
Sebelum baca, jangan lupa tekan like, koment, rate 5 dan monggo loh vote author satu ini... 🤭🤭🙌🙌
🍎🍎🍎🍎🍎🍎🍎🍎🍎🍎🍎🍎🍎🍎🍎🍎
Flo dan Kyo masih berada di tempat parkir rumah sakit. Tatapan mata Flo tertuju di pipi suaminya, bekas tamparan Oma Silvia masih membekas disana.
Meskipun Kyo bersikap biasa - biasa saja seolah tak terjadi peristiwa apapun namun Flo bisa ikut merasakan sakitnya. Seolah ada hal semacam ikatan batin yang menghubungkan dirinya dengan Kyo.
Sakitmu juga sakitku. Mungkin ini adalah kata yang tepat untuk menggambarkan perasaannya saat ini. Flo membelakangi Kyo, ia kembali mengingat semua ucapan Kyo dan Oma Silvia, seperti alarm yang terus berbunyi mengganggu pikirannya.
"Kamu kenapa, Yang?" tanya Kyo bingung sembari menepuk bahu Flo.
Flo membalikkan badannya hingga kini posisi keduanya saling berhadapan. Kyo menatap mata Flo yang basah, istrinya menangis? Tapi karena apa? Kening Kyo berkerut dalam.
"Kok nangis sih?" tanya Kyo penuh keheranan.
"Aku sedih kamu ditampar sama Oma Silvia.." jawab Flo sembari menundukkan wajahnya karena malu dilihat oleh Kyo.
"Nggak apa - apa, Yang..." hibur Kyo, sikap yang terbalik, bukankah ia korban disini tapi malah menenangkan istrinya.
Kyo memeluk Flo dengan erat meskipun mereka masih berada di tempat umum. Keduanya tak malu lagi mengekpresikan perasaan mereka.
"Andai aku nggak menyanggupi permintaan abang buat datang kesini, pasti kamu nggak akan terluka kayak gini. Aku yang salah, Yang. Kamu boleh marah sama aku," isak Flo di pelukan Kyo.
Kyo mengelus punggung Flo dengan penuh kasih, menunjukkan pada istrinya bahwa ia baik - baik saja.
"Jangan merasa bersalah seperti ini dong! Mana istri aku yang cantik? Kalau nangis kayak gini nanti cantiknya hilang gimana?" goda Kyo.
__ADS_1
"Bodo amat! Kan kamu tetep mau sama aku," jawab Flo dengan percaya diri hingga membuatnya sedikit melupakan kejadian yang lalu.
"Yakin aku masih mau kalau kamu nggak cantik lagi?" lagi - lagi Kyo menggencarkan godaan pada Flo supaya gadis itu kembali tersenyum.
"Awas kamu berani macam - macam! Nggak ada jatah dan kita pisah ranjang!" ancam Flo membuat seringai di bibir lelaki itu memudar dengan sempurna.
"Wah nggak bisa gitu dong, Yang! Iya - iya maaf, maafin dong!" pinta Kyo seraya mengatupkan kedua tangannya memohon Flo memaafkan keisengan yang ia lakukan.
"Makanya kalau lagi serius tuh serius, jangan bercanda! Aku tuh khawatir sama kamu, bagaimana pun juga kamu kan suami aku. Aku nggak rela kamu diperlakukan seperti itu. Paham?"
Kyo melepaskan pelukannya dan mengarahkan kedua tangannya di atas bahu Flo, senyum manis terbit di wajah lelaki itu.
"Tamparan itu nggak seberapa, daripada aku kehilangan kamu untuk bersama orang lain, lebih baik aku dipukul sampai beliau puas. Dalam keadaan apapun, jangan pernah tinggalin aku ya, Sayang. Apapun yang aku lakukan sama kamu, semua itu adalah pertama kalinya buat aku. Aku cinta kamu, Yang...."
Flo membalas ucapan suaminya dengan sekali anggukan mantap dan kembali memeluk Kyo. Flo merasa lega dan tenang sekarang.
Ponsel Kyo bergetar dan sangat terasa sekali di depan dadanya karena saat itu ia memakai
Waist bag yang menyempurnakan gayanya saat ini.
Adegan mesra keduanya terhenti saat Kyo menerima sebuah panggilan via whatsapp. Dengan cepat ibu jari Kyo menyentuh tombol berwarna hijau yang tertera di layar ponselnya.
"Halo, ada apa Yan?" tanya Kyo pada seseorang di seberang sana, tak lain dan tak bukan, sahabat somplaknya, Sebastian Wijaya.
Raut wajah Kyo panik dan segera memasukkan ponselnya ke dalam tas. Berlari menuju motor sportnya namun tetap menggandeng tangan sang istri. Mereka berdua segera menaiki motor dan berlalu dari sana, membelah jalanan ibukota menuju tempat seseorang.
* * *
__ADS_1
Di teras rumah Tian...
"Ran! Semangat dong, Randy! Ah elah, muka lo absurd banget! Mana nih sahabat gue yang ganteng, nggak pernah ngeluh, selalu ceria, dimana dia? Kasih tahu gue dimana dia? Bukan malah cowok lemah kayak gini!" ledek Tian yang bermaksud mengembalikan semangat untuk Randy. Sepertinya Tian salah trik dan tak ada jawaban dari Randy.
Malam ini Randy begitu berantakan, tak nampak seperti lelaki tampan yang sifatnya paling sabar, bisa menjadi penengah dan paling waras diantara dua sahabatnya seperti hari yang sudah - sudah. Kini semua tampilannya terlihat lusuh, kesan urakan amat kentara, bahkan ia belum berganti baju dan masih memakai seragam sekolah dengan kancing yang semuanya terlepas.
Randy menghisap rokoknya dalam - dalam mencoba mencari sesuatu dalam pikirannya. Sejenak ia melirik Tian di depannya lalu secepat kilat ia memalingkan wajahnya. Rambut hitamnya yang biasa tertata rapi kini malah terlihat kacau balau.
Efek patah hati diputuskan cintanya oleh Aiko membawa dampak besar dalam hidup lelaki yang sebentar lagi menginjak usia delapan belas tahun itu. Bagaimana tidak? Diputuskan saat ia sedang sayang - sayangnya? Bahkan bisa dibilang cinta mati. Seorang Randy bisa sebesar itu mencintai perempuan bernama Aiko. Kini ia seperti kehilangan arah.
Tian menghela nafas panjang seolah ikut frustasi melihat sahabatnya amburadul seperti ini. Belum ada di kamus hidup Randy bahwa ia akan mengalami patah hati.
"Ran, hidup terus berjalan. Gue sedih lihat lo begini. Please, lo harus semangatin diri lo sendiri. Lo pasti bisa! Move on, Randy!"
Lagi - lagi tak ada jawaban yang keluar dari bibir Randy bahkan hanya untuk sekedar menjawab ya atau tidak. Tatapannya kosong mengarah ke dinding. Tian menjambak rambutnya sendiri, kemudian mengacak - acaknya karena bingung harus bagaimana lagi menghibur Randy. Beberapa cara ia lakukan namun tak memberikan respon baik dari Randy.
"Kok gue jadi kayak lelaki penghibur gini ya? Bukannya lo bisa terhibur malah gue yang jadi gila! Ih, amit - amit deh. Naudzubillah, jangan sampai! Astaghfirullah hal adzim..." Gerutu Tian pada akhirnya yang bergidik ngeri.
Tian melirik jam dinding dan pandangannya beralih pada ponselnya yang tergeletak di meja kaca, sesegera mungkin menghubungi seseorang yang sekiranya bisa membantu menyelesaikan masalah Randy. Tian masuk ke dalam rumah, untungnya Bunda dan Ayah tak ada di rumah. Kalau ada mereka, pasti dirinya akan diinterogasi habis - habisan oleh kedua orang tuanya.
"Halo, Kyo. Gue minta lo datang ke rumah gue sekarang juga! Ini mengenai Randy, Randy berantakan banget! Nyaris gila gue hadapi ulah dia kalau kayak gini. Gue tunggu!" tutup Tian saat mendapat jawaban dari seberang.
Tian menemui Randy lagi yang saat ini merebahkan tubuhnya di atas kursi panjang yang ada di teras rumah. Tangan kanannya ia gunakan untuk menutupi mata elangnya yang menahan laju air mata yang tak bisa lagi ia cegah hingga mengalir begitu saja.
Deru motor semakin mendekat, seseorang membuka pintu gerbang rumah Tian dan memasukkan motornya ke dalam. Mereka adalah Kyo dan Flo. Kyo keheranan melihat pemandangan di hadapannya. Bau rokok kuat menyeruak masuk ke dalam indera penciuman sepasang suami istri yang belum genap seminggu itu.
Astaga, Randy! Batin Flo dan Kyo kompak.
__ADS_1
* * *