
Pagi itu kelas Flo diisi dengan berlari dua putaran lapangan sepakbola di mata pelajaran olahraga. Guru olahraga yang terkenal gokil dan menyenangkan itu bernama pak Susilo. Lelaki berumur 45 tahun itu menyuruh para siswa berlari dan segera berkumpul di lapangan basket.
"Anak - anakku semuanya, sebentar lagi sekolah kita akan mengadakan lomba dengan beberapa sekolah lain. Untuk itu bapak akan menyebutkan beberapa nama siswa yang akan berkontribusi di dalamnya." Jelas Pak Sus, yang kerap dipanggil begitu oleh para siswanya.
"Pak, yang mau dilombakan olahraga apa ya?" Tanya Tian antusias.
"Banyak, Yan. Tapi lebih difokuskan olahraga basket. Sekolah kita kan bagus dalam bidang olahraga ini. Baiklah kalau begitu, nama yang bapak sebut tolong maju ke depan ya."
Pak Susilo membacakan kandidat nama - nama yang terpilih dari kelas Flo dan beberapa anak dari kelas lain.
Sebastian Wijaya
Randy Excelio
Kyo Arcello Kashiwabara
Judith Maulana (Kelas XII IPS 2)
Zidane
Kenzi
" Baik, untuk nama yang sudah bapak bacakan tolong maju. Yang kelas lain nanti saya panggil juga. Akan ada yang saya pilih untuk menjadi pemain cadangan juga. Baiklah, silakan yang laki - laki berlatih basket. Perempuan senam dulu ya. Nanti bergantian."
"Baik, Pak." Jawab semua siswa.
Flo dan Aurel melirik sebentar pada anak lelaki yang dipanggil Pak Sus.
"Kok bisa kebetulan banget ya, Flo. Itu mantan sama pacar bisa kumpul jadi satu. Untung mantam lo beda kelas ya! Hehehe." Goda Aurel, dan dijawab dengan gelengan dari Flo.
"Suratan takdir kali!" Jawab Flo sekenanya.
"Nanti bolanya buat rebutan, kayak ngebayangin elo yang jadi rebutan mereka berdua. Hahaha."
"Lah, pikiran lo ya. Itu kepala buat mikir yang bener dong. Kalau isinya begitu terus, yang ada berantem mulu." Flo menoyor pelan kepala Aurel.
"Iya, iya. Ampuunn..." Aurel terkekeh pelan.
__ADS_1
***
Usai pelajaran olahraga, Flo dan Aurel berjalan menuju kelas hendak mengambil baju seragam untuk ganti. Sebelum sampai kelas, seseorang memanggil keduanya. Tian, dan di belakang lelaki itu sudah ada Randy dan Kyo.
"Rel, lo capek nggak?" Tanya Tian basa - basi.
"Abis olahraga ya capek. Kaya gitu apa perlu dijelasin sih, Yan. Basi ah..." Jawab perempuan bertubuh mungil yang tingginya hanya sebahu Tian.
"Itu karena elo berlari - lari di pikiran gue. Jujur aja deh sama abang..." Godanya.
"Nggak jelas!" Aurel tak ambil pusing dengan ucapan Tian.
"Bentar gue mau nanya nih, Rel." Tian menghalangi jalannya Aurel dan Flo. Membuat Aurel jengah.
"Awas ya kalau ngomong nggak penting lagi. Gue bikin bonyok lo!"Ancamnya. Flo justru antusias mendengarkan banyolan Tian pada Aurel sahabatnya.
'Kayaknya seru nih, jarang - jarang mereka begini. Hehehe.'
" Lo tahu nggak kenapa gue lebih suka pelajaran Matematika daripada Sejarah?" Tanya Tian serius dan ditatap Aurel sekilas.
"Matematika yang ngajar Bu Sarah kan cantik jadi lo melek. Kalau Sejarah kan yang ngajar Pak Bekti. Iya nggak?" Jawab Aurel yakin.
"Salah!"
"Kalau Matematika mengajarkan gue untuk move on dari masa lalu dan memastikan hubungan kita ke depan daripada gue harus belajar tentang masa lalu lo atau gue dulu yang cuma bikin nyesek di dada. Karena sekarang yang ada hanya gue, elo dan masa depan kita. Hahaha." Tian menjelaskan sok puitis, Aurel mengedikan bahu dan menggandeng tangan Flo untuk berjalan lebih cepat.
" Nggak jelas! Ayo Flo kita buruan cap cus kelas daripada ngeladenin orang aneh. Gombalan receh kaya gitu, Dasar!"
Flo dan Aurel meninggalkan Tian cs dengan santainya. Sepeninggal Aurel, Tian digoda habis - habisan oleh Kyo dan Randy.
"Kok rayuannya nggak bereaksi ya ke Aurel? Jangan - jangan Aurel udah ada penangkalnya jadi nggak masuk ke perangkap Tian. Hahaha." Ledek Kyo.
"Mungkin jurus jaran joged nya udah nggak ampuh!" Randy menimpali.
"Udah, kalau lo suka sama Aurel ya kejar aja, jangan cuma digodain mulu. Daripada entar lo nyesel loh." Kyo mencoba menyadarkan Tian.
"Apaan sih lo pada! Udah ah, gue mau ke kantin beli air mineral, pada mau ikut nggak?" Tian mengalihkan pembicaraan karena entah disadari atau tidak, dirinya sangat malu karena diacuhkan oleh seorang perempuan.
"Nggak ah, gue mau ke kelas dulu, mau sama ayang beb. Lo aja sono ke kantin, siapa tahu ada yang kecantol sama mulut lemes lo. Hahaha." Jawab Kyo yang langsung tancap gas meninggalkan Tian untuk mengejar Flo.
"Sabar ya, Bro. Banyaklah berdoa, berusaha dan tetap tawakal." Ujar Randy menyemangati sembari menepuk bahu sahabatnya dan berlalu meninggalkan Tian sendirian.
__ADS_1
"Dasar sohib kampret lo pada! Mentang - mentang udah pada punya pacar, tega ninggalin gur sendirian!" Tian uring - uringan sendiri. Kyo dan Randy sempat menoleh ke arah Tian dan melambaikan tangannya. Tian mendengus sebal seraya mengepalkan kedua tangan. 'Gini nih nasib Jones!'
***
Di kelas mereka semua kini berada. Tian mendaratkan pantatnya dengan santai di bangkunya sambil melirik sebentar pada Kyo yang masih asyik membelai rambut Flo dari belakang.
"Kurang kerjaan lo!" Ledek Tian pada Kyo, yang hanya dijawab dengan cibiran di bibir.
"Bilang aja lo juga pengen, Yan! Segitu beratnya ngakuin!" Timpal Randy.
"Deuh, begini nih kalau cuma gue yang normal. Punya sohib bucin semua!" Ujar Tian bangga.
"Bilang aja lo nggak laku!" Ledek Randy membuat Tian melotot. Kyo tak sanggup menahan tawa karena sedari tadi mengerjai Tian bersama Randy. Ia terkekeh, dilepaskannya jemarinya dari rambut Flo yang terurai ke belakang.
"Dah, orangnya di depan tuh. Cemburu nggak lo, dia sama David mau ke perpustakaan balikin buku. Keburu diambil orang, kapok lo!" Randy menjadi kompor yang bertugas memanas - manasi Tian, Kyo menahan tawa melihat ekpresi Tian yang kesal.
"Minggir lo pada! Gue juga mau pinjam buku. Daripada disini ngelihat kalian berdua, mending baca buku biar gue tambah pinter, nggak kayak kalian yang pikirannya cuma bucin melulu." Tian mencari alasan dan memilih melarikan diri dari situasi yang tak aman baginya.
Setelah Tian tak terlihat lagi, Kyo dan Randy ber tos ria. Mereka tertawa terbahak - bahak melihat aksi Tian yang masih jaim akan perasaannya.
"Kalian tega bener deh, itu kan sohib kalian berdua! Kalau kenapa - napa gimana?" Flo membela Tian meskipun orangnya tidak ada dan sibuk mengejar Aurel dengan alasan ke perpustakaan membaca buku. 'Kamuflase memang!'
"Itu anak emang harus dipancing dulu kaya gitu, Sayang. Kalau nggak, mana mungkin jalan. Orangnya aja nggak peka sama perasaannya sendiri. Keburu diambil orang kan tahu rasa dia!" Jawab Kyo sembari menyelipkan anak rambut Flo ke belakang daun telinga.
"Bener tuh, Flo. Biar nggak jadi Jones terus dia. Ganteng tapi somplak. Terlalu pilih - pilih cewek sih, kehabisan stok cewek cantik, bakal nyesel sendiri dia!" Randy menimpali ucapan Kyo.
"Oh gitu, tapi kok aku kasihan sama ya dia. Kalau ditolak sama Aurel gimana?" Flo mengiba kasihan.
"Yang penting usaha! Biar dia tahu rasanya memperjuangkan perasaannya daripada bermain - main sama omongan buat godain cewek - cewek. Kalau sampai ditolak ya berarti itu pelajaran buat dia. KARMA! Hahahaha." Kyo tertawa diatas penderitaan sang sahabat, Randy pun demikian. Hanya Flo yang merasa iba.
'Sahabat macam apa kalian ini?' Gumam Flo pelan.
***
Bagaimana kelanjutan kisah Tian dan Aurel?
Simak terus yaa...
Dukung juga abang Tian yaaa....
__ADS_1
Yang sudah mampir untuk baca karyaku, terimakasih yaa 🙏🙏🙏🤗🤗🤗
Jangan lupa tinggalkan like, komen yang membangun dan bagi - bagi poin yang punya lebihan 🤓🤓🙏🙏