Jodoh Florence

Jodoh Florence
Start dan Finish


__ADS_3

"Aiko! Stop!" teriak Kyo dari tempatnya berdiri. Ia semakin mendekat ke arah saudara kembarnya, hingga hanya menyisakan jarak beberapa jengkal saja. "Apa ini hasil didikan Mami dan Papi?" lanjutnya kemudian dengan mendapatkan tatapan dingin dari Aiko.


"Gue mau selesaikan urusan sama cewek nggak tahu diri ini! Kalau Randy nggak cerita, mana mungkin gue tahu kejahatan yang udah dia lakukan ke Tian."


"Aiko!" Kyo mencoba menahan amarahnya. Flo menarik lengan sang kekasih.


Aurel yang berada di belakang Kyo dan Flo kemudian buka suara.


"Kyo, ini salah gue. Gue tahu Aiko pasang badan begini karena gue. Gue nggak mau lo nyalahin dia." Aurel mencoba melerai Kyo yang terlihat kesal tak jauh berbeda dengan Aiko.


"Tapi nggak dengan cara seperti ini juga, Rel. Gue nggak mau Aiko jadi cewek bar - bar dengan lakuin hal barusan." jelas Kyo, ia mulai mengatur emosinya.


"Beb!" Randy menarik lengan Aiko dan membawa gadis itu ke dalam dekapannya.


"Vina emang kesini niatnya ngajak balikan Tian. Maka dari itu, biarkan yang bersangkutan yang menyelesaikannya. Gue nggak mau lo menyesal dengan lakuin perbuatan seperti itu. Gue nggak munafik, sebagai seorang cowok lebih memilih menggunakan logika daripada perasaan. Tapi lo cewek, apa bedanya lo sama Vina kalau kayak gitu?" Kyo mencoba mencari kata yang mudah dicerna oleh Aiko.


"Tapi, dia udah jahat sama Tian. Gue nggak terima temen gue disakitin kayak gitu. Apalagi dengan gampangnya dia ngajak balikan!" Aiko masih tak terima, Randy sebagai pacar akhirnya mengambil keputusan membawa Aiko pergi dari tempat itu.


"Tolong tenangin Aiko dulu, Ran. Biar gue bantu Tian disini." ucap Kyo sembari menepuk bahu Randy. Randy mengangguk mantap.


"Lo belum selesai sama gue, Vin. Sekali lagi lo kesini, lo bakal berurusan sama gue!" ancam Aiko pada Vina sebelum ia pergi bersama Randy untuk menjauh.


***

__ADS_1


Kini tinggallah lima orang disana. Tian, Vina, Aurel, Flo dan Kyo. Mereka belum ada yang mau membuka percakapan, suasana terasa mencekam dan dingin.


"Sorry sebelumnya, kalau gue kesannya ikut campur disini. Tapi gue cuma pengen nggak ada kesalahpahaman di antara kita. Untuk Vina, gue minta maaf mewakili Aiko. Dia kayak gitu pasti ada alasannya yang seperti lo dengar tadi. Dan sekarang gue tanya mau lo sebenarnya apa?"


"Gue pengen Tian balikan lagi sama gue, bukankah itu udah jelas?" jawab Vina tegas.


"Sadar nggak lo ngomong barusan? Saat lo dulu putusin hubungan secara sepihak, lo lihat nggak akibatnya apa? Temen gue patah hati, dia berusaha mencoba membuka hatinya buat cewek, tapi terkadang caranya salah dengan godain mereka supaya hatinya seneng. Tapi gue tahu, di hati dan pikirannya masih terluka. Gue minta jangan sakitin Tian lagi, biarkan dia bahagia sama Aurel."


Vina terkesiap mendengar ucapan Kyo. Kedua matanya tertuju pada gadis manis yang berdiri di samping Flo. Aurel menangkap jelas sorot mata tajam yang mengarah padanya. Dan akhirnya Aurel memilih pergi melangkahkan kakinya meskipun berat.


"Yan, keputusan ada di tangan kamu. Aku akan menerima apapun pilihan kamu. Lebih baik aku pergi. Tolong selesaikan semuanya dengan baik." Aurel berhenti tepat di samping Tian kemudian berlalu.


Tian masih bingung dengan suasana yang ada di depan mata. Bagaimana ia diharuskan memilih salah satu di antara dua perempuan yang sama - sama di hatinya baik dulu atau sekarang.


Flashback On


"Makasih ya, Yan. Udah ngantar jemput aku selama ini." ucap Vina seraya memberikan helm pada Tian setelah turun dari motor.


"Kamu ngomong apaan sih, Vin? Kayak kita nggak bakal ketemu lagi aja! Justru aku seneng bisa ketemu kamu tiap hari. Oh iya, ini hari anniversary kita ke 18 bulan." ucap Tian bahagia, tampak senyum sumringah terpancar di wajahnya. Ia berniat memberikan sekotak coklat dan sekuntum bunga yang ada di dalam tas ransel miliknya.


"Kita putus aja ya , Yan. Aku rasa kita udah nggak cocok. Buat apa dilanjutkan kalau udah seperti ini?"


"Bercandanya nggak lucu, Vin. Nggak ada hujan, nggak ada angin tiba - tiba ngomong kayak gitu. Aneh - aneh aja sih kamu, Vin." Tian menghentikan aktivitasnya yang hendak menarik retsleting tasnya. Ia mencari jawaban pada gadis manis di depannya.

__ADS_1


"Aku nggak pernah seserius ini, Yan. Kamu terlalu kekanak - kanakan suka cemburuan nggak jelas dan aku nggak nyaman dengan sikapmu itu."


"Apa ini ada hubungannya dengan kak Jordy, guru privat kamu yang anak kuliahan itu? Menghasut apa dia ke kamu? Apa jangan - jangan kamu ada hubungan sama dia?" tebak Tian seketika membuat Vina tak berkutik. Tak ada respon apapun dari Vina, membuat Tian paham.


"Iya, kami memang sudah berhubungan selama sebulan ini. Maka dari itu aku minta putus aja sama kamu. Aku lebih memilih dia yang bisa memahami aku."


"Jadi kamu mutusin aku untuk nutupin perselingkuhan kamu? Dengan cara seperti ini? Seolah - olah aku yang salah? Aku yang kekanak - kanakan. Lucu! Wah, bisa gila nih aku. Kamu yang salah tapi seenaknya aja kamu cari alasan buat mutusin hubungan kita. Akan enak di dengar kalau kamu bilang terus terang dari tadi. Jangan bawa - bawa sikapku selama ini. Oke. Fine, kita putus. Selamat tinggal, Vin." Tian melajukan motornya kencang dan tanpa ia sadari ada mobil dari arah berlawanan yang melaju begitu cepat karena rem blong. Hingga kecelakaan pun tak dapat di hindari.


Tuhan masih melindungi Tian, ia masih bisa selamat dari kecelakaan maut itu. Butuh waktu sebulan untuk menyembuhkan luka - lukanya, di saat masa pemulihan di rumah sakit, Kyo dan Randy selalu setia mendampinginya. Jadi wajar saja mereka ikut terluka melihat kondisi Tian saat itu, dan Vina yang telah mendengar berita bahwa Tian mengalami musibah tak menjenguk sekalipun.



Peristiwa itu menyadarkan Tian bahwa Vina bukan perempuan yang baik untuknya. Ia melupakan Vina dari hidupnya perlahan - lahan.


Kenangan yang indah telah berganti menjadi kenangan buruk untuknya. Dan Tian tak mau sakit itu terulang lagi.


Flashback Off


Tian masih menyunggingkan senyum yang menghiasi wajah tampannya, membuat Vina seperti berada di atas angin. Sedetik kemudian senyum itu berubah menjadi seringai dengan disertai tatapan dingin dari lelaki yang bernama Sebastian Wijaya.


"Vin, aku mau bilang sesuatu sama kamu, sekali aja dan nggak akan aku ulangi lagi. Bertemu kamu itu rasanya seperti ikut lomba lari marathon, ada start untuk memulainya dan ada finish untuk mengakhirinya. Pada saat kamu memutuskan hubungan kita waktu itu, buat aku semuanya udah selesai. Aku bahagia sama Aurel, dia bisa mengerti dan menerima aku apa adanya. Lebih baik kamu pulang. Hati - hati di jalan ya.. " Tian meninggalkan Vina begitu saja setelah mengucapkan hal demikian tanpa mendengarkan penjelasan dari Vina.


Vina meratapi nasibnya, ia menangis dalam diam, ia melipat kedua tangan melingkar jelas diatas kedua kakinya. Tangisan yang memilukan untuk di dengar akhirnya keluar dari bibirnya. Namun penyesalan yang tersisa sudah tak berarti apapun. Nasi telah menjadi bubur.

__ADS_1


***


__ADS_2