Jodoh Florence

Jodoh Florence
Sadar Diri


__ADS_3

Flo, Kyo and the gank sudah sampai di Cafe. Setelah dua kali datang kesana, Flo baru ngeh nama Cafe tersebut JASMINE CAFE.


"Kita cari Gazebo aja, ya." Ajak Kyo.


"Jangan ah, rada mendung kayaknya mau hujan deh. Cari yang di pojok sana aja tuh. Aman kalau hujan, kita jadi santai." Usul Flo.


"As your wish, Beb..." Jawab Kyo santai dan merangkul Flo, Flo bergidik geli.


"Kyo, tangannya dikondisikan!" Sahut Tian. Kyo tertawa mengejek, menjulurkan lidahnya pada Tian. Flo menurunkan tangan Kyo.


"Kayak anak kecil, ah..." Tegur Flo membuat Kyo berhenti menggoda Tian.


"Lo kenapa sih dari tadi nempel mulu sama Flo? Kaya nyamuk mau ngisep darah tahu nggak? Ngejar mulu kemana Flo pergi!" Sindir Aurel kali ini, dan disetujui Tian.


"Lah ya wajar aja lah, dia kan..." Ucapan Aiko terhenti saat melihat tatapan membunuh dari Flo. "Dia kan teman kita semua, bener kan, Ran?" Mengalihkan obrolan dan meminta bantuan Randy kekasihnya. Randy mengangguk menahan tawa, karena dia sudah tahu hubungan Kyo dan Flo.


"Cari lesehan aja, biar bisa selonjor yuk. Yang penting tetep di pojokan." Usul Lily yang sedari tadi diam.


Mereka mendapatkan tempat duduk lesehan di Cafe itu, mbak Dewi yang sudah hafal dengan Kyo pun menyapa seperti temen lama.


"Mau traktir temen - temen ya?" Mbak Dewi memberikan buku menu sembari bertanya pada Kyo.


"Kok mbaknya tahu?" tanya Tian antusias.


"Ya iyalah mas, kan mas Kyo sama mbak Flo kemarin menang sayembara foto romantis karena mereka pasangan kekasih, makanya bisa menang dan dapet voucher makan gratis." Terang mbak Dewi tanpa melihat situasi, Tian diam menundukkan kepalanya kemudian duduk bersandar dinding.


"Oh iya, tinggal mas nya yang belum pesan. Mau pesan apa mas?" tanyanya pada Tian yang terdiam.


"Nama saya Tian mbak, bukan mas nya..."


"Ya, mas Tian. Mau pesan apa?" mbak Dewi tersenyum manis pada Tian.

__ADS_1


"Mbaknya nggak usah senyum - senyum sama saya, nanti kalau saya naksir berabe loh." Goda Tian.


"Maaf, mas. Saya nggak suka berondong. Saya lebih suka kedondong, dia asem tapi nggak bikin bosen."


"Kayak saya dong mba, dijamin mbaknya nggak akan bosen. Hahahaha." Tian mulai iseng merayu wanita yang notabene lebih tua jauh darinya.


"Jangan salah, Yan. Kedondong tuh singkatan dari Kepala dua nikahin gue dong, begitu, Yan. Kalau gue nggak salah denger obrolan mbak dirumah gue. Jadi, dia nggak mau sama anak bau kencur yang usianya masih di bawah umur kayak lo apalagi uang aja masih minta sumbangan dari orang tua." Jelas Dinda sembari membersihkan kacamatanya. Tian mencebik bibir.


"Maaf mbak, temen saya agak kurang jiwanya, separuh jiwanya pergi soalnya. Mungkin efek patah hati!" Randy menengahi pembicaraan, justru membuat Tian semakin manyun.


"Lo ingetin gue aja, Ran!" Tian tak terima.


"Lo patah hati karena apa, Yan?" tanya Aurel semakin menambah pilu perasaan Tian.


"Lo kalau polos jangan kebangetan lah, Rel. Nggak usah ditanyain juga ke orangnya. Makin sakit tuh bocah! Nanti kalau dimasukin ke rumah sakit jiwa kan kita yang susah, kehilangan teman tergila kita!" Aiko membela Tian.


"Mau ngebela apa ngejerumusin sih, Ai!" Tian semakin kesal dan sewot. "Mbak, saya pesen teh panas sepanas panasnya kalau bisa langsung dituang dari teko. Sama nasi goreng ayam super pedas. Hawanya dingin, mbak. Tapi hati dan kepala saya nggak!" Ujarnya pada mbak Dewi.


"Nggak apa - apa, Flo. Gue keluar dulu bentar, mau cari angin. Btw, kunci motor gue dimana ya..." Tian mencari alasan, beranjak dari duduknya, memakai sepatu yang dilepasnya dan berjalan ke depan menuju parkiran.


Randy sebagai sahabat melihat perilaku Tian menjadi kebingungan. Ekor matanya tertuju pada kunci motor di saku samping tas Tian. Ia mengambil kunci motor dan mengejar Tian.


"Permisi, gue nyari tuh bocah ilang dulu ya. Mbak, itu dulu aja yang dipesan, lagian udah pada pesen semua, langsung disiapin aja." Ucap Randy sebelumnya pada mbak Dewi kemudian pada teman - temannya. Flo dan Kyo mengangguk bersamaan.



Randy celingak celinguk mencari Tian. Pasalnya ia sudah di depan Cafe tapi tak mendapati lelaki berlesung pipit itu.


'Jangan sampai deh, gara - gara patah hati itu bocah bunuh diri! Astaghfirullahal adzim! Lo masih muda, Yan!' batin Randy sambil terus berjalan sampai parkiran.


"Woy, ngapain lo disitu? Nyariin gue? Takut kehilangan gue ya?" Tian berjalan dari luar Cafe, tepatnya dari warung kecil samping membeli sebungkus rokok.

__ADS_1



Tian mengedarkan pandangan ke sekitar pelataran Cafe, ia mengeluarkan sebatang rokok, menyalakan dan menghisapnya dalam - dalam. Randy berjalan ke arahnya.


" Gue tahu lo patah hati, Yan. Lo suka kan sama Flo?" Tebak Randy.


"Kok lo bisa nebak gitu sih? Apa ada tulisannya ya di kepala gue?"


"Iya, ada. Tulisannya AWAS TIAN GALAK LAGI PATAH HATI! Hahaha."


"Sekate - kate lo ya, dikirain anjing tetangga yang galak apa? Puas lo ngetawain gue?"


"Bukan ngetawain, Yan. Gue cuma mau lo sadar diri aja, sekarang lo harus bisa move on. Flo udah pacaran sama Kyo. Bahkan mereka juga udah dijodohin sama orang tuanya. Jadi, kesempatan lo udah nggak ada sama sekali." Randy mencoba menjelaskan.


"Lo tahu dari kapan, Ran? Kok lo nggak bilang sama gue? Tahu gini kan gue bisa persiapin hati dulu biar nggak sakit - sakit amat. Niatnya gue mau nembak Flo, eh gagal deh. Btw, kok lo bisa tahu kalau gue naksir dia? Kyo aja nggak tahu makanya dia diem kayak gini kan?"


" Ya wajarlah Kyo nggak tahu kalau kutu kupret satu ini suka sama Flo. Lo nya aja nggak sadar, udah banyak cewek lo godain sampai baper, lo rayu lah, lo angkat tinggi tinggi ke awan tapi abis itu lo jatuhin dan hempaskan lagi. Bahkan Flo aja lo godain. Bener nggak? Kalau emang beneran suka mending dari dulu tembak aja, jadi nggak keduluan orang terus!"


" Iya juga sih ya. Makanya tiap godain Flo, gue ngerasa kayak ditolak mulu. Kebiasaan godain ciwi - ciwi. Jadinya pas serius malah dianggap bohongan. Hah, kandas sudah hati abang, Dek Flo."


"Buwahahahahhaha...." Bukan Randy ataupun Tian yang tertawa melainkan Kyo yang entah sejak kapan dirinya sudah ada di belakang mereka berdua.


"Kyo?" tanya Randy. "Sejak kapan lo ada disini?" Lanjutnya kemudian.


"Dari kalian ngobrol disini, jadi gue denger semua omongan lo pada. Oh ya, Yan. Maafin gue ya, gue beneran nggak tahu kalau lo suka sama Flo.." Sesal Kyo tulus.


"Nggak apa - apa, Bro. Gue sadar diri kok, lo yang pantas dapatin Flo. Kayaknya ini deh yang dimaksud Judith tadi pas di sekolah. Udah songong aja gue tadi ngomongnya! Ditaruh dimana ini muka gue?" Tian mulai kembali normal.


"Noh, di spion motor lo sana! Pakek alasan nyari kunci motor dimana, nih..." Randy melemparkan kunci motor Tian dan kemudian sigap ditangkap. "Muka lo taruh disana, lihat baik - baik itu muka. Biar sadar diri, ganteng tapi somplak."


"Gue ganteng ya, Ran? Hahahaha." Kepercayaan diri Tian mulai tumbuh, sejenak ia melupakan rasa patah hatinya. Kyo menepuk bahu sahabatnya dan merangkulnya kembali masuk ke dalam. Randy menyusul di belakang mereka.

__ADS_1


***


__ADS_2