
Dua minggu yang lalu,
Kisah yang sudah terajut hampir satu tahun antara Flo dan Judith harus kandas. Apakah penyebabnya? Dan inilah kisahnya...
Flo mengambil ponsel yang tak sengaja terselip di antara buku - buku dalam tas ranselnya. Ia menemukan ponsel dan segera mencari nama seseorang di dalamnya, siapa lagi kalau bukan sang kekasih hati. Judith. Ia menghubungi lelaki tampan yang telah mengisi hari - harinya dengan senang hati, seperti tak bertemu dalam beberapa waktu.
📞 *Hai, dith...
📞 Iya, gimana sayang?
📞 Kamu udah balik ya? Tadi di chat sama Aurel, papasan sama kamu di parkiran. Cepet banget, berarti nggak nganter aku dong? Hehehe.
📞 Iya sayang, maaf aku buru - buru jadi nggak sempet ngabarin. Kamu pulang bareng siapa jadinya?
📞 Gampanglah, nanti pakai ojol aja, kalau nggak minta jemput bang Gerald. Lagi nganter Tante Viona ke butik ya*?
📞 *Iya, ya udah aku pergi dulu ya. Nanti kalau udah sampai rumah, kabarin aku. Bye.. Sekali lagi maaf nggak bisa nganterin kamu pulang.
📞 Iya iya, nggak apa - apa. Take care, Bye*..
Flo menyudahi pembicaraan itu, meletakkan kembali ponsel di tas dan mengedarkan pandangan ke kiri kanan. Anak - anak sekelas udah pada balik, sepi banget. Namun, begitu ia menolehkan kepalanya ke belakang, Kyo sedang terlelap sangat nyenyak. Kedua tangan Kyo menjadi bantal empuk kepala. Ternyata di kelas, hanya tinggal mereka berdua yang ada didalamnya. 'Kemana si Randy sama Tian sohib gesreknya Kyo?'
"Kyo, bangun!" Flo menggoyang - goyangkan pundak Kyo, namun tak membuat lelaki itu membuka mata.
"Apaan sih, gue masih ngantuk." jawab Kyo dengan masih memejamkan kedua mata.
"Ya tidur di rumah kan bisa. Ntar lagi kelas kan pada dikunci sama mang Udin. Lo mau nginep sini?"
"Nah lo juga ngapain masih disini?" Kyo mulai memicingkan mata, membuka kedua tangan yang sedari tadi menjadi bantal empuknya. Ia mengemasi buku yang masih ada di atas meja dan memasukkan ke dalam tas ransel hitamnya.
"Ini mau balik. Gue nggak sadar kalau dari tadi lo ada di belakang. Kirain lo udah balik secara sohib gila lo nggak ada disini. Hehehe."
"Lo ngatain gue? Lo sendiri gimana, mana temen - temen lo?"
"Oh, mereka udah gue suruh balik tadi. Kirain hari ini Judith nganterin pulang, ternyata dia udah balik. Ya udah, gue duluan..."
"Hemm..." Kyo hanya menjawab dengan deheman pelan dan bersiap pulang.
Flo melangkahkan kaki keluar kelas, melewati beberapa ruangan kelas lain yang sudah mulai kosong. Tak sengaja matanya menangkap sesosok manusia yang sedang duduk di bangku panjang taman sekolah. Aiko. Ia mendekati sahabat kentalnya tersebut, niatnya mau mengagetkannya malah Aiko sudah mengetahui keberadaannya.
"Kenapa lo suntuk banget?" Tanya Flo yang gemas melihat ekspresi Aiko lalu duduk di sampingnya.
"Sebel gue, Randy malah nganter Tian. Katanya tuh anak sakit perut, jadi dia mau nggak mau harus nganter Tian. Bete deh gue."
"Nah lo siapanya Randy?"
__ADS_1
"Gue... Gue..."
"Udah, udah, nggak bisa jawab kan? Lo nggak usah marah, bete, kesel atau apapun itu. Oke deh, gue maklumin kalian lagi dalam fase pedekate, tapi lo juga harus ngertiin dia. Coba kalau lo jadi dia, apa iya lo lebih milih gebetan lo ketimbang sahabat? Tuh, Kyo belum balik. Bareng dia aja sono!"
" Nggak ah, bareng lo aja. Naik bis apa taksi online yuk?"
" Boleh, eh bentar, tadi gue denger dari Dinda si Mecca sakit jadi nggak masuk. Gue pengen nyamperin dia deh. Jenguk bentar habis itu mampir tempat nyokap. Apa lo mau ikut gue aja?"
" Boleh deh, daripada gue balik juga nggak ada temen. Mami sama Papi masih di Jogja, heran gue sama mereka.. "
"Heran kenapa?"
"Honeymoon kok ya nggak inget umur!"
"Hahahaha. Lo pengen buruan dinikahin apa? Hidup cuma sekali jangan diisi iri dengki. Itu mereka orang tua lo, nggak ada mereka, gimana ada lo sama Kyo? Ngakak gue, punya temen otaknya digadein. Hahahaha."
"Kutu kupret lo, untung cantik, kalau nggak, gue gibeng lo."
"Ampuunn..."
"Gue kangen, Mami ngajakin Papi honeymoon kok ya ke Jogja, mana nggak ngajak gue pula. Kan gue juga pengen ketemu Eyang..."
"Ah, alasan lo, bilang aja iri nggak diajakin. Kalau honeymoon ngajakin lo ya namanya piknik. Otak lo di service dikit lah, biar nggak gesrek mulu. Ntar nggak bisa ada Kyo part 2 dong."
"Dasar ngeres lo, yang beginian aja loadingnya cepet."
Tak menunggu lama, taksi online datang dan mengantar para gadis menyambangi rumah Mecca. Mereka turun tepat di depan pintu gerbang warna putih rumah sahabatnya. Rumah terlihat sepi, dan pintu gerbang sedikit terbuka. Flo dan Aiko masuk ke dalam, menutup pintu gerbang dan berjalan ke teras. Tak satupun manusia terlihat, namun mata Flo fokus pada motor sport di depan garasi. Motor yang selalu dipakai Judith untuk mengantar jemput dirinya setiap hari.
'Kok Judith kesini nggak bilang gue? Pastiin di dalem dulu deh. Siapa tahu dia nggak sengaja mampir.'
Pintu utama sedikit terbuka, Flo dan Aiko memasuki ruang tamu dan berhenti ketika mendengar percakapan di ruang tengah. Aiko menarik lengan Flo, dan mereka terhenti di samping dinding. Dan dengan jelas mendengar obrolan disana. Asisten rumah tangga Mecca juga tak terlihat. Flo sedikit mengintip, dan benar saja itu Judith dan Mecca.
Mecca dan Judith duduk membelakangi Flo, jadi mereka berdua tak mengetahui bahwa ada dua pasang mata yang sedang serius memperhatikan mereka. Mecca menangis tersedu - sedu sambil memeluk Judith. Awalnya pelukan hanya dari Mecca namun akhirnya berbalas dan usapan pelan Judith di punggung Mecca membuat Flo terkesiap. Ia masih intens memperhatikan interaksi kedua manusia berlainan jenis itu.
"Dith, kenapa nggak ada yang sayang sama gue? Apa gue nggak berhak buat bahagia? Kenapa rasanya nggak adil, Dith?"
"Lo jangan ngomong kayak gitu, mungkin ini cobaan dari Tuhan buat keluarga lo. Lo harus sabar nerima, gue yakin bokap sama nyokap lo lagi pengen nenangin diri. Mereka nggak akan ninggalin lo. Udah nangisnya, nggak enak kalau dilihat orang, ntar disangkanya gue yang ngapa - ngapain lo lagi!" Judith melepaskan pelukan Mecca perlahan.
" Makasih ya, Dith. Lo udah bela - belain dateng kesini buat gue. Biasanya kan lo jadi driver pribadi Flo. Tiap hari antar jemput, manja banget sih, nggak kasihan apa sama lo?"
" Lo ngomong apa sih? Bukan dia yang minta, tapi gue yang mau dengan senang hati. Nganter ke ujung dunia pun gue jabanin kalau dia mau. Hehehe."
"Deuh, jadi bucin nih ceritanya. Sebenarnya gue mau ngomong sejak dulu tapi gue nggak mau lo kecewa...."
"Ngomong apa sih, jangan bikin penasaran deh, kalau mau ngomong nggak usah ngegantung dan harus ditebak - tebak. Males gue."
__ADS_1
"Flo cerita ke gue, kalau dia nggak beneran sayang sama lo. Lo nya aja yang kegeeran waktu dia nerima pernyataan cinta alay dari lo yang kesekian kalinya itu . Dia cuma kasihan sama lo, jadi dia nggak enak buat nolak. Itu yang diceritain dia ke gue waktu itu. Lo kan nembak dia dari kelas X, jadi gue tahu banget lah tipe dia tuh kayak gimana."
"Kasihan, maksudnya?"
"Lo kan berkali - kali nembak dia, dia jadi sungkan. Lo juga nggak malu, ditolak sekali eh nembak nembak terus. Kayak nggak ada cewek yang suka aja sama lo! Lo kan ganteng, Dith. Banyak yang suka sama lo, termasuk gue. Gue tuh dari dulu sayang banget sama lo, Dith. Tapi gue sadar diri kok. Gue mah bukan apa - apa kalau dibandingin Flo."
"Lo lagi nggak demam kan?"
"Apa hubungannya sama demam? Gue sehat dan sadar kok ngomong begini, gue juga nggak sakit, cuma males aja berangkat hari ini. Masih kepikiran nyokap bokap yang semalam ribut. Gue sampai nggak bisa tidur. Gue ambil minum dulu ya, Dith..." Mecca menyeka sisa air bening yang belum sepenuhnya kering di kelopak matanya.
Mecca terkejut saat membalikkan tubuhnya, Flo menatap tajam padanya dan bergantian menatap Judith.
"Flo.... " Hanya kata itu yang terucap saat Mecca melihat Flo yang berada tepat di hadapannya.
Judith yang mendengar nama gadisnya terkesiap dan menoleh ke belakang. Ia pun beranjak dari sofa, menatap canggung ke arah Flo. Betapa terkejutnya ia saat ini, gadis yang ia cintai tersenyum miris padanya.
"Jadi ini alasannya kamu bilang pulang buru - buru? Aku pikir kamu beneran sama tante Viona! Ternyata sama tante Mecca? Mama kamu mudaan ya?" sindir Flo seraya mengepalkan kedua tangannya. Ingin rasanya ia menampar kedua orang yang ada di hadapannya. Yang satu pembohong, dan yang satunya pengkhianat. Paket lengkap untuk memporak - porandakan hatinya saat ini.
PLAKK
Flo terkejut mendapati Aiko yang sedari tadi diam justru lebih dulu menampar Mecca.
"Brengsek lo ya, gue kira lo tuh emang beneran sahabat baik kita, ternyata lo nggak lebih dari serigala berbulu domba. Bisa - bisanya lo ngomongin Flo kayak gitu! Kurang baik apa dia sama lo selama ini? Lo masih muda, jangan jadi pelakor deh! Nggak pantas tau nggak?"
PLAKK
" Dan ini buat pertemanan kita selama dua tahun. Nyesel gue pernah jadi sahabat lo. Di depan kita selama ini kelihatan baik, ternyata busuk di luar. PERMISI. Satu hal lagi, gue nggak akan minta maaf atau nyesel udah nampar lo. Lo pantes dapetin itu!" Aiko menyudahi emosinya, ia beranjak pergi meninggalkan Flo yang masih diam menatap Judith.
" Dith, mulai detik ini kita PUTUS." Flo menyeka kasar air mata yang menggenang.
"Dan buat lo, makasih, makasih banget udah fitnah gue. Gue kecewa banget sama lo. Permisi." Flo mendekati Mecca dan mengucapkan kata - kata yang berat ia lontarkan, tetap ada senyum di wajah gadis cantik itu, tapi senyum getir penuh kepalsuan dan kekecewaan yang berpadu menjadi satu. Ia pergi dengan membawa luka di hatinya.
" Flo, aku bisa jelasin..." Seru Judith yang akhirnya membuka mulutnya, mengejar Flo namun gadis itu mengacuhkannya dan tetap melangkahkan kakinya pergi dari rumah Mecca.
***
******
Hai, happy readers, yang sudah mampir ke novelku, mohon bantuan like, koment dan vote ya...
Bagi yang suka dengan novel pertamaku ini, jangan lupa jadikan favorit yaa..
Hatur nuhun... 🙏🙏🤗🤗
__ADS_1