
Apakah ini yang dinamakan penantian sebuah jawaban? Batin Kyo.
Apa yang harus aku jawab, Ya Tuhan? Oh, God, help me. Jawaban apa yang harus aku katakan? Yes or no? Flo, jujurlah pada dirimu sendiri. Lanjut atau sudahi? Tanggung jawab dengan ucapanmu sendiri, Flo. Ini sudah waktunya. Batin Flo.
Degg Degg Degg
Jantung kedua muda mudi yang tengah diliputi kebingungan dan tanda tanya besar di benak masing - masing itu berdetak lebih cepat dari biasanya. Rasanya jantung mereka ingin keluar dari tempatnya. Pandangan mereka saling beradu untuk beberapa saat.
Hening
Hening
Hening
"Gimana?" tanya Kyo sekali lagi, sudah tak sabar rasanya ia mendapatkan sebuah jawaban dari bibir mungil berwarna merah muda yang selalu menarik untuk dikecupnya.
"Yes, aku mau lanjutkan hubungan kita," jawab Flo sambil mengedarkan pandangannya ke arah lain, menatap beberapa pot tanaman hias milik Mama yang tergantung di samping rak sepatu milik Gerald.
"Yes, yes!" Kyo kegirangan, tangannya terkepal ke udara hingga tak sadar bahwa ia tengah jingkrak - jingkrak sendiri. Rona merah menghiasi pipi Flo layaknya tomat segar.
"Tapi --....." ucapan menggantung keluar dari Flo, Kyo berhenti seketika. Hatinya tak tenang.
"Tapi apa? Apa ada yang membuat kamu nggak yakin dengan hubungan kita? Tadi kan aku udah bilang, aku nggak mau melanjutkan hubungan ini kalau dilandasi keterpaksaan. Karena aku tahu jatuh cinta sendiri itu menyakitkan. Maka dari itu aku nggak mau kamu terpaksa dan merasakan terbebani dengan perasaan itu," ucap Kyo panjang lebar, raut wajah kecewa tercetak jelas di wajahnya.
"Stop! Dengerin aku ngomong dulu, setelah aku selesai, baru kamu lanjutkan lagi omongan kamu yang panjang kali lebar itu. Panas telinga aku dengernya," Flo menutup mulut Kyo dengan jari telunjuknya.
Kyo menatap Flo dengan serius, matanya tak berpindah kemana - mana, pandangannya hanya fokus tertuju pada wajah gadis yang dicintainya. Hati dan pikiran lelaki itu masih penasaran dengan ucapan apa yang akan di sampaikan Flo padanya.
"Tapi, tolong jangan pernah sakitin, bohong, ataupun kecewain aku. Kamu kan tahu sendiri udah dua kali aku merasa kecewa, bisa kan?" ucap Flo serius , ada nada khawatir di setiap kata - kata yang ia lontarkan.
__ADS_1
"I'm Promise," ujar Kyo sembari menunjukkan dua jari membentuk huruf V. Flo menggelengkan kepalanya.
"No. Aku nggak butuh janji, karena yang aku tahu janji itu dibuat untuk bisa dilanggar. Seperti perjanjian konyol kita, awalnya juga kita berpikiran pasti akan diakhiri tapi nyatanya kita sama - sama memiliki perasaan satu sama lain. Yang aku butuh itu bukti," jelas Flo dan dibalas anggukan mantap dari lelaki yang kini semakin erat menggenggam tangannya.
Jemari keduanya saling bertaut enggan untuk terlepas. Ada hasrat yang menggebu dan tertahan. Ingin rasanya Kyo sekedar mengecup bibir mungil gadisnya, namun segera ia urungkan niatan itu. Mengingat dimana keduanya kini tengah berada di rumah Flo yang pastinya akan ada saksi mata yang akan mempergoki keduanya. Dan pasti akan menjadi viral bukan.
Siapa lagi kalau bukan Gerald, ya dia lelaki yang suka mengoda dua insan yang sedang di mabuk asmara ini, entah efek jomblo atau emang dasar hasrat lelakinya yang sedikit lemes. Bahkan Bi Imah yang secara lahiriah tercipta sebagai seorang wanita yang mungkin saja suka bergosip kalah dengan mulut lemes Gerald kalau sedang kumat.
Belum ada semenit mereka berdua memiliki momen romantis, lewatlah Gerald dengan santainya sambil menyenandungkan sebuah lagu. Kini tatapan sepasang muda mudi yang telah berjanji untuk menjalani ke fase yang lebih serius itu terganggu dengan kedatangan abang sang gadis. Mereka berdua kompak melihat ke arah Gerald yang tengah bernyanyi sembari menggenggam air mineral botol layaknya microphone.
"Itu, bang Gerald?" tanya Kyo sembari menggeleng - gelengkan kepalanya, takjub akan sikap Gerald yang aneh hari ini.
"Iya kali!" jawab Flo cuek seraya mengedikan bahu. "Tapi kayaknya bukan Gerald abang aku deh, pergi yuk, Yang! Bisa - bisa nanti kamu ikutan aneh kayak dia," ucap Flo sembari menggandeng lengan Kyo untuk segera pergi dari posisinya, meskipun harus sedikit menarik menggunakan tenaganya karena Kyo masih ingin menggoda sang abang.
* * *
Keesokan paginya, Flo sudah selesai merias diri bergegas untuk berangkat sekolah. Ia tak mau terlambat. Apalagi ini hari senin, awal dimana setiap pekan dimulai.
"Anak Papa lagi seneng banget ya? Dari tadi Papa perhatiin ketawa tiwi dari kamar sampai sini. Ada apa nih?" tanya Papa sambil menarik kursi untuk beliau duduk.
"Emang ketawa nggak boleh ya, Pah? Lagi seneng aja, Papa mau tahu?" goda Flo seraya mengerlingkan sebelah matanya.
"Lah, pakai rahasiaan segala. Kayak sama siapa sih, Flo!" sahut Papa seraya menerima piring berisi nasi beserta sayur dan lauk dari Mama.
"Flo udah ngebet mau dinikahin, Pah!" seru Gerald saat bergabung ke meja makan. Lelaki yang sebentar lagi genap 22 tahun itu ikut nimbrung dan mendaratkan pantatnya di samping Flo.
"Sok tahu kamu, Bang! Daripada ngatain Flo mending abang cari cewek sana, biar ada kesibukan dan nggak ngenes," ledek Flo.
"Cih, ngapain nyari kalau udah ada di depan mata. Tinggal diperjuangin aja dianya, hehehe," sahut Gerald sangat yakin.
__ADS_1
"Dianya mau nggak, Rald?" gantian Mama yang bertanya.
"Belum tahu, Mah. Dia juga belum tahu kalau Gerald punya perasaan sama dia. Hehehe," Gerald cengengesan.
"Kalau udah keduluan diambil orang gimana, Rald? Kamu mau perjuangin dia tapi dianya aja nggak tahu tentang perasaan kamu. Apa kamu Mama jodohin aja sama anak temen Mama?" tawar Mama serius.
"Nggak usah, Mah. Kayak Gerald nggak laku aja, pakai dijodohin segala! Thank you, Mom. Aku bisa cari sendiri," ucap Gerald sambil manggut - manggut merasa yakin dengan pilihannya.
"Oh jadi abang ngatain Flo nggak laku makanya Mama jodohin sama Kyo gitu?" Flo menimpali ucapan Gerald, sedikit agak manyun.
"Bukan gitu juga, Dek. Kan abang cowok, malu lah, masa pacar atau istri aja harus dicariin Orang tua. Biar Gerald cari sendiri. Abang yakin dia pasti bisa nerima apa adanya abang!" Gerald mengepalkan tangan ke udara, sangat yakin dengan perempuan yang kemarin di temui di kafe.
" Awas ya kamu, Rald. Kalau sampai ujung - ujungnya minta dijodohin sama Mama! Mama potong uang jajan kamu selama satu bulan,"
"Nggak akan Mamaku sayang, emuaaachh..." Gerald memberi sun jauh pada ibunya.
"Sudah, ayo buruan di makan, kalian kan mau berangkat, nanti pada terlambat loh. Kalau makan jangan sambil ngobrol, pamali tahu!"
"Iya, Mama." Gerald dan Flo kompak menjawab perintah Mama.
Tok Tok Tok
"Biar Flo yang bukain, Bi." pekik Flo pada bi Imah yang baru keluar dari dapur hendak membukakan pintu.
Flo berjalan menuju pintu utama, dan sedikit terkejut oleh kedatangan Kyo yang tampak lain hari ini.
"Hai," sapa Kyo sembari tersenyum manis kemudian mengalihkan pandangannya ke arah lain, ia menahan malu. Entahlah...
__ADS_1
* * *