang pacar, Tian mengernyitkan dahi.
"Kamu kenapa? Kok aneh gini?" ucap Tian penuh keheranan.
__ADS_1
"Perasaan kamu aja kali!"
"Jangan - jangan kamu masih kepikiran sama yang tadi anak - anak omongin di dekat kolam renang ya?" Tian menerka - nerka.
"Deuh, apaan sih? Bisa nggak kalau kita bahas yang lain. Aku malu, Yan!" jawaban Aurel membuat Tian gemas. Gadis mungil itu terlihat semakin merona dan malu.
Bukan Tian namanya kalau tak mengambil kesempatan dalam kesempitan. Ia mendekatkan wajahnya pada wajah mungil Aurel yang saat itu sudah bisa menebak apa yang akan dilakukan Tian padanya. Gadis itu memejamkan kedua matanya begitu juga Tian, ia pun melakukan hal yang sama.
Daaaannnn.....
"Kok pedes mulut kamu, Yan! Kamu makan cabe berapa kilo?" tanya Aurel yang masih memejamkan kedua matanya.
"Kok asem bibir kamu, Sayang? Abis makan belimbing wuluh apa?" gantian Tian yang bertanya.
"Buwahahahahaa," dan tawa itu berasal dari manusia bumi yang bernama Kyo dan Randy tanpa rasa bersalah, yang masing - masing membawa cabe dan tomat mengerjai sepasang kekasih yang hendak melancarkan adu bibir tersebut.
"Itu bukan pacar gue!" celetuk Aiko saat orang - orang menatapnya karena sedari tadi ia bergelayut manja di lengan sang kekasih, Randy. Ia malu melihat tingkah polah Randy yang usil ketularan Kyo.
"Suami gue kayaknya ganti jadi Lee min Ho aja apa ya?" ucap Flo asal, seketika mendapat lirikan tajam dari Aiko si garis keras pendukung babang tampan dari negeri ginseng yang tadi ia sebutkan namanya. Flo terkekeh.
"Itu kembaran gue!" Aiko menimpali ucapan Flo karena tak terima kekasih khayalannya menjadi suami iparnya.
"Mana ada kembaran kok cuma seketeknya doang!" ledek Flo membuat Aiko kembali mengerucutkan bibir, Flo tertawa puas.
Menit berikutnya, Tian mengejar kedua sahabat somplaknya dan didukung oleh teriakan Aurel yang terdengar kencang menyemangati Tian membalas dendam pada dua lelaki somplak yang saat ini lari terbirit - birit takut tertangkap olehnya.
"Kejar terus, Sayang! Jangan kasih kendor! Balaskan dendam kita!" teriak Aurel penuh semangat seperti seorang pemandu sorak.
Ketiganya menyuguhkan tontonan bagi kaum hawa yang melihatnya, ada yang takjub, gemas, terpesona dengan ketampanan paras mereka, tapi ada juga yang terlihat biasa saja menatap ketiga lelaki yang masih asyik berkejar - kejaran tersebut dan tentunya ini adalah kaum adam yang cemburu pada pasangannya karena asyik menatap ketiga brondong yang menurutnya tengah tebar pesona tersebut.
__ADS_1
Dengan formasi Kyo, Randy dan Tian malah terlihat seperti menonton kartun Tom, Jerry dan Spike (Kucing, tikus dan anjing). Mereka mengakhiri kejar - kejaran saat sang Mami turun tangan menghentikan langkah ketiganya dan memberi jeweran pada telinga masing - masing.
"Dasar bayi tua, udah gede masih aja lari - larian kayak gitu! Bikin Mami malu aja!" Mami masih terlihat kesal, bahkan rayuan Kyo sampai memohon pada ibunya pun tak digubris.
Mau tak mau Flo turun tangan dan meminta maaf pada sang mertua supaya memaafkan ketiganya yang telah menjadi trending topic di resort tersebut.
"Mami maafin mereka ya, maklumin aja, Mi. Mungkin mereka kangen masa kecilnya!" Flo berusaha membela.
"Aduh, bidadari gue dateng! Sayang, tolongin aku. Masa Mami nggak mau maafin aku! Harusnya kan seneng anaknya ganteng dilihatin orang - orang, bukannya malu, iya kan?" rayu Kyo pada istrinya membuat Flo dan Mami jengah.
"Huweeekkk," Aiko datang sembari berakting pura - pura mual.
"Lo kenapa? Hamil?" tanya Aurel tanpa dosa. Mami seketika memberikan tatapan mematikan pada anak gadisnya.
Hamil? Boro - boro! Disentuh aja belum! Oopss... Batin Aiko ingin menjerit sekencang - kencangnya.
"Aurel, mulut lo ya! Mau gue uleg?" kini Aiko yang berkejar - kejaran dengan Aurel, Mami hanya menghela nafas kasar kemudian menatap menantu cantiknya.
"Yang sabar ya, Flo. Punya suami sama ipar gila semua! Perasaan dulu Mami pas hamil ngidamnya nggak aneh - aneh tapi kenapa pas lahir jadi begini ya? Apa karena dulu sering ditengokin sama Papi ya? Jadi ketularan gilanya!" gumam Mami dengan bahasa yang hanya dirinya sendiri yang dapat menerjemahkan arti ucapannya barusan setelah menasehati Flo. Flo tersenyum kecut.
Nasi sudah jadi bubur, Mami! Begitu - begitu juga udah bisa ambil hati dan tubuh aku! Batin Flo, kini pipi gadis itu merona mengingat kejadian semalam yang terlintas di pikirannya. Hanya dalam hati tak mampu ia sampaikan pada sang Mami mertua.
Gerald berlari kearah Flo dengan mimik wajah serius, tak seperti biasanya, tanpa basa - basi ia segera buka suara.
"Flo, ada yang mau abang omongin! Ikut abang sebentar, please..." ucap Gerald dengan nada memelas menggandeng tangan adiknya menuju taman samping.
Ada apa, Bang?
* * *
__ADS_1