Jodoh Florence

Jodoh Florence
Yolanda


__ADS_3

Dari jarak kurang lebih seratus meter, kedua mata Flo menangkap sesuatu yang mengusik pandangannya. Ada sebuah mobil sedan berwarna silver terparkir tepat di samping pintu gerbang. Pintu gerbang pun terbuka meskipun tak begitu lebar.


Flo turun dari motor Kyo setelah sampai tepat di depan rumah. Kyo menarik tangan Flo.


"Tunggu sebentar, jangan kemana - mana. Aku masukin motor dulu ke rumah." Ujar Kyo pada Flo yang dijawab anggukan dari gadis itu.


Setelah memasukkan motor ke dalam rumahnya, Kyo kembali menemui Flo yang tak beranjak dari posisinya.


"Ada apa sih? Kamu kan nanti latihan basket, ngapain main ke rumah aku?" Tanya Flo penasaran.


"Aku mau lihat siapa yang datang ke rumah kamu! Aku takut ada cowok lain kesini..." Jawab Kyo santai, Flo menatapnya geli.


"Astaga! Posesif banget sih kamu! Nuduh yang nggak - nggak kayak gitu."


"Makanya aku mau memastikan!"


"Ya udah, tapi nggak perlu cemberut gitu dong mukanya. Nanti gantengnya hilang loh. Hehehe."


"Biarin! Udah ada yang punya ini!"


"Yakin? Kalau kamu nggak ganteng aku mau sama kamu?" Goda Flo membuat Kyo kesal.


"Yang!" Kyo merajuk, Flo tertawa geli.


"Waw, sexy mbaknya, Yang!" Bisik Kyo takjub melihat pemandangan di depan mereka.



"Mbak Yola?" Panggil Flo mengagetkan wanita yang sedang berdiri mematung di teras rumah.


"Oh ini yang namanya Yolanda, ceweknya bang Gerald? Sexy bener ya!" Kyo kembali berbisik di telinga Kyo hingga membuat Flo menyikut perutnya lumayan kencang.


"Matanya tolong dikondisikan!" Bisik Flo mulai tersulut emosinya. "Pulang sekarang! Kalau nggak, besok aku juga mau pakai baju kayak gitu biar digodain cowok - cowok!" Ancaman Flo membuat Kyo menciut nyalinya.


Kyo teringat sewaktu Flo memakai baju yang hampir sama seperti itu. Terlihat sangat cantik. Dan Kyo tidak ingin lelaki lain menatap Flo. Tentu saja ia tidak akan membiarkan hal itu terjadi. Kyo merasakan gelisah dan cemburu.



"Nggak boleh pakai baju kayak gitu! Kamu boleh seksi tapi cuma di depan aku. Iya, aku pulang. Nanti sore aku langsung latihan basket ya. Dah..." Kyo segera angkat kaki dari kediaman Flo. Flo menjawab dengan anggukan beberapa kali.


***

__ADS_1


"Mbak Yola? Sejak kapan ada disini?" Tanya Flo setelah Kyo pergi.


Wanita cantik yang bernama Yolanda itu terdiam tak menjawab pertanyaan Flo. Ia terus menatap Flo seolah sedang berbicara dalam hati.


"Mbak?" Tanya Flo sekali lagi.


"Eh...."


"Ayo masuk ke dalam aja, bang Gerald kayaknya belum pulang."


"Aku tunggu disini aja, Flo." Ucap Yola sungkan.


Flo berniat menggandeng tangan wanita itu untuk masuk ke dalam rumah, namun tak berapa lama terdengar suara deru motor milik abangnya memasuki pintu gerbang menuju garasi.


Suara langkah kaki Gerald semakin mendekat. Ia melihat dua perempuan berdiri dihadapannya.


"Gerald!" Panggil Yola.


"Ngapain kamu kesini?" Tanya Gerald memicingkan mata seolah melihat wanita cantik itu dengan malas.


"Aku mau jelasin kejadian tempo hari. Aku salah, Rald. Kamu mau kan dengerin penjelasan aku sebentar? Bisa kita ngomong berdua?" Yola memohon sembari melirik Flo.


"Aku masuk dulu ya, Mbak. Kalian selesaikan masalahnya baik - baik dan dengan kepala yang dingin." Flo hendak melangkahkan kaki masuk ke dalam rumah, namun panggilan abangnya membuatnya berhenti di posisinya.


'Lah, gue jadi obat nyamuk dong! Nggak boleh berduaan karena nanti yang ketiganya yaitu Setan. Berarti gue Setannya dong?' Gerutu Flo dalam hati, gereget bercampur emosi. Ia tak mau mencampuri urusan orang apalagi masalah yang dialami abangnya saat ini. Ingin rasanya kabur tapi tak bisa.


"Aku kasih waktu kamu buat ngomong, silakan..." Gerald melihat Yola sebentar kemudian mengalihkan pandangannya ke arah lain.


"Gerald, aku minta maaf waktu itu udah melakukan kesalahan dengan selingkuh di belakang kamu. Aku nggak tahu bakal jadi kayak gini. Aku salah, mungkin aku egois jika masih mengharapkan kamu kembali dan memaafkan aku. Tapi aku benar - benar sayang sama kamu... "


"Terima kasih untuk perasaan kamu buat aku. Kalau dulu aku nggak tahu passcode apartemen kamu, mungkin perselingkuhan kamu masih aman. Aku juga nggak sepenuhnya menyalahkan kamu, aku memang nggak selalu ada buat kamu. Tapi setidaknya aku tetap meluangkan waktu buat kamu semampuku. Kamu juga tahu kan, aku harus segera mengurus skripsi, pengen cepet wisuda, supaya apa?" Jelas Gerald dan memberikan penekanan pada pertanyaan terakhir untuk Yola.


"...... " Tak ada jawaban dari Yola, ia berdiri mematung, bibirnya seolah terkunci mendengar penjelasan Gerald.


" Supaya aku bisa nikahin kamu! Tapi apa yang aku dapat? Kekecewaan, malu, sakit, emosi, tapi harus aku tahan. Nggak mungkin kan aku luapin amarahku ke kamu? Sepertinya yang aku lakuin jadi sia - sia."


"Maafin aku, Gerald. Aku tahu kamu kecewa. Masih bisakah kita memulai kembali? Aku tahu kamu masih sayang."


"Iya benar, memang masih sayang. Dan sekarang sayangku ke kamu sudah berubah, bukan sayang kepada seorang wanita yang istimewa di hati. Tapi sayang sebagai seorang teman. Kita tetap bisa berteman. Sampai kapanpun sebagai teman yang bisa saling mendukung."


"Gerald...."

__ADS_1


"Maaf, aku nggak bisa ngantar kamu keluar. Kamu nggak lupa jalan keluar dari rumah ini kan? Pintu gerbangnya disana, (Menunjukkan arah ke pintu gerbang untuk keluar) Udah nggak ada yang mau dibicarakan lagi kan? Aku masuk dulu. Capek!" Gerald meninggalkan Yola yang tertunduk lesu. Flo mengelus lembut punggung Yola.


" Sabar ya, Mbak. Bang Gerald butuh waktu untuk menenangkan diri dulu. Semoga besok kalian bisa bicarakan lagi baik - baik."


"Mungkin udah nggak ada lain waktu, Flo. Aku belajar mengenai sifat kakakmu, dan dia bukan orang yang seperti itu. Kalau dia sudah memutuskan seperti itu berarti aku harus sadar akan konsekuensi karena perbuatanku sendiri. Aku terlalu percaya diri mengharapkan dia memaafkan dan mau kembali sama aku. Tapi nggak apa - apa." Ucap Yola tersenyum getir.


"Nanti aku coba bantu ngomong sama bang Gerald ya mbak!"


"Nggak usah, Flo. Ya udah, mbak Yola pulang dulu. Selamat tinggal Flo..." Yola melangkahkan kakinya dengan berat, seolah ada bongkahan besar batu tak terlihat menghambat ia pergi dari sana. Ia menitikkan air mata yang tertahan. Kembali ke dalam mobil dan berlalu. Flo menatap iba pada wanita itu.


***


"Abang nggak boleh kayak gitu sama mbak Yola! Dia kan pernah jadi pacar abang. Setidaknya hargai maksud kedatangan dia kesini tadi, Bang!" Ucap Flo saat memasuki kamar Gerald.


Gerald merebahkan tubuhnya di tempat tidur dengan kedua tangan menumpu kepalanya. Ia melihat adiknya sebentar, lalu duduk dengan kaki bersila. Gerald mengingat kembali kenangan bersama Yola.



"Kamu tahu nggak Dek, kenapa abang sampai ngomong seperti itu?" Tanya Gerald serius menatap lekat kedua mata Flo yang sendu.


"Nggak, Bang. Makanya Flo tanya..." Jawab Flo sambil menggelengkan kepalanya.


"Abang denger dari temen - temen tentang Yola. Bahkan mereka beberapa kali mendapati Yola jalan berdua sama mantannya itu. Awalnya abang nggak percaya, tapi dengan apa yang abang lihat dan rasakan ada perubahan dari Yola, abang memutuskan untuk pergi. Pergi dari hidupnya, dan berdoa yang terbaik buat dia."


"Maafin Flo, Bang." Flo menunduk lesu, ia ikut kecewa dan sakit mendengar penuturan abangnya.


"Bener yang kamu bilang waktu itu, Dek. Dia bukan orang yang tepat buat abang. Udah, santai aja. Nggak usah mewek. Abang harus menatap ke depan, nggak mau terluka lebih lama. Hehehehe." Gerald tersenyum berusaha untuk tegar di depan Flo.


"Iya, Bang." Jawab Flo singkat.


"Abang bukan orang yang berhati seluas samudera. Abang hanya orang biasa, yang bisa sakit jika dilukai. Jadi tolong jangan bahas ini lagi ya. Kalau dia datang lagi, tolong bilang sama dia, untuk tidak menemui abang lagi." Gerald kembali merebahkan tubuhnya, ia lelah dan juga penat.


"Flo keluar dulu, Bang. Abang istirahat aja." Flo keluar dari kamar Gerald, matanya tak henti menatap sang abang.


'Dari cerita hidup abang, gue jadi sadar, bahwa hidup harus terus berjalan, lalui semua yang menghambat laju kakimu. Meskipun kehilangan orang yang kamu sayang, hidup tidak akan berhenti begitu saja. Kesalahan mungkin bisa dimaafkan, seperti aturan yang bisa dilanggar. Tapi untuk membubuhkan luka baru di atas luka lama yang belum kering, sangat mustahil bukan? Pasti sangat menyakitkan!'


***


Hai, yang sudah membaca karyaku...


Jangan lupa like, komen dan vote yaa...

__ADS_1


Terimakasih 🙏🙏🤗🤗


__ADS_2