
Terimakasih sudah membaca karya saya, jangan lupa tap like ya kakak - kakak semua...
Mohon dukungannya 🤗🤗😀😀
Happy Reading 🙏🙏
______________________________________
Flo bersama Kyo tengah menikmati acara kelulusan yang diadakan di sekolah malam itu. Prom night yang disambut antusias para siswanya mengingat setelah hari ini, mereka akan segera berganti status menjadi mahasiswa atau ke jenjang yang lebih tinggi. Dunia yang lebih luas cakupannya.
Mereka berenam dengan pasangan masing - masing menemui dua teman yang lain yaitu Lily dan Dinda yang datang tanpa pasangan. Untunglah tak berlangsung lama, Judith dan Kenzi datang. Setidaknya Flo bisa meminta bantuan mereka untuk menjadi pasangan dansa Lily dan Dinda.
Judith hanya menjawab permintaan sang mantan kekasih dengan senyuman. Kyo memperhatikan instensitas Flo dan Judith yang terlihat akrab dan bisa saja orang yang tak tahu hubungan keduanya menganggap mereka masih sebagai pasangan kekasih. Kyo dalam mode cemburu.
"Udah belum ngobrolnya?" tanya Kyo posesif segera melingkarkan tangannya di pinggang sang istri. Judith tersenyum melihat tingkah Kyo yang dinilainya masih kekanak - kanakan.
"Udah kok. Nggak usah cemburu, Flo kesini cuma minta gue jadi pasangan dansa Dinda. Kenzi juga disuruh jadi pasangannya Lily, nggak lebih," jelas Judith bijak. Kyo mengangguk sambil membelai rambut Flo yang hari ini dibiarkan tergerai dan membuatnya terlihat semakin cantik.
Judith segera berlalu setelah dirasa penjelasannya pada Kyo sudah lebih dari cukup untuk mengurangi kecemburuan Kyo pada dirinya.
Flo mencubit pinggang Kyo dengan gemas.
"Aduh, sakit Yang..." pekik Kyo.
"Biarin, biar tahu rasa. Dikit - dikit cemburuan. Kamu tuh kayak nggak percaya sama aku! Padahal di perut aku udah ada anak kamu loh, masih aja kayak gitu! Dirubah sedikit demi sedikit dong, biar sikap kamu jadi lebih dewasa. Biar besok anak kamu nggak kaget punya papa yang nyebelin kayak kamu!" Flo mencebik bibir lalu meninggalkan sang suami sendirian.
"Sayang.. Tunggu aku dong, jangan ngambek! Iya aku salah karena cemburu nggak jelas, maafin dong Sayang...." ucap Kyo sambil mengekori kemanapun Flo berjalan hingga mereka menjadi pusat perhatian teman - teman yang lain. Flo menutupi wajahnya dengan kedua tangan, menahan malu karena kelakuan Kyo.
* * *
Usai mengikuti pesta dansa, Flo cs dan Kyo cs sudah berada di rumah Tian. Mereka sengaja mengadakan pesta perpisahan dengan cara mereka sendiri. Dan hanya diikuti oleh enam orang, trio somplak bersama pasangan masing - masing.
Tian mengeluarkan cemilan yang tadi dibelinya sebelum pulang ke rumah dibantu oleh Aurel. Flo dan Kyo duduk di sofa berdua sambil bercanda tawa. Untung saja Randy dan Aiko ikut membantu menyiapkan hingga Tian sebagai tuan rumah tak merasa menjadi kacung.
__ADS_1
"Bro, gue nemuin ini nih di rak dekat kamar mbak Tisya!" Tian menyodorkan sebotol wine yang memiliki kadar alkohol tak begitu berat tapi tetap saja memabukkan.
"Balikin, Yan! Nanti kita ditangkap satpol pp loh kalau ketahuan mabuk - mabukan. Gue ogah deh, takut!" pekik Randy pada Tian yang tersenyum penuh maksud.
"Gue cuma minum dikit doang. Sekedar ngicipin, penasaran!" kilah Tian.
"Iya, Yan. Gue nggak ikut - ikutan ya. Nanti yang ada gue mabuk di jalan! Gue kesini kan sama bini gue!" celetuk Kyo.
"Jadi kalau nggak sama aku, kamu mau cobain juga?" tanya Flo menahan kesal.
"Nggak, Sayang. Mana berani aku? Hehehe," jawab Kyo sambil tersenyum palsu. Sumpah demi apapun, sejak istrinya hamil Kyo menjadi pribadi yang mudah mengalah. Aneh.
"Yan, bukannya gue mau menggurui ya. Gue minum beginian juga belum pernah, meskipun bisa aja gue ambil punya bokap yang sengaja di simpan di rak khusus. Tapi yang gue takutkan adalah efek dari minum ini, soalnya bisa bikin kita melakukan sesuatu di luar batas kesadaran. Itu yang pernah gue denger dari banyak orang," Randy mencoba menasehati Tian.
Tian hanya menarik kedua sudut bibirnya hingga membentuk sebuah seringai aneh. Jujur saja, Tian amat penasaran, ia hanya akan mencicipi sedikit saja. Terpaksa Tian menganggukkan kepalanya menyetujui ucapan Randy.
Sudah sejam lebih mereka berenam duduk di ruang tamu sambil bercengkerama. Untung saja keluarga Tian sedang berada di rumah saudara karena mempersiapkan pernikahan sepupu Tian. Tian mengambil kesempatan ini untuk merayakan hari kelulusan di rumahnya.
Dering ponsel Flo membuyarkan lamunan bumil muda itu. Segera Flo mengambil ponsel dan menempelkan di telinganya. Flo beranjak dari sofa dan memilih menerima panggilan di teras rumah Tian. Lima menit kemudian, Flo masuk ke dalam rumah dan mendekati sang suami yang sedang menatapnya dengan raut wajah serius.
"Mami sama Mama, mereka nyuruh kita cepat pulang. Mereka mau menginap di rumah kita. Aiko juga disuruh pulang karena mau ada yang diobrolin sama orang tua kita," jelas Flo pada sang suami. Kyo mengangguk paham lalu menatap kedua temannya.
"Tian, Randy, kita berdua pulang duluan ya. Oh iya, Randy tolong antarin Aiko ke rumah gue sekarang, soalnya ditungguin Papi sama Mami disana," titah Kyo seraya mengulurkan tangan menggandeng Flo.
Tak menunggu lama, Randy segera berpamitan pada si tuan rumah dan mengajak Aiko untuk pulang menuju rumah Kyo.
* * *
Bukan Tian namanya jika ia hanya patuh pada suatu perintah bagai kerbau yang dicocok hidungnya. Kali ini lelaki itu mengabaikan nasehat kedua temannya. Ia melupakan bahwa Aurel masih ada di rumahnya.
Tian membawa botol wine yang tadi dibawanya ke depan menuju dapur, ia mengambil sloki kecil dan menuangnya sedikit, sambil mengedarkan pandangan ke kanan dan ke kiri, ia meminum dengan sekali teguk. Rasa manis dan pahit bercampur jadi satu.
"Huweekk, rasanya ternyata kayak gini. Tapi lama - lama kok enak ya, cobain dikit lagi ah..." senyum Tian mengembang, namun tak berlangsung lama, kepalanya terasa berat dan pandangannya bergoyang - goyang.
__ADS_1
Tian menyangga tubuhnya sendiri yang semakin oleng kehilangan keseimbangan.
"Aurel sayang, gempa ya? Awas - awas sini, deket sama aku. Kalau kejatuhan lemari yang ada di atas kita bisa penyok, auuhhh sakit nanti..." racau Tian. Aurel yang mendengar teriakan tak jelas dari Tian segera berlari menuju dapur. Pandangan Aurel tepat tertuju pada gelas kecil yang masih menampung sedikit cairan memabukkan di dalamnya.
"Astaga, Tiaaaaannnn!!" pekik Aurel sambil melipat kedua tangannya dengan raut wajah kesal melihat sang kekasih tengah oleng.
"Sayang kamu kok cantik banget sih tapi kok ada banyak, kamu pakai jurus seribu bayangannya naruto ya , hahaha, kamu nggak nyesel kan jadi pacar aku? Aku ganteng loh, huweeekk..." Tian semakin meracau dan akhirnya ia menumpahkan cairan dari mulutnya.
"Tiaaaannn...." teriak Aurel sambil menutup hidungnya karena tak sengaja mencium bau yang menyeruak masuk ke dalam indera penciumannya.
* * *
Flo sudah sampai di rumah, di belakangnya sudah disusul Randy yang tengah menghentikan motornya tepat di depan pintu gerbang. Aiko masuk ke dalam rumah setelah berpamitan dengan Randy.
Di dalam ruang tamu, kedua orang tua masing - masing ditambah dengan Gerald sudah menunggu disana. Aiko, Flo dan Kyo mendengarkan pembicaraan dua keluarga yang tengah serius berkumpul.
"Minggu depan Gerald tunangan," ucap Papa dan disetujui oleh Mama.
Gerald menatap malu - malu pada adik - adiknya.
"Kok dadakan sih, Mah?" tanya Flo pada ibunya.
"Kemarin ada yang bersujud di lantai memohon sama Mama untuk melamar Ayudia, katanya takut diembat orang kalau nggak langsung dilamar," jelas Mama.
"Apaaaaa??" pekik Flo, Kyo dan Aiko bersamaan, Gerald melongo dan penasaran kenapa ketiga adiknya terkejut seperti itu.
"Ekspresi kalian biasa aja bisa nggak sih?" gerutu Gerald sambil mengerucutkan bibirnya.
"Lah bilang aja udah ngebet pengen kawin, Bang!" celetuk Kyo.
"Eh, bener banget, oopss, bukan, bukan, takut diambil orang!" kilah Gerald.
Kyo dan Flo saling melirik satu sama lain. Aiko tersenyum sinis pada Gerald. Gerald mati kutu.
__ADS_1
Kok pada gini sih ekspresi mereka? Pada nggak seneng apa kalau aku bahagia? Adik - adik yang jahat!
* * *