
Kyo benar - benar mengajak Flo ke suatu tempat dimana mereka akan melakukan kencan sesuai dengan apa yang tadi diucapkan Kyo. Disinilah mereka sekarang, menikmati pemandangan lautan manusia yang tengah bercanda tawa bersama orang terkasih. Taman Gembira.
Kyo menggandeng tangan istrinya dengan penuh kasih sayang, memesan tiket untuk masuk sebuah wahana bermain yang cukup banyak diminati. Bianglala. Sebuah wahana yang amat sangat disukai oleh Flo sejak kecil, terakhir ia menikmati wahana tersebut saat ia menginjak usia tiga belas tahun. Hampir lima tahun Flo tak pernah menaikinya. Rindu, itu yang ia rasakan saat ini.
Setelah memasuki sebuah gerbong bianglala berwarna merah muda, warna kesukaan Flo, Flo terlihat sangat senang, raut wajahnya amat berbinar.
Kini mereka duduk berhadapan, sangat romantis sekali. Keduanya saling menatap satu sama lain. Bahkan saat ini kedua mata Flo berkaca - kaca dan diketahui oleh Kyo. Ia merasa bingung dengan istrinya.
"Sayang, kamu kenapa? Perasaan tadi senyum - senyum kok sekarang malah nangis sih? Apa kamu nggak suka aku ajakin naik wahana ini?" tanya Kyo bertubi - tubi, satu jawaban saja belum meluncur dari bibir istrinya, lelaki itu sudah melayangkan begitu banyak pertanyaan.
Flo menggelengkan kepalanya, ia berganti menggenggam tangan sang suami dan dikecupnya punggung tangan Kyo.
"Terima kasih suamiku, aku senang banget. Aku terharu, ternyata kamu ngajakin aku naik ini. Udah lama banget aku nggak naik bianglala, lama lama lama sekali..." ucap Flo sembari tersenyum dan berniat menyeka air matanya, namun didahului oleh ibu jari Kyo yang lebih dulu mengeringkannya.
"Sebenarnya aku mau pengakuan dosa, bohong kalau aku bisa langsung punya ide ngajakin kamu kesini," ucap Kyo tanpa ditanya.
"Maksudnya?"
"Kemarin aku nggak sengaja buka diary hello kitty kamu yang ada di dalam laci, terus iseng baca beberapa halaman, eh..." ucap Kyo santai namun saat tatapan dingin dan meminta jawaban dari Flo fokus menatapnya, lelaki itu bingung bukan kepalang.
"Beberapa atau beberapa? Jujur!" desak Flo.
"Niatnya beberapa, tapi karena keasyikan baca tulisan sebagus itu, jadinya kebaca beberapa halaman sampai selesai, hehehe, maaf..." sesal Kyo, Flo kembali menggelengkan kepala.
"Nggak apa - apa, kamu buka juga nggak masalah. Justru aku tenang, karena kamu udah baca sendiri. Jadi aku nggak perlu menjelaskan apapun. Bukankah kita sudah menjadi suami istri? Berarti nggak ada hal yang harus disembunyikan, setuju nggak?" nada bicara Flo sudah kembali seperti biasa, tak ada tatapan dingin melainkan tatapan hangat yang ia berikan untuk Kyo.
"Setuju dong! Aku kira kamu bakal marah sama aku karena udah lancang buka diary itu bahkan membaca sampai selesai, aku nggak enak, Sayang,"
"Nggak enak, ya dienakin aja, Sayang.." Flo tersenyum manis, membuat hati Kyo berdegup kencang. Padahal keduanya telah menikah, namun hal sekecil apapun akan terasa indah dan bermakna untuk mereka. Selalu ada percikan - percikan api asmara diantara keduanya.
"Jadi laki - laki yang beruntung itu adalah aku ya, Yang?"
"Heem,"
"Kenapa kamu dulu nggak pernah ngajakin pacar kamu kesini, Sayang?"
__ADS_1
"Ehmmm, kalau aku bilang, kamu cemburu nggak nih?"
"Insyaallah nggak, kan itu dulu, sekarang aku suami kamu," ucap Kyo yakin.
"Sebenarnya dari dulu aku kepengen banget naik ini tapi aku nggak mau bilang sama mereka, karena aku pengen mereka yang ngajakin aku bukan karena aku yang memintanya. Tapi nggak ada yang paham, hehehe, eh sekarang malah aku kesininya sama kamu," ucap Flo sembari tersenyum manis.
"Jadi kamu nggak ikhlas kesininya sama aku? Nyesal gitu?" rajuk Kyo, Flo menutup mulut Kyo dengan bibirnya. Gemas sekali rasanya pada tingkah laku suaminya yang terkadang posesif dan kekanak - kanakan namun ia cinta.
Kyo yang belum siap mendapat serangan kilat dari istrinya hanya memejamkan mata menikmati bibir kenyal berwarna merah muda itu menempel di bibirnya. Lelaki itu kembali merajuk karena adu bibir itu hanya terjadi sebentar saja alias ciuman singkat.
"Kok cuma bentar?" tanya Kyo.
"Aku pusing kalau gerbong ini mulai jalan,"
"Tenang bentar lagi berhenti kok, kata orang saat paling romantis itu adalah ciuman di atas bianglala berhenti tepat kita berada di atas. Romantis sekaligus bisa menikmati pemandangan dari atas sana, nanti aku pengen membuktikan omongan orang, bener apa nggak?"
"Kamu mah modus! Pakai alasan membuktikan, pengen ketawa aku denger omongan kamu, hahaha," ledek Flo.
Gregg Gregg
Dan benar saja yang diucapkan Kyo, bianglala berhenti saat posisi gerbang yang mereka tumpangi tepat di atas dan berada di tengah - tengah. Mereka berdua bisa menikmati panorama alam yang tersaji begitu indahnya.
Tubuh Kyo semakin mendekat, memangkas jarak di antara keduanya. Kyo melihat bibir itu, bibir berwarna merah muda yang selalu membuatnya candu. Tak perlu menunggu lama, kini bibir keduanya sudah menempel, bahkan saat ini lidah Kyo mulai mengaduk - aduk, membelit dan mengabsen setiap inci rongga mulut Flo. Permainan lidah itu berhenti saat bianglala kembali berputar.
Kyo tersenyum dan mengelus lembut rambut Flo yang saat ini di buat keriting hasil karya Ayudia dan tim yang bertugas merias Flo saat pemotretan. Cantik!
"Terima kasih, Sayang. Sudah hadir dalam kehidupanku dan mau menerima segala kekuranganku. I love you until the end of time...."
"I love you more and more my husband...."
"Kita terusin nanti di rumah," ucap Kyo santai namun memiliki makna yang dalam. Tak jauh - jauh dari pertarungan di atas ranjang.
Bahagia itu simpel kok asal halal! Batin Kyo.
Bakal nggak bisa jalan ini besok! Udah deh yang penting dia bahagia , aku juga ikut bahagia, terima kasih sudah membawaku mengingat nostalgia masa kecilku.. Batin Flo.
* * *
__ADS_1
Lain Flo lain Judith. Di lapangan basket, Randy bersama Tian sedang bermain basket. Mereka sengaja pulang sore untuk berlatih basket untuk menenangkan pikiran dan kangen dengan bola bundar tersebut. Pasangan mereka berdua duduk di bangku panjang yang terbuat dari kayu, yang jaraknya tak begitu jauh dari lapangan basket outdoor.
Judith yang belum pulang usai keluar dari ruang Osis pun ikut nimbrung bersama Kenzi. Kini mereka berempat tengah bermain bersama.
Keempat laki - laki itu saling berebut bola dan mencoba memasukkan ke dalam ring. Hingga Tian mulai merasa jenuh karena mereka hanya fokus bermain tanpa ada pembicaraan satu kata pun dan kini ia buka suara.
"Dith, lo kan ganteng, sekarang lo udah punya pacar belum?" tanya Tian.
"Ganteng nggak jamin langgengnya suatu hubungan kan, Bro?" Judith balik bertanya yang membuat Tian tak bisa menjawabnya. Sebenarnya bukan karena tak bisa, tapi Tian tak enak hati, ia yang memulai dan memancing tapi tak berani bertanggung jawab.
"Eh, maksud gue bukan gitu, Dith. Aduh kok gue jadi nggak enak gini ya? Sorry, Dith. Gue nggak ada maksud mengingatkan elo sama Flo," sesal Tian.
"Apaan sih, Bro? Gue nggak sedih kok, gue malah bisa belajar untuk berlapang dada dan ikut bahagia kalau cewek yang masih gue sayang itu bahagia, meskipun bahagianya nggak sama gue," ucap Judith bijak. Tian menghela nafas lega. Randy geleng - geleng kepala mendengar obrolan keduanya dan menarik pergelangan tangan Tian.
"Yan, lo bisa mikir nggak sih? Lo pernah ngerasain jari lo keiris pisau nggak?" bisik Randy di telinga Tian.
"Pernah," jawab Tian spontan.
"Kalau pernah, jari yang keiris pisau itu lo kasih air atau perasan jeruk," pinta Randy masih berbisik.
"Aw, aw, jangan, perih banget itu, udah luka ditambah lagi itu ya makin perih lah," elak Tian belum sadar apa arti obrolan sebenarnya.
"Nah lo udah tahu kan, nah itu yang dirasakan Judith sekarang, lo tahu dia kemarin habis ditinggal nikah sama mantan tercinta, eh pake lo ingetin dia lagi tentang cewek, lo gila apa mendadak amnesia? Sakitnya tuh disini, Bro!" tunjuk Randy pada dada bidang Tian.
"Astaga! Kok gue jahat bener ya?" Tian baru menyadari kesalahan yang ia lakukan. Tatapan Tian tertuju pada Judith yang masih fokus memasukkan bola ke dalam ring.
Masa lalu biarkanlah menjadi masa lalu. Mungkin tanpa kita sadari, kita pernah menjadi penjaga jodoh orang, sakit memang, bohong kalau nggak sakit, mulut bisa bohong, tapi tidak dengan mata... Batin Randy.
Ya ampun kok gue terlalu cerdas sih! Nggak enak hati gue sama Judith, Ya Tuhan ampuni hamba yang terlalu polos ini... Batin Tian.
* * *
Pinjam jempolnya kakak
Biar author makin Semangat...
Mohon dukungannya yaa 😀😀😀
__ADS_1
Selamat malam semuanya 🤗🤗