Jodoh Florence

Jodoh Florence
Tante Aira 2


__ADS_3

Mami masih setia memandangi batu nisan sahabatnya seolah merasakan kehadiran Aira disini. Di masa hidupnya, Aira Syahrani adalah wanita yang baik, kalem, lemah lembut dan tentu saja memiliki paras yang cantik hingga mampu menaklukkan hati seorang pria kaku bernama Justin Excelio.


Namun, sayang seribu sayang jika menyangkut hidup dan mati seseorang itu adalah kuasa Tuhan tidak ada manusia satupun yang bisa memprediksi segalanya. Andai kecelakaan itu tidak pernah terjadi, mungkin saat ini Aira masih ada di tengah - tengah mereka.


"Aira, aku ning kene, saiki anakku wes gelem rabi karo anakmu. Mugo - mugo anakmu iso gawe urip anakku tentrem selawase. Mengko anakmu bakal ketemu anakku, anakku ayu lho koyo aku! Ra...." (Aira, aku disini, sekarang anakku sudah mau menikah dengan anakmu. Semoga anakmu bisa membuat hidup anakku tenteram selamanya. Nanti anakmu dan anakku akan bertemu, anakku cantik loh kayak aku! Ra..." ucap Mami seraya mengelus batu nisan tante Aira.


Mama mengajak Mami berdiri perlahan, mereka berdua tak kuasa menahan tangisnya dan berpelukan saling menguatkan satu sama lain. Kepergian Aira hampir delapan belas tahun yang lalu masih menyisakan duka mendalam bagi Mami dan Mama.


Papi mendekati Mami lalu menggandeng tangan istrinya menuju mobil karena bisa dipastikan Mami akan menangis sampai terisak jika dibiarkan berada disini terlalu lama.


Papa juga segera meraih tangan Mama, turut pula mengajak istrinya menuju mobil. Mereka berjalan beriringan, meninggalkan Flo, Kyo dan Aiko. Aiko masih terpaku menatap batu nisan tante Aira dengan tatapan sendu.


Flo mendekati ipar sekaligus sahabatnya, hingga kini dengan sigap Flo meletakkan kepala Aiko di bahunya. Pemandangan itu membuat Kyo ikut terharu. Sekelebat bayangan Randy menyelinap masuk dalam pikiran Kyo.


Randy, maafin Aiko, kalau dia nggak bisa jadi jodoh lo, gue berharap lo bakal nemuin perempuan yang tepat. Pasti berat buat kalian harus terpisah kayak gini ceritanya... Batin Kyo.


"Udah yuk kita balik, kan nanti elo harus ketemu anaknya Om Justin. Lo udah siap kan?" tanya Flo sembari membelai lembut rambut Aiko yang tergerai menutupi wajah cantiknya.


Aiko menatap wajah Flo, gadis itu mencoba melengkungkan senyum tipis. Flo menepuk pelan punggung tangan Aiko kemudian menyelipkan rambut Aiko ke belakang telinga dengan lembut. Tak perlu diragukan lagi, Flo menyayangi Aiko layaknya saudara sendiri meskipun saat ini mereka sudah menjadi ipar.


Kyo sedikit cemburu melihat hal itu namun segera ia tepis perasaan aneh yang menghinggapi kepalanya. Masa iya cemburu sama saudara sendiri, kan aneh! Dia masih memiliki otak yang bisa berpikir jernih. Kyo membiarkan Flo menenangkan pikiran Aiko dan mengabaikan dirinya.


Oke kali ini aja ya gue dicuekin! Kalau besok udah beda cerita.. Gumam Kyo lirih.


Flo menggandeng tangan Aiko dan beranjak dari posisinya hingga kini mereka berdua berjalan bersisian keluar dari area pemakaman dengan Kyo yang mengekor di belakangnya.

__ADS_1


Flo membukakan pintu mobil untuk Aiko agar gadis itu segera masuk ke dalam. Sebelum Aiko masuk, ia meminta Flo juga naik ke dalam mobil. Flo menolak secara halus permintaan Aiko dengan alasan kasihan pada Kyo.


Mobil melaju setelah semuanya sudah menempati tempat duduk masing - masing. Kedua mobil berjalan beriringan meninggalkan area pemakaman yang cukup luas di pinggiran kota.


Kyo dan Flo mengikuti kemana arah perginya kedua mobil tersebut dengan kecepatan sedang. Tanpa mereka semua sadari, beberapa pasang mata menatap kepergian mereka, bahkan sejak dari awal datang hingga mereka pergi dari sana dengan jarak yang tak begitu jauh.


* * *


Sore itu menjadi momen yang tak akan pernah dilupakan oleh Aiko. Karena sebentar lagi ia akan menemui calon suaminya.


Sepuluh menit berlalu belum juga ada tanda - tanda kehadiran Om Justin dan anaknya.


Tanpa Aiko sadari, keringat dingin mengucur dari pelipisnya. Flo yang berada di sampingnya menyadari hal tersebut berinisiatif mengambil selembar tisu kering yang ada di hadapannya mengelap lembut kening Aiko.


Kyo yang melihatnya hanya bisa berdecak kagum dalam hati. Betapa beruntungnya ia memiliki seorang istri seperti Flo.


"Maaf ya, nunggu lama!" ucap Om Justin sambil menyalami satu per satu orang yang telah menunggu kedatangannya.


"Nggak kok, belum ada sejam!" Papi menimpali pertanyaan Om Justin seraya menepuk bahu pria paruh baya tersebut.


"Sorry, biasa alasan klasik. Macet! Hehehe," ucap Om Justin pada Papi sembari terkekeh.


Usai berjabat tangan dengan semua anggota keluarga calon besannya dan keluarga Flo, mereka kembali menikmati makanan yang telah tersaji di atas meja.


Pandangan Aiko tertuju pada om Justin, ada pertanyaan yang menghinggap di kepalanya. Dimana anaknya? Kenapa beliau datang sendiri? Apa perjodohan ini dibatalkan? Harus kecewa atau lega ia saat ini?

__ADS_1


Seolah dapat menebak isi pikiran Aiko, Om Justin membuka obrolan ringan pada dua wanita dan dua pria paruh baya di depannya.


"Maaf ya, anakku kemungkinan datang terlambat. Biasa lah, anak muda," celetuk om Justin menjawab pertanyaan setiap orang yang ada di meja persegi panjang tersebut.


"Aiko, ini Om Justin suaminya tante Aira. Orangnya baik kok. Jadi kamu nggak akan nyesel jadi menantunya." canda Mama yang direspon positif oleh Mami. Mereka nampak bahagia saat menjelaskan di depan Aiko.


"Iya dong harus itu! Seperti arti namanya, Aiko adalah buah hati tersayang. Meskipun Om Justin bukan orang tua kandung kamu, tapi om akan menjadi papa mertua yang menyayangi kamu seperti anak kandung sendiri. Kalau anak Om nakal jangan segan - segan kasih tahu Om ya. Eh ralat, mulai hari ini panggil aja Ayah bukan om lagi ya," pinta Om Justin. Aiko hanya mengangguk dan menciptakan senyum palsu di wajahnya.


Aiko sedikit gugup saat akan mengambil minumannya. Dengan sigap Flo memberikan secangkir teh gula batu di tangan Aiko. Dan Aiko pun menyeruput minumannya sedikit demi sedikit dengan perasaan yang tak bisa diungkapkan dengan kata - kata.


"Jangan gugup ya, relax, Aiko," bisik Flo di telinga Aiko. Aiko hanya mengangguk pelan. Nampaknya hari ini akan di peringati sebagai hari diamnya Aiko. Tak banyak bicara bahkan bertingkah pun jarang.


"Selamat sore semuanya...." ucap seseorang yang tak asing mendatangi meja mereka. Senyum merekah di wajah lelaki itu. Dengan sebuket bunga di tangan melengkapi dan bahkan bisa dibilang menyempurnakan penampilannya sore itu.


Aiko terkesiap melihat lelaki yang berdiri di hadapannya.


Kevin? Dia? Dia calon suami gue? Batin Aiko.


Flo dan Kyo saling melirik kemudian kembali menatap Kevin yang tersenyum disana.


Kevin mendekat ke arah Aiko dan segera memberikan sebuket bunga mawar pada Aiko.



"Ini bunga buat kamu, tolong diterima ya. Dibaca juga secarik kertas yang ada didalamnya," ucap Kevin sembari tersenyum manis saat memberikan bunga tersebut dan telah berpindah ke tangan Aiko.

__ADS_1


Sejak kapan Kevin ngomongnya bisa manis banget kayak gini? Biasanya juga lo gue! Apa yang ada di dalam kertas ini? Kenapa pakai acara surat - suratan segala sih... Batin Aiko sambil menatap sebuket bunga mawar yang telah berada dalam genggamannya.


* * *


__ADS_2