
Sudah seminggu lebih putusnya hubungan antara Flo dan Judith. Tidak membuat surutnya keinginan Judith untuk menghubungi Flo, memberinya pesan bahkan panggilan video juga dilakukannya. Ia tak habis akal, bagaimana pun caranya agar bisa kembali pada gadis itu. Lama - lama semua yang dilakukan Judith padanya, membuat gadis itu jengah.
Belum ada 24 jam dalam hari ini, sudah ada puluhan chat masuk dari Judith di aplikasi pesan berlogo hijau bulat miliknya.
Beberapa yang membuatnya bergidik geli dan aneh, lelaki itu akan menyambangi rumahnya kalau tidak kunjung mendapat balasan.
'Oh God, harus gimana aku saat ini....'
Ada beberapa chat yang membuat gadis cantik berdagu lancip itu sedikit mengernyitkan dahi. Chat yang 'sedikit' memaksa untuk dirinya.
✉️ Judith
Flo, kasih aku kesempatan buat ngejelasin. Please, besok kita ketemu pas jam istirahat pertama ya. 18.25
✉️ Judith
Kok cuma di read aja? Tolong dijawab. Jangan hindarin aku lagi. 18.50
✉️ Judith
__ADS_1
Kalau nggak dijawab juga, aku kesitu sekarang. Aku nggak peduli kamu mau nemuin atau nggak. Aku akan tetap nunggu kamu di luar. 19.30
''Deuh ini orang nggak ada capeknya apa? Kasih kesempatan nggak ya, lagipula nggak semuanya juga salah dia sih. Kesannya kok jadi gue yang egois banget ya. Ahh...''
✉️ Florence
OK, temui aku besok. Nggak perlu jauh - jauh kesini.
Flo frustasi dan memgacak - acak rambut panjangnya. Dia kesal dan bingung sendiri, karena dalam kamus hidupnya, ia tak mau berurusan dengan makhluk yang namanya MANTAN (Manusia dalam ingatan). Flo pun tertidur dengan masih menggenggam ponsel di tangan kanannya. Ia tertidur di tepi ranjang. Tak butuh waktu lama, Flo sudah berada di alam mimpi yang sementara waktu membuatnya lupa akan rasa gelisah yang merasuk di dada. Terdengar suara dengkuran halus pelan dan teratur di kamarnya.
***
"Kalau lo nggak ada yang mau diomongin, gue balik kelas ya." Flo berdiri dari duduknya, Judith menatap gadis itu lekat - lekat dengan pandangan sendu.
"Gue? Lo? Sejak kapan panggilan kita berubah jadi kayak orang nggak saling kenal aja?" Tanya Judith akhirnya.
"Sejak kita putus hari itu. Kita udah nggak ada hubungan apa - apa lagi."
"Kata siapa kita putus? Yang aku tangkap saat itu, kamu cuma lagi emosi aja sampai terlontar kata putus. Aku bisa jelasin. Aku sama Mecca nggak ada hubungan apapun. Dia sahabatku, juga sahabat kamu."
__ADS_1
"Tolong diralat ya dan denger baik - baik. Dia cuma mantan temen, bukan sahabatku. Mau kalian ada hubungan atau nggak, aku udah nggak peduli." Flo tak sadar memakai kata (aku kamu) lagi dengan Judith.
"Bohong! Apa di hati kamu, sekarang udah nggak ada cinta sama sekali buat aku? Hampir satu tahun kita sama - sama, Flo. Susah seneng aku sama kamu. Aku cinta kamu, Flo. Dan aku juga nggak mau nyalahin Mecca karena tiba - tiba dia peluk aku saat itu."
"Kamu seneng kan dapat pelukan dari cewek lain? Begitu senengnya sampai nggak sadar aku ada disana!"
"Flo, jangan salahin aku kalau yang barusan kamu ucapin itu adalah rasa cemburu. Kamu masih sayang sama aku, Flo. Entah kamu sadar atau nggak. Aku juga nggak lagi ngomongin cinta cintaan yang berlebihan. Buka hati kamu, Flo. Sadari dan resapi itu bener - bener di hati kamu."
"Maaf."
"Maksud kamu?"
"Aku tetep nggak bisa lanjutin hubungan kita. Kalau waktu itu kamu jujur sama aku, mungkin beda rasanya. Kamu tinggal bilang aja, Mecca ngajak kamu ketemu atau dia mau curhat apalah seperti biasanya ke kamu. Tapi apa yang aku dapat? Aku lihat semuanya, bahkan tahu apa aja yang diomongin Mecca ke kamu tentang aku. Sakit... Disini sakit banget, ternyata selama ini dia cinta sama kamu dan ngefitnah aku. Aku kecewa. Kecewa!" Flo menunjuk - nunjuk dadanya, kekecewaan itu tampak tergambar jelas di wajah cantiknya.
" Flo... "
" Kita tetep bisa temenan kok, Dith. Untuk saat ini aku tetap nggak bisa lanjutin hubungan kita. Aku kecewa karena dibohongin, sampai aku nggak tahu lagi, masih bisa percaya sama kamu atau nggak. Kenyataan nggak seindah ekspektasi. Temen makan temen. Bullshit..." Flo tersenyum miris, ia mencoba tak terlihat rapuh di depan Judith. Bahkan menyangga air matanya pun ia tak sanggup, dan kini menetes semakin deras.
Judith mendongakkan kepala, ia masih mengamati Flo yang berdiri di sampingnya. Ia berdiri dan memeluk Flo seketika, membiarkan gadis yang masih sangat ia cintai menangis di pelukannya. Judith sadar ia telah melakukan kesalahan dengan berbohong pada Flo. Padahal ia sangat tahu sekali, Flo tidak mau ada kebohongan satupun dalam hubungan mereka. Gadis itu butuh waktu dan Judith bisa mengerti.
__ADS_1
***