Jodoh Florence

Jodoh Florence
Pilihanku jatuh di, Kamu!


__ADS_3

Aurel duduk sendirian di bangku panjang berbahan dasar besi yang hampir berkarat, sembari menatap awan yang berarak di langit sore. Gadis manis itu menggigit bibir bawahnya mencoba menahan cairan bening yang saat ini masih menetap di tempatnya, mungkin sekali ia mengedipkan kedua matanya secepat kilat pipinya akan menjadi basah.


Ditatapnya jam tangan berwarna putih yang melingkar indah di pergelangan tangan kanannya. Sudah menunjukkan pukul 17.10 wib, ingin rasanya ia segera pulang.


Pandangannya sendu tak nampak keceriaan yang terpancar pada sorot matanya. Padahal siang tadi ia masih disibukkan dengan bercanda bersama para sahabatnya, bahkan masih sempat menggoda guru tampan yang masih muda, Keanu.


Sesekali ia menghentakkan kedua kakinya silih berganti hingga menimbulkan bunyi yang setidaknya membuat ia tak merasakan sepi sendiri.


Hening



Beberapa detik kemudian, ia mendongakkan kepalanya, menatap langit yang semakin meredup dan sedikit mendung, berharap hujan akan mengguyur tubuhnya. Ia rindu suara gemericik air hujan yang berlomba - lomba sampai lebih dulu membasahi tanah, dan selepas itu akan ada sensasi menikmati aroma hujan yang membuatnya tenang. Namun, harapannya tak terkabul.


'Bahkan langit pun tak mau menurunkan hujan untuk menemani aku yang sedang gelisah. Langit memberiku harapan palsu. Seperti Tian. Aku yakin dia pasti lebih memilih Vina. Tatapannya ke Vina berbeda. Perempuan itu memang lebih dewasa, cantik dan bisa berdandan. Sedangkan aku? Aku apa?'


Dan kini kedua pipi Aurel basah, air matanya sukses mengalir tanpa bisa dibendung lagi, segera ia menyekanya, pura - pura bahwa ia baik - baik saja. Tapi pura - pura untuk apa? Saat ini ia hanya seorang diri, tak ada siapa pun berada di sampingnya.


Refleks Aurel berdiri, memukul dadanya pelan. Rasanya sesak, tarikan nafasnya memberat. Air matanya tak kunjung mereda, justru semakin deras dan membuatnya terisak.


"Tian! Kamu jahat! Kamu pasti memilih dia kan daripada aku? Aku sadar diri kok, aku emang nggak sesempurna dia, tapi jangan sesakit ini rasa yang kamu tinggalkan buat aku!" teriak Aurel, ia tak menyadari seseorang berjalan mendekat dan segera memeluk pinggangnya dari belakang.


Aurel menoleh ke belakang kemudian membalikkan tubuhnya hingga berhadapan langsung dengan lelaki yang membuat hati dan pikirannya berkecamuk. Siapa lagi kalau bukan Tian!


Tian meletakkan tangannya di kedua bahu Aurel, matanya fokus menangkap cairan bening yang tersisa di kelopak mata kekasihnya.


"Maaf ya..." ucap Tian terdengar ambigu untuk Aurel.


Gadis itu mencari jawaban dari tatapan mata Tian yang seperti menghipnotis dirinya. Kedua sorot mata yang tajam sempurna tengah menatap Aurel, membuatnya kikuk.

__ADS_1


"Untuk apa? Tolong, jangan bilang ke aku, kalau kamu udah pilih dia. Aku nggak mau dengar itu. Pergi! Pergi!" pekik Aurel seraya menutup kedua telinganya dan berjalan mundur beberapa langkah.


"Dengerin aku dulu!" hardik Tian. Aurel mendongakkan kepalanya, memberanikan diri menatap Tian.


"Dengerin apa lagi?"


"Jangan berspekulasi dengan pikiranmu sendiri!"


"Yan, aku tahu, aku emang nggak sempurna. Tapi aku nggak mau denger hal itu, bahwa kamu lebih memilih dia. Sakit, Yan. Sekarang aku tanya untuk terakhir kalinya, kamu pilih dia atau aku?"


"Yang aku tahu, memilih itu adalah hak semua wanita untuk memilih pria yang akan mendampingi hidupnya. Kalau kamu nyuruh aku untuk jawab mau pilih yang mana, maaf. Maafin aku. Pilihanku jatuh di, Kamu! Iya, kamu...."


"Hah?" Aurel masih tak percaya dengan apa yang baru saja di dengarnya.


"Iya, kamu. Siapa lagi? Apa kamu pengen lihat aku balikan lagi sama Vina?" goda Tian yang seketika mendapat cubitan di lengan dan perutnya dari gadis manis yang telah dipacarinya hampir tiga bulan.


Aurel menatap Tian sejenak, seolah matanya meminta kepastian akan ucapan yang telah terlontar dari bibir lelaki itu. Tian membalas tatapan itu dengan senyum bahagia.


"Ehem, ehem. Iya deh yang bahagia, dunia berasa milik berdua. Yang lain cuma numpang!" suara itu keluar dari mulut Kyo yang langsung mendapat cubitan dan lirikan tajam dari Flo. Kyo terkekeh.


"Eh, ada kalian! Maaf ya, jadi nggak lihat situasi dan kondisi." ucap Tian segera melepaskan pelukannya dari tubuh Aurel.


"Nih, tas dan seragam lo. Udah mau malam, buruan cabut. Anak gadis orang jangan dibawa pulang kemalaman!" ucap Kyo memberi wejangan seraya memberikan tas dan seragam milik Tian.


"Kayak lo nggak pernah malam - malam aja nganterin Flo!" tuduh Tian tapi itu memang benar adanya, karena terkadang Flo berkunjung di rumah Kyo sampai malam, itu pun ngobrol dengan Aiko hingga lupa waktu dan Kyo harus mengantar kekasihnya pulang sampai di depan pintu rumah.


"Kalau gue kan beda, nggak kayak elo pada! Makanya lo pindahin rumah lo biar deketan sama rumah Aurel. Jadi lo bebas deh ngantar dia pulang malam. Terus buruan lo lamar aja Aurel, Yan!" Kyo berusaha mengelak, dan mengubah topik menggoda Tian dengan memberinya ide tak masuk akal.


"Ide sesat itu namanya! Kayak mindahin rumah segampang mindahin pion catur! Kalau ngasih ide yang bener dikit dong, jangan ngasih ide gila. Secara gue aja belum mapan, mau gue kasih apa Aurel sama anak gue nanti?"

__ADS_1


"Aduh, Bang. Udah bahas gituan, mohon maaf nih otak gue belum sampai ke tahap itu. Gue masih anak di bawah umur. Hahaha." Kyo semakin getol untuk menggoda Tian.


"Udah ah, balik yuk! Kalau kalian masih mau ngobrol atau debat terusin di rumah aja," ajak Flo pada Kyo, dan diikuti Aurel dan Tian yang mengekor di belakang keduanya.


"Rumah siapa, Flo?" Aurel penasaran.


"Rumah kami berdua lah!" jawab Kyo cepat.


"Deuh, sembarangan kalau ngomong! Ya rumah kamu lah apa rumah Tian, kalau kalian masih mau kangen - kangenan. Aku mau pulang, capek tahu! Nungguin kalian debat bisa pulang jam dua belas malam sampai rumah. Ogah banget!"


"Udah mau maghrib loh, Yang. Nunggu sampai ba'da maghrib ya, kita sembahyang disini dulu sekalian," ajak Kyo dan disetujui oleh Flo juga Aurel dan Tian.


***


Selepas menjalankan sembahyang, mereka berempat segera memutuskan pulang.


Kyo dengan sigap menggandeng tangan Flo supaya lebih cepat menuju tempat parkir untuk mengambil motor dan segera pulang.


Aurel dan Tian berjalan lambat di belakang pasangan Kyo dan Flo. Tampaknya mereka masih asyik untuk bersama sebelum pulang ke rumah. Jemari keduanya saling bertaut seolah tak ingin berpisah.


Malam semakin dingin, Tian mengeratkan genggaman tangannya. Aurel menatap lelaki yang ia cintai. Pandangan mereka saling beradu, tak ada yang mau mengakhiri. Seolah benar ucapan Kyo, dunia hanya milik mereka berdua.



"Tuhan dengarkanlah permohonanku, jodohkan lah gadis yang ada di sampingku agar menjadi pendampingku kelak. Kalau dia bukan jodohku maka jangan biarkan siapapun bersamanya, agar aku bisa meraihnya kembali ke sisiku. Aamiin." pinta Tian sembari menatap langit seolah ia sedang berbicara kepada Zat yang maha Hidup, Tuhan pemilik alam semesta beserta segala isinya.


Aurel menengadah, ia menatap wajah tampan kekasihnya yang sangat serius. Membuat pipinya merona dan tersenyum bahagia, senyum yang menghiasi wajahnya kini tak kunjung sirna dan berharap Tuhan akan mengiyakan permintaan Tian.


Semoga Tuhan mengabulkan doa mereka.

__ADS_1


***


__ADS_2