Jodoh Florence

Jodoh Florence
Iya kan, Sayang?


__ADS_3

Kyo masih menggandeng tangan Flo, entah ia sadari atau tidak. Namun, seperti merasa nyaman atau terdapat lem tak kasat mata membuat mereka tidak melepaskan tautan jemarinya. Sesampai di parkiran, Kyo baru melepaskan tangannya. Ia mengambil ponsel yang ada di dalam tas dan tampak menghubungi seseorang.


📞 Halo, iya bang. Bentar, gue lagi sama nih anak. Flo, bang Gerald mau ngomong nih.


Kyo menyerahkan ponselnya pada Flo yang ada di sampingnya.


📞 Dek, hari ini gue nggak bisa jemput. Kamu abang titipin sama Kyo ya. Abang mau ketemu sama Dospem. Nanti kalau Kyo nakal, jitak aja kepalanya. Hahahaha.


📞 Abang ih apaan sih, kayak anak kecil aja pakek dititipin kayak gini! Ini juga emang mau bareng sama Kyo, soalnya Aiko bareng sama Randy pulangnya. Abang tenang aja, Flo bisa jaga diri kok. Hehehe.


📞 Ya udah kalau gitu kan abang jadi tenang, jangan lupa makan ya, kayaknya nanti abang pulangnya rada malam. Mau mampir tempat Yola. Surprise gitu lah buat dia, Dek.


📞 Jangan macem - macem ya, bang. Mbak Yola kan tinggal sendirian di apartemennya. Entar jadi bertiga, berabe urusannya. Hehehe.


📞 Lah, nggak apa - apa jadi dapat double bonus, ijab sah sama ijasah. Hahaha.


📞 Abaaaaaaaaaaangggg....


Flo segera mematikan panggilan telepon yang jelas sekali di seberang sana masih terdengar suara tawa terbahak - bahak. Meskipun ia tahu, abangnya bukan lelaki yang akan melakukan hal itu, tapi tetap saja membuatnya kesal. Siapa yang tahu hati manusia? Iya kan? Flo takut abangnya khilaf, ah... Segera ia tepiskan perasaan tak bermutu itu.


"Udah ngobrolnya? Mau balik sekarang?" tanya Kyo saat menerima ponsel yang diberikan Flo padanya dan meletakkan kembali ke dalam tas.


"Iya, balik yuk. Makasih ya udah mau nganterin gue pulang, tumben lo baik banget..."


"Gue tadi dapat amanat dari abang lo, makanya gue susulin ke uks. Eh... Nggak tahunya lo lagi kesurupan kayak tadi! Hahaha.. Ternyata lo bisa ngamuk juga ya? Tahu gitu tadi gue videoin pasti bakalan viral. Kan nggak pernah ada ceritanya tuh, cewek kalem jadi bar - bar judulnya!"


"Cih, baru juga gue puji bentar, kambuh lagi sifat nyebelinnya. Hufft.." Flo mencebik bibirnya. Kyo menahan tawa dan mengusap rambut Flo. Flo merasakan kinerja jantung melebihi biasanya. Kyo menyalakan motornya, Flo memegang kedua bahu Kyo untuk menaiki motor sportnya yang lumayan tinggi. Setelah duduk di belakang, Flo memegangi dadanya yang masih tak karuan rasanya. Dag dig dug....


***


Disinilah meteka berdua sekarang, Cafe terakhir Kyo dan Flo datangi, juga mengikuti sayembara konyol foto romantis. Mbak Dewi pelayan tempo hari sudah ada di hadapan mereka.


"Selamat ya mbak mas, bener kan jadi pemenangnya! Feel nya dapet banget, nggak sia - sia saya jadi fotografernya." Ujar mbak Dewi bangga.


"Siapa dulu dong yang difoto, Kyo gitu, mana ada lawan!" Kyo dalam mode tengil, benar - benar membuat Flo bergidik geli dan risih.


"Obat lo habis apa? Kayaknya mulai besok harus rutin diperiksain deh." Ucao Flo asal, sembari tersenyum remeh.


"Emangnya gue kenapa?"


"Lo gila!"


"Iya, tergila - gila padamu. Iya kan, Sayang?"


"Huweeeekk..... Pengen muntah gue, Bang."

__ADS_1


"Aduh, romantis sekali. Pacaran anak jaman sekarang panggilannya kok masih lo gue sih mbak mas? Didengerin tuh rasanya kurang gereget gitu. Ya udah deh, ini vouchernya ya, berlaku untuk minggu depan." Jelas mbak Dewi, Flo hanya mengangguk pelan.


"Makasih ya mbak, besok kalau ada event lagi kabari saya ke nomor yang tadi buat telepon ya. Nomor saya nggak bakal ganti." Kyo tetap mempromosikan dirinya di hadapan mbak Dewi dan hanya dibalas senyuman oleh wanita itu.


Kyo menggandeng tangan Flo mencari tempat duduk, dan meneruskan sandiwara di depan orang - orang supaya terlihat sebagai pasangan. Flo mengikuti permainan Kyo untuk menjadi pacar sehari lelaki itu. Karena sebelum datang ke Cafe, Kyo sudah memberitahukan perihal kemenangan mereka dalam sayembara foto.


"Mulai deh, tumben lo bisa halus gitu? Biasanya ketus kalau diajak ngomong!" tanya Flo yang jengah mendengar omongan Kyo saat mereka mendapat tempat duduk.


"Soalnya mbak Dewi udah bantu kita menang. Sebagai rasa terima kasih ya harus dibaikin dong. Paham?"


"Dasar, baik kalau ada maunya doang!"


"Lo cemburu apa?"


"Idih, nggak lah. Lo bukan siapa - siapanya gue, ngapain gue cemburu?"


"Ya udah kita resmiin aja berarti, nggak usah sandiwara terus. Hahahaha."


"Nggak ah, lo gila sih!"


Entah bercanda atau tidak, Flo tetap merasa malu dengan ucapan Kyo barusan.


Mereka makan siang dirapel sore di Cafe tersebut. Tidak menggunakan voucher yang mereka dapat, karena tentu saja belum bisa dipakai. Oh.. Minggu depan, rasanya tak sabar menunggu hari itu. Bisa traktir temen - temen makan disini, tanpa ada rasa canggung seperti saat berdua dengan Kyo saat ini.


***


Flo mengedarkan pandangan di sekitar Cafe hingga terdengar suara seseorang mendekati mereka berdua untuk menyapa. Seorang perempuan yang agak asing mendekat ke arah mereka berdua.


"Kak Kyo ya?" Tanya gadis itu pada Kyo.


"Siapa ya?" Kyo memicingkan matanya, menatap dengan malas.


"Aku Jessica, kak. Temennya Sasha yang tempo hari nembak kakak." Hendak mengulurkan tangan menyalami Kyo dan hanya ditatap sinis lelaki itu. Jessica menarik kembali uluran tangannya.


"Oh, terus kenapa? Kalau lo temennya Sasha, hubungannya sama gue apa?" Saat ini mode ketus Kyo mulai aktif. Jessica yang diberikan tanggapan seperti itu hanya tersenyum kecut.


"Nggak apa - apa kok, kak. Cuma mau nyapa aja, kesini sama pacarnya kak Judith aja atau sama temen - temen yang lain juga, kak?"


"Lo merem apa? Kalau lo nggak merem pasti bisa lihat dengan jelas kan, cuma ada cewek ini di sebelah gue. Segede ini apa nggak kelihatan? Dan satu lagi, dia bukan pacar Judith tapi pacar gue. Oh iya, gue lupa bilang, nggak usah sok kenal sok deket sama gue. Temen lo aja gue tolak buat deketin gue apalagi lo, jadi tolong jangan ganggu kita. Bikin bad mood, tau?" Seru Kyo sarkas.


Kini Flo benar - benar sadar bahwasannya lelaki yang sedang bersamanya menganut paham Bunglonisasi karena dengan secepat kilat ia dapat mengubah sikap yang tadinya konyol menjadi emosi super ketus. Dan Flo yakin ini adalah sifat asli lelaki ini. Flo menghela nafas kasar mendengar kata - kata Kyo.


"Kyo!" Akhirnya Flo hanya mampu berteriak. Kyo melihat ke arahnya dan segera menggandengnya keluar dari Cafe.


"Omongan lo pedes banget tahu nggak? Kasihan dia, kan cuma mau nyapa doang, nangis deh tuh bocah, gue yakin banget."

__ADS_1


"Biarin aja. Supaya besok dia lebih berhati - hati kalau ketemu orang asing. Jangan sok akrab kayak gitu. Udah yuk pulang, males gue disini..."


"Lo juga kadang ketus sama gue, padahal gue bukan orang asing!"


"Nah, kalau lo beda!"


"Bedanya apa?"


"Pikir aja sendiri!"


"Ogah ah, males gue mikir. Oh iya kok dia bisa tahu ya kalau gue pacarnya Judith. Ternyata gue terkenal juga. Hehehe." Flo sengaja mengalihkan pembicaraan.


"Katanya mantan?" Sindir Kyo sembari menyalakan motor dan membuat Flo terkekeh geli.


Kenapa terdengar pertanyaan Kyo barusan seperti orang yang lagi Jealous ya? Flo memilih diam tak menanggapi sindiran Kyo, karena jika ditanggapi pasti akan ada drama. Padahal secara sadar atau tidak, mereka belum memiliki ikatan apapun.


Setelah menaiki motor, Flo berpegangan pada ujung jaket Kyo. Kyo menoleh ke arah gadis yang ada di belakangnya.


"Lo pikir lagi pakek jasa ojol? Peluk aja gue daripada lo jatuh, gue mau ngebut."


"Nggak ah, malu!"


Dan benar saja keluar dari pelataran Cafe, Kyo mengendarai motor lebih kencang hingga mereka tak sadar ada mobil yang melaju dari arah yang berlawanan hendak menabrak mereka.


CEKITT


Kyo menghindar dan menginjak rem dalam - dalam, hingga terdengar suara ban motor berdecit nyaring. Flo terkejut dibuatnya, Kyo yang mengendarai pun tak kalah kaget. Untunglah tidak terjadi kecelakaan. Si pemilik mobil keluar dan mengamati keadaan mereka.


"Maaf, kalian nggak apa - apa kan? Saya buru - buru tadi." Lelaki itu mendekati dan bertanya pada Flo dan Kyo yang masih *Shock.


'Demi apa ini Ya Tuhan*?' Kedua mata Flo membulat sempurna seperti saat ia mendengar obrolan orang tuanya tentang perjodohan untuknya, namun ini sudah beda cerita.


Bukan Florence namanya kalau ia tak kaget melihat sesosok lelaki tampan yang ada di hadapannya! Bukan karena ketampanannya tapi ada sebuah kisah masa lalu yang tak ingin ia buka kembali...


Kamu.....


***


Buat kalian yang sudah mampir ke karyaku,


Jangan lupa tinggalkan jejak ya dengan like, komen dan vote


Bantu penulis amatir ini lebih berkembang lagi...


Kalau suka, jadikan favorit yaa...

__ADS_1


🤗🤗🙏🙏


__ADS_2